2019, Momen Kembali pada Persatuan Hakiki

Opini194 views

Oleh: Sartinah (Pemerhati Muslimah dan Umat)

Tahun 2018 baru saja berlalu dan meninggalkan berbagai isu krusial, baik dalam dimensi sosial, ekonomi maupun politik. Ribuan peristiwa yang sedih dan pilu menghiasi wajah negeri ini nyaris di sepanjang tahun. Musibah dan bencana sambung-menyambung seakan enggan beranjak dari bumi pertiwi. Kedzaliman demi kedzaliman, kedurhakaan demi kedurhakaan, kian telanjang di depan mata, hingga mengundang peringatan dari Allah SWT.

Musibah dan bencana di satu sisi adalah qadha dari Allah, yang mana manusia tidak mampu menolak terhadap datangnya musibah. Namun pada sisi yang lain, kerusakan-kerusakan di muka bumi yang disebabkan tangan-tangan kotor manusia yang piawai membuat kerusakan, bisa menjadi sebab datangnya musibah, hingga Allah SWT memberi teguran lewat musibah dan bencana. Bumi pertiwi pun masih berduka sepanjang Tahun 2018, dengan dihujani bencana bertubi-tubi.

Dalam dimensi sosial, berbagai bencana melanda di sepanjang tahun 2018, seperti gempa bumi, tsunami yang merenggut banyak nyawa, kecelakaan transpotrasi udara, dan sebagainya. Gempa bumi 6,9 SR mengguncang Lombok, yang didahului kekuatan 6,4 SR pada akhir Juli yang menewaskan 468 korban jiwa. (Terkini.id)

Belum hilang kesedihan atas gempa Lombok, duka kembali datang menyapa. Gempa 7,7 SR dan tsunami setinggi 1,5-3 meter kembali mengguncang Donggala, Palu pada akhir September, yang menyebabkan lebih dari 330 ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Namun, musibah tampaknya masih enggan beranjak dari negeri ini. Rob dan tsunami kembali menerjang Banten dan Lampung di penghujung tahun  2018, yakni pada tanggal 22 Desember. Dalam musibah ini, sebanyak 222 orang meninggal, 843 orang luka, dan 28 orang dinyatakan hilang. Tsunami pun telah mengakibatkan 558 unit rumah rusak, 9 hotel rusak berat, 60 warung kuliner dan 350 perahu rusak, (BNPB, 23/11).

BNPB mencatat sepanjang 2018, jumlah bencana  per 30 Desember 2018 mencapai 2.564 bencana, dan menyebabkan 3.349 orang meninggal, sebanyak 1.432 hilang, 21.064 luka-luka, 10,2 juta orang mengungsi dan terdampak, dan 319.527 unit rumah rusak, (cnbcindonesia.com, 31/12/2018).

Isu ekonomi pun mengundang banyak perhatian di sepanjang 2018, diantaranya divestasi PT Preeport Indonesia (PTFI). Selain dimensi sosial dan ekonomi, tahun 2018 memunculkan banyak isu dalam dimensi politik, diantaranya isu pilpres yang kian memanas, membludaknya tenaga kerja asing (TKA), kelompok kriminal bersenjata (KKB), penanganan bencana, dan menguatnya Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM).

Namun, di samping semua kejadian pilu tersebut, tahun 2018 juga menjadi tahun kesedihan bagi umat Islam. Bagaimana tidak, Islam dan kaum muslim seperti sasaran empuk untuk dijadikan santapan musuh-musuh Islam, dan menjadi umat yang paling banyak jadi korban ketidakadilan. Kita bisa saksikan bagaimana ide khilafah di monsterisasi agar dijauhkan dari pikiran umat, ulama-ulama di kriminalisasi, bendera tauhid dinistakan, syariat Islam tentang poligami  digugat, dan sederet peristiwa memilukan lainnya.

Kesedihan kaum muslim pun semakin mendalam, ketika lisan-lisan kritis ulama  yang menyeruak di tengah-tengah ketidakadilan dan kesewenang-wenangan di bungkam, hingga mereka pada akhirnya menjadi korban kriminalisasi. Kemudian yang juga menarik perhatian publik dan menuai banyak pro dan kontra adalah pembubaran ormas HTI secara sepihak oleh penguasa tanpa melalui proses pengadilan.

Tak jauh berbeda dengan kondisi kaum muslim di dalam negeri, di mancanegara pun kondisi kaum muslim sangat memprihatinkan. Penyiksaan dan pembunuhan senantiasa mengintai jiwa-jiwa kaum muslim, yang entah sampai kapan akan berakhir. Mereka hidup di bawah ancaman Imperealisme negara-negara kafir. Lihatlah bagaimana zionis Yahudi yang terus saja membombardir negeri Palestina dan membunuhi kaum muslim yang tidak berdosa. Bumi Turkistan  Timur juga tak kalah memilukan, dimana kaum muslim terus menghadapi kekejaman rezim Cina komunis yang memaksakan ide-ide komunis atas kaum muslim, mencuci otak mereka  agar Islam hilang dalam ingatan umat Islam, serta tindakan keji lainnya.

Umat Islam kini seperti buih di lautan, banyak dalam kuantitas namun tak memiliki kekuatan sedikit pun untuk membela diri. Terlebih penguasa-penguasa negeri muslim yang hanya pandai beretorika tanpa melakukan tindakan nyata, semakin membuat trenyuh. Hal ini kian membuktikan lemahnya negeri-negeri muslim di bawah tekanan hegemoni asing.

Apakah kezaliman dan kedurhakaan tetap akan dipelihara, hingga mengundang berbagai peringatan dari Allah SWT? Lihatlah musibah dan bencana yang terus menghujani negeri ini, mulai gempa bumi,  tsunami, tanah longsor, kecelakaan transportasi, dan sebagainya. Belumkah cukup menjadi peringatan bagi manusia untuk kembali pada fitrah sesungguhnya sebagai hamba Allah yang harus tunduk dan taat pada aturannya? Karena dengan ketaatan akan mendatangkan keridhaan Allah SWT.

2019 seharusnya menjadi awal perubahan bagi kaum muslim, yang akan mengantarkan negeri ini pada kebaikan dan keberkahan yang nyata. Awal tahun yang baru, haruslah dijadikan tonggak awal bangkitnya umat untuk bersama-sama mewujudkan perubahan hakiki, dengan kembali pada Islam dan seluruh syariatnya, serta menerapkannya dalam seluruh ranah kehidupan.

Hidup di alam sekuler demokrasi layaknya bukan hidup dalam habitat manusia. Bagaimana tidak, sistem sekuler meletakkan hak membuat hukum pada kelemahan akal manusia, yang menjadi sebab terpuruknya  kondisi kaum muslim dalam segala bidang. Sistem ini pula, yang menjadikan nyawa kaum muslim yang mulia seolah tidak berharga, hingga kita bisa saksikan bagaimana ratusan, ribuan, bahkan jutaan nyawa umat Islam harus melayang sia-sia.

Melihat kondisi yang demikian miris, semakin menegaskan bahwa umat butuh kekuatan politik yang akan membebaskan mereka dari berbagai kezaliman yang tak kunjung usai. Sebuah institusi yang akan menjadi pelindung hak-hak umat atas hidup, harta dan jiwa mereka. Kekuatan politik yang hanya ada dalam sistem Islam, yakni Khilafah Rasyidah. Sebab telah terbukti sepanjang sejarahnya selama kurang lebih  14 abad, khilafah telah menjadi perisai umat dari berbagai tindakan keji dan kezaliman, yang sangat bertolak belakang dengan kondisi hari ini.

Saatnya umat mencampakkan sistem sekuler demokrasi yang menjadi sebab-musabab terjadinya kezaliman terhadap manusia, khususnya kaum muslim di seluruh dunia. Kemudian saling bahu-membahu dan lebih giat dalam berjuang mewujudkan perubahan hakiki. Dan perubahan ini pula yang akan mengantarkan pada kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, yang dijamin akan mengundang kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bish showwab.

Komentar