Akreditasi Sekolah, Butuh Negara Sebagai Ri’ayah

oleh -47 views

Oleh: Fitriana Abdul Azis (Aktivis Back to Muslim Identity Kolaka)

Ranah pendidikan di Indonesia belum cukup bermutu, ini dibuktikan dengan adanya sejumlah sekolah di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang belum terakreditasi.

Seperti dilansir dalam Kendaripos.co.id – Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) Sultra mencatatkan sebanyak 265 sekolah di bumi anoa belum terakreditasi. Angka tersebut tersebar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK.

“Jumlahnya cukup tinggi. Inilah yang potret buruk pendidikan kita, yang membuat Sultra masih berada diposisi ketiga terbawah di sultra,” ungkap kepala BAN S/M Sultra, Prof. Dr. H. Anwar Hafid, Selasa (19/3).

Banyaknya sekolah yang belum terakreditasi disinyalir disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya Kepala Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M), Prof. Dr. H. Anwar Hafid, mengungkapkan ada 2 faktor yang menyebabkan sekolah-sekolah di Sultra tidak terakreditasi. Yakni persoalan ketersediaan  sarana dan prasarana sekolah serta keadaan guru.

Dijelaskan juga bahwa kedua faktor itu merupakan 8 standar akreditasi yang harus dipenuhi oleh pihak sekolah. “Biar standar lain pointnya tinggi, kalau sarana dan prasarana serta guru nilainya berada di bawah 60 poin, maka sekolah itu tetap tidak terakreditasi,” ungkap Prof Anwar.

Kapitalisme, Akar Masalah

Jika diamati lebih jauh maka dasar dari penyebab pendidikan di Indonesia kurang bermutu karena adanya sistem kapitalisme. Dalam sistem kapitalisme, penindasan tidak hanya terjadi pada kekuasaan politik saja tetapi juga terjadi dalam berbagai bidang salah satunya dalam dunia pendidikan. Kapitalisme pendidikan dapat terjadi apabila prinsip kapitalisme digunakan dalam sektor pendidikan.

Hal ini terbukti dengan banyaknya sekolah-sekolah yang belum terakreditasi, karena syarat sebuah sekolah dalam kapitalisme itu harus terakreditasi, terdaftar, dan diakui. Kapitalisme pendidikan telah melahirkan mental yang jauh dari cita-cita pendidikan. Dengan hal itu, sekolah saat ini tidak mengembangkan semangat belajar yang sebenarnya. Sekolah tidak menanamkan kecintaan pada ilmu atau mengajarkan keadilan, anti korupsi, atau anti penindasan. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah di paket demi memperoleh sertifikat selembar bukti untuk mendapatkan legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia.

Tidak hanya itu, dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya kapitalisme pendidikan ialah mahalnya biaya pendidikan tersebut yang mengakibatkan semakin jauhnya layanan pendidikan yang bermutu dari jangkauan masyarakat kelas bawah. Dampaknya akan menciptakan kelas-kelas sosial dan ketidakadilan sosial. Sehingga banyak anak-anak yang gagal dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dikarenakan pendidikan yang berkualitas hanya bisa dinikmati oleh sekelompok masyarakat yang berpendapatan menengah atas.

Kurangnya perhatian pemerintah daerah (Pemda) dalam menangani sarana dan prasarana pendidikan serta keadaan guru, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya sekolah-sekolah yang jumlah ketenagakerjaan pendidiknya sangat kurang, sehingga membuat guru terkadang memegang 3 sampai 4 mata pelajaran. Inilah potret singkat rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Islam Solusi Tuntas

Islam memandang bahwa pendidikan sangatlah penting dan merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang sehingga mengharuskan kita untuk senantiasa untuk belajar. Pendidikan adalah proses belajar seseorang dalam memperoleh ilmu, dengan ilmu tersebut dapat merubah pemikiran, perilaku, karakter bahkan peradaban manusia. Perubahan peradaban manusia terbukti ketika islam berada pada puncak kejayaan ditandai dengan adanya perpustakaan dan banyak penemuan-penemuan dalam berbagai bidang.

Berbagai problematika yang terjadi saat ini, maka kita butuh solusi yang tuntas dan sistemik, karena permasalahan yang terjadi bukan hanya pada permasalahan individu tetapi juga karena permasalahan sistem. Tentu saja kita tidak bisa berharap solusi dari sistem kapitalisme sekuler, karena telah nyata cacat dan gagalnya. Satu-satunya harapan dan kunci dari segala persoalan ini adalah dengan mencampakkan sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem yang terbukti memberikan kebaikan. Itulah sistem Islam.

Islam memandang bahwa pendidikan, politik, ekonomi, dan kehidupan tidak bisa dipisahkan dari peran agama. Islam tidak mengakui sistem kapitalisme. Islam mempunyai seperangkat aturan yang jelas untuk diterapkan dan terbukti mampu membawa peradaban unggul. Para ilmuwan di jaman islam, mereka ahli agama juga sekaligus seorang saintis bahkan hari ini karya-karyanya masih dirasakan. Mereka adalah Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Jabir Ibn Hayyan, dan masih banyak lagi. Hal tersebut terbukti selama 13 abad mampu menjamin kesejahteraan guru dan murid. Inilah islam, ketika diterapkan secara kaffah maka rahmatnya akan dirasakan oleh seluruh makhluk.

Inilah sistem yang berasal dari alqur’an dan as-sunnah, dari sang maha benar, Allah SWT. Sistem yang mampu mencetak generasi, pakar dalam bidangnya namun juga tidak kalah dalam urusan agama, moral dan akhlaknya. Sistem inilah yang akan menjamin kehidupan yang berkah dan sejahtera dalam segala bidang. Masihkan kita percaya sistem selain Islam? padahal telah nyata bahwa selain Islam justru akan membawa bencana. Wallahu a’lam.