Apa Kabar Generasi Saat Ini?

oleh -60 views

Oleh: Fitri Suryani, S. Pd (Guru SMAN di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara)

Tanggal 2 Mei yang biasa diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tentu banyak harapan yang diinginkan dari kondisi pendidikan yang ada saat ini. Acara peringatan Hardiknas pun tak luput diperingati di seluruh penjuru nusantara tak terkecuali di Pemerintah Daerah Konawe yang menggelar upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di lapangan Kantor Bupati Konawe, Kamis (2/5/2019).

Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara selaku pembina upacara, mengatakan bahwa tema Hari Pendidikan Nasional 2019 adalah Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan. Tema ini mencerminkan pesan penting Ki Hajar Dewantara terkait hubungan erat pendidikan dan kebudayaan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sarat nilai dan pengalaman kebudayaan guna membingkai hadirnya sumber daya-sumber daya manusia berkualitas, demi terwujudnya Indonesia berkemajuan (Sultrakini.com, 02/05/2019).

Namun, jika menilik berbagai kondisi remaja saat ini tentu sangat memprihatinkan. Sebagaimana, sebuah video seorang siswa menantang gurunya viral di media sosial. Dengan kurang ajarnya, siswa tersebut memperlakukan gurunya secara tidak layak. Lokasi kelas atau sekolah di video itu dikabarkan berada di Gresik. Kapolsek Wringinanom AKP Supiyan pun membenarkan lokasi di video tersebut berada di Gresik. Tepatnya di SMP PGRI Wringinanom Gresik.

Video berdurasi 54 detik itu memperlihatkan seorang pelajar memegang kepala gurunya. Pelajar itu kemudian mendorong si guru dan mencengkram kerah bajunya. Kemudian si pelajar bertingkah seakan-akan hendak memukul si guru sambil memaki. Bahkan pelajar kurang ajar itu meneruskan kekurang ajarannya dengan merokok di dalam kelas.

Sementara pelajar lain tak bertindak apa-apa. Mereka tak berusaha mencegah temannya yang melakukan tindakan tercela itu. Mereka hanya tertawa saja melihat gurunya diperlakukan sedemikian rupa (Detik.com, 10/02/2019).

Selain itu, tindakan siswa SMA ini terhadap gurunya sungguh tak terpuji. Dalam video yang viral, terdengar pelajar tersebut mengucapkan kata-kata yang tak pantas ke gurunya. Dalam video yang diunggah akun Instagram @dramahaluu, terlihat seorang guru berkemeja biru sedang berbincang dengan seorang siswanya. Saat itulah, seorang siswa yang diduga tengah merekam video mengatakan kata-kata kotor. “Pak, woi kon*ol apa pak? Kalau anj*ng apa pak? Kalau me**k kasar enggak pak,” kata siswa tersebut. Lokasi video tersebut direkam diduga di SMAI Al Azhar Kelapa Gading (Okezone.com, 27/02/2019).

Tak jauh berbeda dengan hal diatas, video delapan siswa, beberapa diantaranya bertelanjang dada mengerubungi guru sambil berjoget dan menyawer viral di media sosial. Aksi tak terpuji siswa menyawer gurunya itu sempat dibagikan akun Instagram @lambe_turah, Jumat (22/3/2019).

Dalam rekaman yang beredar tersebut, tampak siswa mengepung seorang guru wanita di depan kelas. Siswa yang berjoget sambil menyawer sang guru tampak menggoyangkan tangan ke atas sambil memegang beberapa lembar uang, layaknya sedang menyawer sang guru.

Tak hanya itu, mereka juga tampak menyanyikan alunan lagu yang mereka serukan bersama-sama. Beberapa siswa lain tampak memukuli meja sebagai alat musik saat temannya itu sedang berjoget dan asyik bernyanyi di depan sang guru. Diketahui video tersebut direkam di SMP Maha Prajna, Cilincing, Jakarta (Tribunnews.com, 30/03/2019).

Contoh aksi anak didik di atas tentu bukan yang pertama kali, bahkan mungkin bukan yang terakhir pula. Tentu hal itu sangat menyedihkan sekali, mengingat mereka adalah generasi yang akan melanjutkan cita-cita bangsa. Bisa terbayang apa jadinya dunia pendidikan di masa yang akan datang, jika generasi saat ini memiliki perilaku yang amburadul.

Guru selaku tenaga pendidik yang salah satu tugasnya mencerdaskan anak bangsa, tak serta merta dapat disalahkan kurang dalam memberikan pelajaran dan pendidikan. Tentu ini menjadi pertanyaan besar dan tugas berat bagi semua pihak yang terkait dalam proses pendidikan anak.

Tentu ada beberapa pihak yang terkait dalam mewujudkan generasi yang berakhlak mulia. Adapun beberapa pihak yang terkait terhadap proses pendidikan anak diantaranya: Pertama, peran orang tua, dalam hal ini baik ayah atau ibu memiliki andil yang sangat besar dalam memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya. Tidak hanya itu, orang tua juga merupakan teladan terdekat yang dapat dijadikan contoh bagi anak-anaknya kelak. Maka dari itu orang tua mesti dapat dijadikan tempat bagi anak mendapatkan pelajaran dan contoh yang baik. Semua itu tidak lepas dari ilmu yang dimilki oleh orang tua itu sendiri, baik ilmu sains dan teknologi maupun ilmu agama.

Kedua, peran masyarakat yang menjadi pendukung kedua setelah orang tua dari adanya pendidikan yang diperoleh anak. Peran masyarakat memiliki andil yang besar pula, karena sebaik apapun orang tua dalam mendidik anaknya jika kurang didukung peran dari masyarakat, maka hal itu akan mengalami kepincangan. Olehnya itu, sangat penting adanya budaya saling menasihati dalam kebaikan antara individu satu dengan yang lain.

Ketiga, peran pemerintah juga tak kalah penting dalam proses pendidikan anak. Tanpa dukungan dari pemerintah atau negara sulit untuk mencetak generasi-generasi yang sesuai dengan tujuan dan cita-cita suatu bangsa. Misalnya dalam hal pengendalian tayangan-tanyangan atau situs-situs yang tidak memberikan manfaat. Tak kalah penting pula untuk tidak memberikan izin tontonan atau situs yang justru dapat merusak moral bahkan akidah umat, tak terkecuali anak bangsa.

Lebih dari itu, sistem sekuler (pemisahan peran agama dari kehidupan) yang banyak menjangkiti masyarakat, begitu pun generasi muda saat ini, sudah semakin memprihatinkan. Kalau sudah begini Output pendidikan yang bermutu sulit diharapkan bisa menjadi arsitek peradaban cemerlang di masa depan.

Di samping itu, Hardiknas seyogianya tidak hanya menjadi seremoni tahunan belaka dengan banyak teori, namun minim aplikasi. Meski pendidikan dan budaya adalah hal penting, tak kalah pentingnya adalah adab. Karena itu pemerintah harus bekerja lebih ekstra bagaimana mewujudkan pendidikan berilmu, berbudaya dan beradab.

Padahal, guru merupakan seorang yang memiliki jasa sangat besar dalam proses penyebaran ilmu, tak tekecuali ilmu agama. Maka dari itu sangat penting bagi seorang murid untuk bersikap yang baik kepada yang telah mengajarkannya ilmu. Sebagaimana yang disampaikan DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula,  hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Itu semua contoh dari dampak buruk.”

Begitu besarnya jasa seorang guru, maka sudah sepatutnya seorang murid untuk menghormati gurunya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan, “ Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian.”

Selain itu ada beberapa adab yang mesti diperhatikan oleh seorang murid ketika berada didepan gurunya: Pertama, adab duduk. Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan mendengarkannya.”

Kedua, adab berbicara. Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Di hadis Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan, “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ketiga, adab bertanya. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan  harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga  tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

Keempat, adab dalam mendengarkan pelajaran. Sebagaimana di riwayatkan bahwasanya Yahya bin Yahya Al Laitsi tak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, Yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis adalah mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.
Dengan demikian, tidak mudah mewujudkan anak didik yang memiliki adab yang baik kepada gurunya jika pendidikan anak hanya disandarkan kepada guru semata. Karena itu penting adanya sinergi peran orang tua, masyarakat dan negara dalam mewujudkan generasi yang tak hanya cerdas secara  sains dan teknologi, tetapi juga ketakwaan kepada-Nya. Olehnya itu, anak didik yang ideal tidak akan sulit ditemui jika aturan yang ada senantiasa disandarkan pada-Nya. Karena sesungguhnya Dia yang menciptakan hamba, maka Dia pula yang tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.