Arabika dalam Angka

oleh -156 views

Oleh: Dyah Tari Nuraini, SST. (Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara)

Sampai saat ini, Indonesia masih dikenal sebagai negara agraris. Subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di Indonesia masih memegang peranan penting dalam kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun selama lima tahun terakhir ini, 2014 hingga tahun 2018, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia selalu mengalami penurunan. Tercatat pada tahun 2014 kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia mencapai 10,31% dan selalu mengalami penurunan pada tiap tahunnya hingga pada tahun 2018 mencapai 9,55% terhadap PDB Indonesia.

Tanaman perkebunan merupakan kontributor utama di subsektor ini, selain tanaman pangan. Hal itu dibuktikan dengan kontribusinya terhadap total PDB Indonesia yang mencapai 3,77% pada tahun 2014. Namun pada tiap tahunnya juga mengalami penurunan hingga tahun 2018 hanya mencapai 3,30% saja terhadap total PDB Indonesia. Tanaman perkebunan di Indonesia dikenal sangat banyak variasinya dan memiliki manfaat yang berbeda, sehingga memiliki nilai jual yang berbeda pula pada tiap komoditasnya. Sehingga, tidak heran jika kontribusinya terhadap PDB di Indonesia bisa mengalahkan tanaman pangan.

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang dimiliki Indonesia. Tanaman kopi digolongkan ke dalam genus Coffea keluarga Rubiaceae. Genus Coffea memiliki lebih dari 100 anggota spesies. Dari jumlah tersebut hanya tiga spesies yang dibudidayakan untuk tujuan komersial, yakni Coffea arabica, Coffea canephora, dan Coffea liberica. Pada umumnya tanaman kopi hanya dimanfaatkan bijinya untuk diekstrak sebagai minuman. Namun di beberapa tempat ada juga yang mengkonsumsi daunnya dengan cara diseduh seperti daun teh. Pemanfaatan kayu pohon kopi sebagai bahan konstruksi dan mebel jarang dilaporkan. Sebagian besar biji kopi yang diperdagangkan secara global dihasilkan dari tanaman Coffea arabica dan Coffea canephora dengan nama popular kopi arabika dan kopi robusta. Sisanya dalam jumlah yang tidak signifikan merupakan jenis Coffea liberica yang diperdagangkan dengan nama kopi liberika dan kopi excelsa.

Tantangan dan Solusi Arabika

Hasil produksi kopi di Indonesia terdapat dua jenis, yaitu kopi robusta dan kopi arabika. Namun kopi arabika nampaknya masih belum menjadi produksi utama di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2001 produksi kopi arabika di Indonesia mencapai 23.071 ton, sedangkan produksi kopi robusta mencapai 569.120 ton. Terlihat perbedaan produksi yang sangat jauh, dimana produksi kopi arabika pada tahun 2001 hanya mencapai 3,89% saja dari total produksi kopi nasional. Namun, seiring dengan berjalannya tahun, produksi kopi arabika selalu menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2016, produksi kopi arabika di Indonesia berhasil menyentuh angka 175.322 ton, angka tersebut sama halnya produksi kopi arabika telah meningkat lebih dari tujuh kali lipat dari tahun 2001. 

Dengan peningkatan produksi yang cukup pesat tersebut, tentu kopi arabika membutuhkan pasar untuk menyerap hasil produksinya. Apalagi didukung dengan produksi kopi robusta yang terbilang stagnan. Dimana pada tahun 2016 produksi kopi robusta di Indonesia hanya mencapai 492.333 ton atau menurun jika dibandingkan dengan produksi pada tahun 2001. Hal yang demikian tentu saja tidak diharapkan terjadi pada produksi kopi arabika. Oleh karena itu, para pemerintah harus membantu para petani kopi arabika dalam penyerapan produksi. Pasar ekspor masih menjadi solusi pertama guna menyerap produksi kopi di Indonesia. United States Department of Agriculture mencatat bahwa Indonesia menempati posisi keempat negara eksportir kopi terbesar di dunia, dengan rata-rata selama tahun 2011 hingga tahun 2015 mencapai 471.240 ton.

Optimalisasi daerah produsen kopi arabika terbesar juga layak diperhitungkan untuk dilaksanakan. Daerah produsen kopi arabika di Indonesia tersebut tentu memiliki kesempatan lebih untuk membuat uji coba mengembangkan industri kopi arabika. Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini banyak sekali terbuka tempat nongkrong ataupun kumpul-kumpul yang menu utamanya adalah beraneka macam kopi. Adapun lima provinsi tertinggi produsen kopi arabika selama tahun 2012 hingga 2016 adalah Sumatera Utara dengan rata-rata produksi 49.546 ton, Aceh dengan rata-rata produksi 44.540 ton, Sulawesi Selatan dengan rata-rata produksi 20.309 ton, Sumatera Barat dengan rata-rata produksi 15.315 ton, dan Nusa Tenggara Timur dengan rata-rata produksi 6.923 ton. 

Menteri Perindustrian berucap bahwa dengan didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia, kinerja industri pengolahan kopi di dalam negeri mengalami peningkatan yang signifikan. Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat rata-rata 7,5% per tahun. Ekspor produk kopi olahan pada tahun 2011 yang mencapai lebih dari US$ 268,6 juta meningkat menjadi lebih US$ 315,6 juta pada tahun 2012 atau meningkat lebih dari 17,49%. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Mesir, Afrika Selatan, Taiwan dan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina dan Singapura.

Berbeda dengan ekspor yang meningkat, impor produk kopi olahan turun sangat signifikan. Impor kopi olahan yang mencapai lebih dari US$ 78 juta pada tahun 2011 turun menjadi US$ 63,2 juta pada tahun 2012 atau turun 19,01%. Impor terbesar dialami produk kopi instan dan disinyalir kopi instan yang diimpor adalah produk yang bermutu rendah. Untuk itu, perlunya untuk melakukan revisi Standar Nasional Indonesia (SNI) Kopi Instan guna mendongkrak kualitas kopi yang diimpor di Indonesia. Selain itu, melakukan diversifikasi produk juga perlu dilakukan oleh para pelaku industri kopi, utamanya kopi arabika. Selain sebagai minuman, kopi arabika juga bisa dikembangkan dalam berbagai jenis seperti produk perawatan kecantikan (lulur), farmasi, essen makanan dan promosi sesuai dengan permintaan masyarakat konsumen Indonesia terutama dalam teknologi proses dan desain kemasan produk. Dengan begitu, konsumsi kopi di Indonesia juga bisa meningkat, dan pada akhirnya produksi kopi arabika juga bisa terserap oleh industri dalam negeri.