Banjir Sentani Duka Mendalam Bagi Papua

Opini211 views

Oleh: Sri Anggriani Madanua (Mahasiswi UHO)

Papua merupakan salah satu pulau besar yang berada di bagian Indonesia Timur, ini juga menjadi alasan dinobatkannya Papua sebagai pulau besar yang kedua setelah Greenland yang bertempat di Samudra Atlantik bagian utara arah timur laut Kanada. Papua dikenal dengan nama Irian Jaya dan akhirnya berubah dengan nama Papua seperti yang saat ini kita kenal karena adanya persetujuan oleh Presiden RI yang ke empat Bapak KH. Abdurahman Wahid yang setuju dengan pergantian Irian Jaya menjadi Papua.

Papua mulai dikenal akhir-akhir ini, mengingat sumber dayanya yang melimpah ruah menjadikannya dilirik oleh insvestor asing. Salah satu sumber daya alam yang dimiliki Papua adalah minyak bumi dan tembaga. Dilansir dari ccnindonesia, hasil kajian Forest Watch Indonesia dalam tujuh tahun terakhir di tahun 2009 hingga tahun 2016 deforestasi di tanah Papua mencapai 170,4 ribu hektar. Kerusakan alam yang terjadi berasal dari insvestasi pertambangan, perkebunan, serta eksploitasi potensi hutan lainnya secara besar-besaran (cnnindonesia, 09/10/2018).

Kasus Freeport adalah salah satu dari sekian eksploitasi yang dilakukan ditanah Indonesia secara legal yang berdiri selama 51 tahun, dampak yang paling dirasakan adalah warga Papua serta lingkungan mereka, limbah  yang dihasilkan oleh Freeport menjadikan sungai sebagai pembuangan limbah beracun, merkuri, dan sianida.

Tidak hanya mencemari sungai Freeport seakan menutup mata dan telinga dengan tidak mengindahkan pajak pemanfaatan air sungai dan air permukaan yang tidak pernah dibayar Freeport ditahun 1991-2013. (Mongbay, 30/08/2017).

Untuk kesekian kalinya warga Papua dipaksa menelan kekecewaan, Danau Sentani merupakan salah satu danau yang bergerak di bidang pariwisata meluap dan merendamkan 25 kampung.

Sentani: Kurangnya Perhatian Pemerintah

Meluapnya danau Sentani yang menelan ribuan korban dan kerusakan parah pada rumah warga serta fasilitas umum disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan rusaknya ekosistem di Gunung Cycloop, dan kerusakan hutan berlangsung sejak lama.

Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB mengemukakan “Dan kalau kita melihat yang ada di Gunung Cyloop banyak kerusakan karena pembabatanhutan.”

Daerah pegunungan yang seharusnya menjadi hutan sebagai daerah resapan dan penahan longsor disulap menjadi ladang dan kebun, alhasil saat hujan deras longsor tidak bisa terhindarkan (detiknews, 17/030/2019).

Banjir Bandang tersebut menyebabkan 9.691 jiwa harus mengungsi selain itu tercatat 103 orang meninggal dan ratusan orang luka-luka serta 93 orang dilaporkan hilang. Saat ini tercatat 35 kantong jenazah belum terindetifikasi di RS Bhayangkara. (Pos-Kupang.com, 21/03/2019).

Infrastruktur yang dibangun tanpa memperhatikan keseimbangan alam, kurangnya perhatian dan kesadaran pemerintah dalam menjaga sumber daya alam serta tidak ada tindak pidana yang tegas bagi mereka yang terus-terusan melakukan eksploitasi menyisakan duka mendalam bagi warga papua atas bencana ini.

Islam: Melindungi Alam

Islam tidak hanya dimaknai sebagai agama ritual saja tetapi juga hadir dalam memberikan jawaban atas setiap problematika yang ada.

Allah sudah mengingatkan di dalam AlQur’an  Surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Rasulullah SAW, bahkan menganjurkan umat manusia untuk menghidupkan lahan mati dengan menanami pohon “Tidaklah seorang muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah.”

Di dalam hadis lain dikatakan, “Barang siapa yang menghidupkan lahan mati, baginya pahala. Dan semua yang dimakan burung dan binatang menjadi sedekah baginya.” (HR An-Nasai, Ibnu Hibban dan Ahmad).

Dalam pandangan Islam kekayaaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh negara dan hasil dari kepemilikan umum digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Tidak diperbolehkan menyerahkan kepemilikan umum kepada individu, swasta, apalagi asing.

Ini merujuk pada sabda Rasulullah “kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput, dan api. (HR Ibnu Majah). Ini menjadi dasar bahwa pengelolaan sumber daya alam  hanya dapat dikelola oleh negara dan hasilnya dimanfaatkan oleh umat.

Termasuk dalam hal mengatur pembuangan tambang, Islam telah mengingatkan disalah satu Surah Al-A’raf “dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya” Qs.Al-A’raf ayat 56. Menandakan bahwa pemerintah sebagai pelayan masyarakat berkewajiban untuk mengelola pembuangan tambang dengan ramah lingkungan,  serta tidak mencemari lingkungan sekitar dan mengajak lapisan masyarakat bersama-sama untuk menjaga Alam sebagai bentuk amanah kepada Allah SWT.

Pengelolaan alam dan penjagaan alam akan lebih mudah  tatkala Islam diterapkan secara menyeluruh dan disegala aspek lini kehidupan.

Wallahua’allam.

Komentar