HomeKhazanahBelajar Taat Melalui Puasa Di Bulan Suci Ramadhan

Belajar Taat Melalui Puasa Di Bulan Suci Ramadhan

Khazanah

KHAZANAH, PORTALSULTRA.COM – Berlapar-lapar dan berhaus-haus di siang hari selama sebulan. Ya sebulan, tetapi bukan sembarang bulan, hanya di bulan Ramadhan (saja). Mengapa harus sebulan dan harus di bulan Ramadhan? Perintahnya memang begitu: sebulan dan di bulan Ramadhan. Allah yang menyuruh kita berbuat begitu dan itu hanya ditujukan kepada yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang tidak beriman, tak disuruh berpuasa.

Allah memerintahkan begini, kita begini. Allah memerintahkan begitu, kita begitu. Allah menyuruh, kita laksanakan. Allah melarang, kita jauhi. Kita cuma dengar dan kita taat akan titah-Nya. Demikianlah, selama sebulan kita “manut” apa pun firman-Nya. Terus begitu selama sebulan, sehingga akan tumbuh kebiasaan “baru” berupa kedisiplinan dalam ketaatan menjalankan perintah dan kedisiplinan dalam menjauhi larangan-Nya. Inilah hakikat taqwa: disiplin menjalankan perintah dan disiplin menjauhi larangan.

Jangan sangka membiasakan taat itu mudah. Membiasakan taat relatif sulit, karena di dalam diri kita ada nafsu. Nafsu bekerja membalikkan perintah menjadi larangan dan sebaliknya mengubah larangan menjadi perintah. Jika nafsu berkolaborasi dengan setan, maka tingkat kesulitan taat menjadi berkali lipat. Dari sini kita jadi mengerti, mengapa setiap Ramadhan kita diwajibkan berpuasa. Itu tidak lain, kecuali melatih dan membiasakan diri taat, mulai hati, lidah, bibir, mulut, tangan, kaki, kemaluan, sampai gerak hati, semua dilatih dan dididik untuk hidup taat. Dilatih selama sebulan di bulan Ramadhan.

Berpuasa itu melatih hati untuk disiplin dalam berniat, setidaknya sebelum fajar niat sudah harus ada. Berpuasa juga melatih tangan, kaki, lidah, mulut agar bergerak dan bertindak sesuai fungsinya dengan benar. Dengan begitu, “kebiasaan” taat akan menjadi “tradisi” harian yang berumber dari niat yang benar. Lama-kelamaan, semua yang ada pada diri kita akan terbiasa berjalan sesuai koridornya dan bertindak sesuai SOP-nya. Jika sudah begitu, maka tidak akan ada lagi niat korupsi, karena Allah melarangnya. Tidak akan berani berdusta, karena Allah mengharamkannya. Tidak akan nekad menerobos aturan, karena Allah mengawasinya.

Demikianlah! Puasa merupakan sarana pelatihan dan pengendalian diri yang diharapkan dapat terbentuk kebiasaan berdisiplin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Itulah taqwa. “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan pula atas orang-orang sebelummu, moga-moga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Oleh: Dr. Amirudin Rahim, M.Hum