BOHONG, PEMBOHONG, DAN PENYEBAR BERITA BOHONG

oleh -0 views
BOHONG, PEMBOHONG, DAN PENYEBAR BERITA BOHONG
Foto : Dr. Amirudin Rahim, M.Hum

Bohong tumbuh dari bibit kecil.

Istilahnya bohong kecil-kecilan.

Kalau dipelihara dan dipupuk dengan tipu-tipu, maka bohong akan membesar dan terus berkembang besar menjadi monster.

Sampai pada titik ini, si pembohong sibuk menutupi kebohongan terdahulu dengan kebohongan baru.

Lalu, pembohong akan menemukan taktik dan teknik berbohong yg lebih canggih yang disebut seni berbohong.

Seni berbohong membawa pelakunya kepada situasi jiwa, di mana ia akan menikmati dan menghayati setiap kebohongannya dan pada gilirannya si pembohong akan menganggap kebohongannya sebagai hal biasa.

Tidak ada yang salah dan tidak ada yg perlu disalahkan.

Akhirnya seni berbohong bertransformasi menjadi strategi.

Parahnya, strategi berbohong yang dijalankannya dipandang sebagai cara efektif mencapai tujuannya.

Para pembohong sangat benci dengan kejujuran dan orang-orang jujur.

Orang jujur dianggap sebagai musuh yang bakal membongkar kebusukan mereka.

Orang-orang jujur dipandang membahayakan strategi mereka, sehingga kejujuran mereka musuhi dengan berbagai cara.

Inilah yang menjadi latar terjadinya permusuhan antara pembohong dengan orang jujur.

Para pembohong memiliki sensivitas perasaan yg sangat peka.

Setiap ucapan yg dikemukakan oleh orang jujur, mereka pahami sebagai serangan yang ditujukan kepada para pembohong.

Itulah sebabnya, para pembohong bertindak melakukan strategi pembungkaman, yakni membungkam orang-orang jujur dengan berbagai cara, mulai dari menjilat, memberi hadiah (baca: sogok), sampai tindakan represif berupa penangkapan, penghilangan, atau pembunuhan orang-orang jujur.

Para pembohong membuat dan menyebarkan berita sesuai versi kebohongannya.

Sebaliknya, orang jujur membuat dan menyebarkan berita sesuai versi kejujurannya.

Bagi para pembohong, berita jujur adalah hoax. Sebaliknya, bagi orang jujur, berita bohong adalah hoax.

Era teknologi informasi yg sedemikian canggih memungkinkan semua berita dengan semua versinya tersebar dengan sangat cepatnya, bahkan bergulung-gulung menjadi berita viral.

Semua berita yang tersebar melalui media (medsos, misalnya) membutuhkan penyikapan yg tepat agar tidak terbawa arus keburukan.

“Hai orang-orang beriman, bila datang kepadamu orang fasiq membawa berita, maka ‘tabayyunlah’ (cek kebenarannya)….(q.s. Al-Hujurat: 6).

Meminjam jargon KPK:

#Berani Jujur, Hebat!

Oleh : Dr. Amirudin Rahim, M.Hum

Editor : Albar Aryfhin

Sebar Ke >>>