Dibalik Penurunan Harga BBM Jelang Pilpres

oleh -19 views

Oleh: Dewi Tisnawati, S.Sos.I (Pemerhati Sosial)

Harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax Cs turun, Sabtu (5/1/2019). Penurunan harga Pertamax Cs tersebut bervariatif. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai Pertamina lamban menyikapi harga minyak dunia. Menurutnya, Pertamina bisa menurunkan harga Pertamax Cs sejak dulu.

Merujuk Peraturan Menteri ESDM 40/2018, satu-satunya BBM yang disubsidi pemerintah adalah solar, yakni Rp2.000 per liter. BBM jenis premium tak lagi disubsidi pemerintah, melainkan menjadi tanggungan Pertamina. Perusahaan minyak negara itu harus membayar selisih harga perekonomian dan harga jual.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, seharusnya harga BBM nonsubsidi tersebut turun saat November atau Desember tahun lalu. Adapun saat ini patokan harga minyak mentah seperti Brent atau West Texas Intermediate (WTI) sudah mulai merangkak naik.

Dilansir Reuters, Sabtu (5/1), harga minyak mentah berjangka Brent LCOc1 naik USD 1,11 atau 1,98 persen menjadi USD 57,06 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 87 sen menjadi USD 47,96 per barel atau 1,85 persen.

Di negara lain seperti Australia, kata dia, harga BBM juga sudah turun sejak awal November 2018. Indonesia dinilai terlambat merespons harga minyak terhadap BBM. Tak hanya itu, Faisal juga menilai penurunan harga BBM tersebut terlalu sedikit.

“Turunnya cuma sekitar Rp 100 sampai Rp 250 per liter. Kalau mau sesuai harga pasar, ya mestinya turuninnya sekitar 30 persen juga antara Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per liter,” jelasnya.

Berikut harga BBM nonsubsidi di SPBU Pertamina mulai hari ini yakni Pertalite Rp 7.650 per liter, Pertamax Rp 10.200 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.000 per liter, Dexlite Rp 10.300 per liter dan Dex Rp 11.750 per liter.

Kebijakan yang diambil pemerintah disaat yang tidak tepat, karena rentan dengan pencitraan di tahun politik. Dalam hal ini, termasuk dalam masalah BBM di mana saat harga minyak dunia naik namun pemerintah Indonesia justru menurunkannya. Ada apa?

Fadli Zon mengatakan saat ini harga kebutuhan pokok di Indonesia masih belum stabil, karena masih lebih mahal dibandingkan dengan negara lainnya. Fadli menilai turunnya harga Pertamax Cs merupakan kebijakan yang politis.

“Ya kalau sekarang apa yang tidak ada kaitannya dengan politik, termasuk penyaluran bansos (bantuan sosial). Bahkan pencapaian-pencapaiannya saja dikaitkan dengan politik untuk kepentingan elektabilitas,” kata Fadli.

Seperti diberitakan sebelumnya, dari keterangan Pertamina, Pertalite turun Rp 150 per liter, Pertamax turun Rp 200 per liter, Pertamax Turbo turun Rp 250 per liter, Dexlite turun Rp 200 per liter, dan Dex turun Rp 100 per liter.

Pemerintah menyatakan belum akan menaikkan harga BBM meski harga minyak dunia terus melonjak. Perubahan harga dianggap dilematis, bukan hanya dari hitungan ekonomi tapi juga politik.

Harga minyak mentah brent yang diproduksi di Laut Utara Eropa mencapai US$84,16 per barel pada awal pekan ini. Harga itu naik 1,4% dari pekan lalu. Adapun di saat yang sama harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 1,3% menjadi US$74,34 per barel.

Menurut Pengamat ekonomi dari Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, harga minyak dunia berpotensi terus naik, terutama karena kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump yang tidak dapat diprediksi.

Namun Bhima menduga opsi meningkatkan harga BBM tak akan diambil pemerintah jelang Pilpres 2019. Bhima menilai dampak negatif ekonomi yang berpotensi ditanggung masyarakat dapat mempengaruhi citra Presiden Jokowi dihadapan pemegang hak suara. Harga BBM dinilai berpengaruh pada kepuasan masyarakat pada kinerja pemerintah.

Berdasarkan fakta di atas bahwa kebijakan pemerintah terhadap BBM dipermainkan sesuai dengan kepentingan politik. Padahal BBM adalah kebutuhan dasar rakyat yang tidak layak dipermainkan untuk kepentingan penguasa melalui kebijakan politik. Inilah salah satu bukti kebobrokan sistem kapitalisme sekuler.

Pengaturan BBM dalam Islam masuk dalam ranah sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam menjadikan aqidah Islamiyyah sebagai pondasinya. SDA yang terkandung di langit bumi dan seisinya adalah milik Allah Swt. Allah Swt berfirman, yang artinya: ”Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi” (Q.S. Al Furqon[25] : 2).

Inilah pondasi sistem ekonomi Islam, yakni Allah Swt sebagai Al Khaliq dan pemilik semua alam raya ini. Sehingga bila kita ingin mengelola alam ini, mesti mengikuti bagaimana aturan yang telah ditentukan oleh Sang Pemiliknya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ath Thabari ketika menafsirkan ayat di atas, beliau menegaskan:

Yang kepunyaan-Nya-lah kekuasaan langit dan bumi. Ia menerapkan perintah dan ketetapan-Nya di seluruh kekuasaan-Nya, juga memberlakukan hukum-hukum-Nya. Ia berkata : maka merupakan hak-Nya untuk ditaati para penghuni kerajaan dan kekuasaan-Nya, serta (mereka) tidak boleh menentang-Nya.” Untuk menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi dalam pengelolaan SDA termasuk BBM ini tidak akan bisa terwujud kecuali dengan adanya Negara Islam yang akan menerapkan Syariat Islam sehingga tidak akan terjadi permainan oleh penguasa dalam kebijakan BBM apalagi hanya untuk kepentingan politik.

Wallahu a’lam bish shawab.