Diskursus Dinamika Debat

Opini314 views

Oleh: Hasni Tagili, M.Pd (Praktisi Pendidikan Konawe)

Debat perdana capres-cawapres telah ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta, Kamis (17/1) malam. Berbagai komentar pun bermunculan pasca gelaran debat. Jika dikerucutkan, ada dua hal yang menjadi sorotan. Pertama, sikap KPU yang memberi kisi-kisi soal debat dari jauh-jauh hari disayangkan oleh beberapa pihak. Bagaimana tidak, hal itu membuat para paslon cenderung membaca teks alias melihat contekan.

Kedua, dalam debat tersebut belum memunculkan konteks atau subtansi masing-masing pasangan calon. Pengamat Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai bahwa debat capres-cawapres antara Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno tidak terlalu spesial. Kedua pasangan calon masih terlalu menahan dirinya masing-masing (Detiknews.com, 18/01/2019).

Menurutnya, kedua paslon sama-sama tidak terlalu spesial, banyak catatannya. Pertama, adalah kedua-duanya masih belum ­all out. Seharusnya publik bisa mendengarkan pertanyaan yang to the point, misalnya (Jokowi) bapak sudah melakukan apa saja, sedangkan untuk pak Prabowo nanti akan melakukan apa saja.

Selain itu, baik Jokowi dan Prabowo juga tidak bisa manajemen waktu dalam debat. Keduanya kehabisan waktu yang diberikan moderator debat, namun masih berusaha untuk menjelaskan. Menurut Hendri, keduanya kurang bagus dalam manajemen waktu. Bahkan Jokowi, di sesi pertama, harus menghabiskan waktu 48 detik untuk menyapa semuanya, sehingga waktu dia sudah habis masih berusaha untuk menjelaskan. Begitupula dengan Prabowo.

Suasana yang demikian belum memunculkan dinamika debat yang ideal. Seharusnya debat pilpres saling menyerang antrara kandidat, dan tidak boleh santai. Debat saat ini tidak memunculkan konteks atau subtansi pasangan calon.

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ahmad Muzani menyesalkan sikap capres petahana Joko Widodo yang menyerang partai, dibanding adu gagasan dan ide dalam sesi debat pertanyaan tertutup.

Muzani merujuk pada pertanyaan Jokowi seputar penanganan kasus korupsi kepada Prabowo Subianto. Saat itu sang petahana menyebut Gerindra menjadi partai yang paling banyak mantan koruptornya. Muzani menilai sikap yang diambil Jokowi kurang pantas lantaran dirinya sebagai petahana dan masih berstatus Kepala Negara. Padahal, kubu Prabowo-Sandi sebelum hari pelaksanaan debat hingga debat putaran pertama selesai, telah menunjukkan komitmennya untuk tidak menyerang personal.

Diskursus Debat

Keputusan KPU untuk memberi bocoran soal debat menuai polemik di berbagai kalangan. Pasalnya, debat akan terasa monoton dengan aktivitas membaca teks. Benar saja, hal tersebut terbukti pasca debat perdana usai. Beberapa pejabat angkat bicara.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta KPU untuk tidak lagi membocorkan pertanyaan kepada capres-cawapres dalam debat mendatang. Alasannya agar lebih memberikan pengaruh terhadap kepemimpinan (Detiknews.com, 18/01/2019).

Menurutnya, sebaiknya jangan terlalu banyak kisi-kisi. Pemimpin itu harus mengambil sikap pada waktunya. Kadangkala tidak perlu persiapan. Sebenarnya diskusi tersebut harus mencerminkan itu. Kalau terjadi begini, tindakan apa yang akan diambil.

Untuk debat capres selanjutnya, menurut JK, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin perlu persiapan lebih baik. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf juga harus mempersiapkan pertanyaan dan jawaban debat tersebut.

Tak jauh beda, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, turut mengkritik KPU mengenai gelaran debat capres-cawapres perdana. Menurut dia, debat capres-cawapres malam tadi lebih mirip cerdas cermat tingkat SMP-SMA. Fahri mengatakan pasangan capres-cawapres sibuk melihat sontekan debat. Ia menyebut hal ini disebabkan KPU memberikan kisi-kisi atau bocoran pertanyaan sebelum debat digelar. Ia meminta KPU membenahi hal ini dalam 4 gelaran debat berikutnya. Fahri menilai capres-cawapres tak perlu diberikan bocoran pertanyaan.

Menurut hematnya, calon presiden tidak perlu dibantu atau dilindungi dalam debat. Biarkan mereka ditelanjangi oleh kata-kata mereka sendiri. Mereka jangan lagi membaca tulisan orang. Biar keluar apa yang sebenarnya ada dalam kepala, dalam hati dan dalam impian mereka. Jangan dibela.

Adapun secara substansial, debat capres-cawapres ini seyogianya lebih mengedepankan tawaran solusi hakiki dari para paslon. Sebab, tak bisa dipungkiri, negeri ini tengah dijangkiti banyak penyakit. Sehingga, visi-misi paslon seharusnya mengarah pada solusi praktis.

Untuk kubu petahana, aksi konkret tak perlu menunggu dilantik untuk periode kedua, karena posisinya hari ini masih sebagai pemimpin negeri. Seharusnya, langsung aksi. Sedangkan kubu oposisi, sebaiknya mengimbangi teori dengan bukti. Sebab, rakyat sudah kenyang dengan drama pencitraan. Lebih baik lagi jika ada paslon yang mau mengusung syariat sebagai solusi hakiki. Akankah ada? Kita tunggu saja.

Edukasi Politis dan Teknis

Dalam Islam, masalah kepemimpinan dianggap sebagai masalah yang sangat penting. Sehingga, untuk hal yang demikian, Islam juga memberikan edukasi politis dan teknis. Bahkan, para ulama membahasnya dengan detil dalam berbagai kitab Fiqh Siyasah.

Imam Al Ghazali, misalnya, dalam kitab Ihya Ulumuddin mengatakan, “Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lainnya tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah asas sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa asas akan rusak dan jika tidak dijaga ia akan hilang.”

Sehingga, menjadi pemimpin bukan perkara mudah. Tentu saja karena harus mengemban amanah dunia dan akhirat. Akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah. Bagaimana tidak, kepemimpin dalam Islam adalah kepemimpinan yang menjadikan agama akan terpelihara. Sebab, kepempinanan itu berlandaskan kepada Alquran dan Assunnah, bukan bersumber dari akal manusia yang lemah.

Adapun visi seorang pemimpin dalam Islam bersandar pada QS. Al-Baqarah: 201, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikkan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” Sedangkan misinya termaktub dalam QS. Az-Dzariat: 56, “Dan Kami tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Menyadari bahwa misi penciptakan manusia di dunia ini untuk beribadah kepada Allah SWT, maka seorang khalifah akan menjalankan tugasnya di muka bumi ini dengan penuh amanah sebagai bentuk kepatuhan terhadap Allah untuk mendapatkan rida-Nya. Amanah yang diemban tersebut bukan diperoleh melalui pencitraan dan adu argumentasi yang kering dari pemenuhan janji, melainkan untuk memberikan bukti konkret kepada rakyat. Ya, jadi pemimpin itu amanah yang berat. Tak bisa lewat hanya dengan modal unjuk gigi dalam debat.

Rasulullah mengajarkan kepada kita, bahwa menjadi pemimpin itu harus rela mengorbankan waktu dan pikirannya untuk mengurus rakyat. Semua urusan, dari mulai masalah mencukupi kesejahteraannya dengan pendistribusian harta yang benar, memberikan peluang untuk bekerja di sektor yang halal, melindungi mereka dari ancaman kekuatan yang akan membinasakannya. Baik ancaman dari kekuatan militer atau pemikiran yang diemban oleh para penggoyang stabilitas.

Untuk urusan mencukupi kesejahteraan rakyat, dalam kisah yang sangat populer, diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab pernah menyusuri sudut kota Madinah pada malam hari untuk memantau warganya, dan ternyata menemukan seorang ibu yang sedang memasak batu, karena tidak ada makanan, untuk membujuk putranya yang kelaparan. Selanjutnya, Umar bergegas ke baitul maal dan memberikan sekarung gandum. Wallahu a’lam bishawab.

Komentar