Forum Jurnalis Sultra Datangkan Akademisi Bahas Smart Village

Sultra Raya283 views
Dekan Pertanian UHO Prof Tufaila saat membawakan konsep pembangunan pertanian melalui smart village di salah satu hotel di Kota Kendari, Rabu (12/4/2017).

KENDARI, PORTALSULTRA.COM – Forum Jurnalis Sultra menyelenggarakan kegiatan diskusi yang bertajuk pendekatan pembangunan pertanian dan perdesaan melalui smart village di Swiss Bel Hotel, Rabu (12/4/2017).

Dalam kegiatan tersebut, menghadirkan Dekan Fakultas Pertanian UHO Prof Tufaila dan Ketua LPPM Unilaki Rudi Aziz sebagai pembicara.

Dalam pandangannya, pembangunan pertanian dan perdesaan melalui smart village dapat dilaksanakan dengan mengidentifikasi sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi dan infrastruktur serta peluang pasar.

“Dari identifikasi itu sehingga potensi perdesaan dapat dikembangkan dan kita juga dapat mendeskripsikan pola konsumsi masyarakat sebagai calon konsumen,” ujarnya.

Prof Tufaila menilai, sumber daya alam di Sultra sangat banyak baik yang berada dipermukaan maupun yang berada di dalam perut bumi, sehingga jika dikelola dengan baik maka dapat mensejahterakan masyarakat.

“Kalau dapat dikelola dengan baik maka rakyat bisa digaji hanya dengan hasil sumber daya alam kita. Brunei Darusalam saja negaranya kecil, tetapi mereka mampu menggaji rakyatnya,” ungkap Dosen Ilmu Tanah Faperta UHO ini.

Senada dengan Dekan Faperta UHO, Rudi Aziz mengatakan, smart village juga menjadi program Unilaki khususnya pembangunan perdesaan berbasis agroindustri. Dari hal tersebut sehingga pemerintah Korea Selatan tertarik untuk bekerjasama dengan Unilaki.

Yang menarik dari kerjasama ini, yakni universitas yang menyediakan bahan baku industri berupa padi, tomat dan cabai. Dipilihnya tanaman jangka pendek ini karena konsep pertaniannya melalui grand house.

“Dari komoditas ini dipastikan dapat mendorong kemajuan desa karena pemerintah Korsel akan membeli hasil pertanian masyarakat dengan harga yang tinggi. Penghasilan masyarakat bisa mencapai Rp 56 juta di tahun pertama dan Rp 143 juta untuk di tahun kedua,” terangnya.

Selain itu, konsep smart village ini juga dapat mengarah pada wisata perdesaan. Melalui desa wisata sehingga dapat menciptakan mata pencaharian lain yakni, wiraswasta dibidang pariwisata.

“Desa wisata dapat menghasilkan pengusaha dibidang penginapan, toko souvenir, rumah makan dan usaha terkait lainnya,” pungkasnya.

Penulis : Ajmain Yusdin

Komentar