Gaza Menuai Asa, Butuh Khilafah

oleh -27 views

Oleh: Lia Amalia (Anggota Smart With Islam Kolaka)

Tempo.co, Jakarta – Dua menteri sayap kanan Israel mendesak agar pengeboman ke Jalur Gaza ditingkatkan setelah serangan udara balasan terhadap roket Hamas.

Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett, dan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked, keduanya dari partai sayap kanan Hayemin Hehadash, menyerukan militer Israel untuk meningkatkan serangannya terhadap kantong Gaza yang dikepung, dikutip dari Middle East Monitor, 26 Maret 2019. Haaretz melaporkan, serangan udara balasan dikerahkan ke target Hamas di Jalur Gaza, setelah roket dari Gaza menghantam ibu kota Israel pada Senin kemarin. Tujuh orang Israel dilaporkan terluka setelah sebuah roket dari Gaza menghantam utara Tel Aviv pada Senin dini hari. Serangan ini memaksa PM Benjamin Netanyahu mempersingkat kunjungannya ke AS dua hari. Bennett menyebut gencatan senjata yang ditengahi Mesir memalukan. Dia akan melakukan apapun agar gencatan senjata tidak terwujud.

“Tidak ada negara di dunia yang tidak akan membalas roket yang menyerang warganya dan tidak ada negara di dunia di mana darah warganya diabaikan seperti yang telah kita saksikan dalam beberapa hari terakhir,” ujar Bennett. Sementara Ayelet Shaked juga menggunakan krisis yang sedang berlangsung di Gaza sebagai kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.

“Hamas sama sekali tidak takut pada kita,” katanya kepada surat kabar Israel sayap kanan Arutz Sheva.

“Fakta bahwa ada roket yang ditujukan ke seluruh Negara Israel tanpa halangan adalah sesuatu yang tidak boleh kita terima.”

Shaked juga mengkritik langkah Netanyahu terhadap Gaza terlalu lemah. Kritik terhadap pendekatan Netanyahu ke Jalur Gaza telah menjadi topik favorit politisi sayap kanan untuk beberapa waktu. Pada bulan November, perbedaan pendapat yang sama menyebabkan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman mengundurkan diri dan memaksa Netanyahu untuk mengambil alih kendali.

Melihat kondisi umat Islam saat ini sangat menyayat hati bagaimana tidak di berbagai negari muslim seperti Palestina, Suriah, Uyghur,Rohingya, New zealand, Mali dan di berbagai negeri muslim lainnya, ratusan bahkan Jutaan umat Islam di bantai, ditindas, dibunuh, di perlakukan tidak adil, negara penjajah dengan sangat leluasa menghabisi nyawa umat Islam tanpa rasa takut.

Para zionis dan musuh Islam, mereka tahu para penguasa Negara Islam merupakan boneka-boneka Barat yang melanggengkan pembantaian terhadap negari Islam. Amerika lah yang mendukung habis-habisan zionis Israel. Mereka juga paham umat Islam sekarang lemah tidak Bersatu Karena telah ditanamkan padanya paham nasionalisme yang melemahkan diri dan memecah belah umat Islam.

Nasionalisme Akar Masalahnya

Semenjak runtuhnya Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924 negara muslim kemudian terpecah belah menjadi negari-negari muslim yang kecil yang dimana mereka diberikan paham-paham nasionalisme yang kemudian membatasi gerak dari suatu bangsa untuk bersatu untuk kemudian melawan kezaliman-kezaliman yang terjadi terhadap umat Islam.

Inilah upaya barat untuk kemudian melemahkan umat Islam agar umat Islam tak bangkit untuk membela agama dan saudara-saudara Muslim yang diluar dari negaranya, umat kemudian disibukkan dengan perkara-perkara yang ada di dalam wilayah atau yang ada di dalam negaranya sendiri tanpa menghiraukan apa yang terjadi di luar negeri yang merupakan saudara seakidah dibantai tanpa ampun. Itulah keberhasilan Barat dengan menyekat negeri-negeri muslim dengan nation state. Nation-state bagi umat Islam ibarat racun yang melumpuhkan dan mematikan. Pasalnya, dengan banyaknya nation-state seperti sekarang ini, yaitu sekitar 50-an negara-bangsa di Dunia Islam, berarti umat Islam telah terpecah-belah dan menjadi lemah. Dampaknya, hegemoni Barat di bawah AS dewasa ini terus berlangsung tanpa ada perlawanan berarti dari umat Islam.

Umat Islam dari berbagai bangsanya, seperti Turki dan Arab, yang awalnya mengidentifikasikan diri mereka sebagai “umat Islam” yang dipersatukan dengan akidah Islam, akhirnya mengidentifikasikan diri mereka sebagai “bangsa Turki” dan “bangsa Arab”. Inilah racun yang menjadi cikal-bakal disintegrasi dan perpecahan umat Islam.

Bersatu Dalam Naungan Khilafah

Untuk itu agar kemudian umat Islam kembali bersatu maka yang sangat penting adalah kesadaran akan upaya barat terhadap umat Islam yang telah melemahkan dan membuat umat Islam bercerai berai tanpa saling menghiraukan atau memperhatikan antara muslim yang satu dengan muslim yang lainnya. Serta umat wajib menentang semua paham-pahamyang berasal dari barat yang dapat merusak akidah seperti paham nasionalisme.

Adapun pertentangan nation-state dengan Islam, jelas sekali tampak dalam ikatan pemersatu sebuah komunitas dalam sebuah negara. Dalam nation-state, ikatan pemersatunya adalah ikatan kebangsaan. Dalam Islam, ikatan pemersatunya adalah akidah Islam, bukan kebangsaan. Hal itu karena dalam al-Quran ditegaskan bahwa orang-orang yang beriman adalah bersaudara (QS al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah saw dalam hadis-hadis sahih juga menegaskan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim (HR Bukhari no. 6551). Beliau juga menegaskan bahwa orang-orang Muslim itu adalah ibarat tubuh yang satu. (HR Musim no. 2586).

Setiap pembunuhan apalagi Pembantaian umat Islam adalah persoalan agama. Allah SWT memerintahkan untuk menghentikan dan mengancam siapapun yang membiarkan ini terjadi (lihat QSan-Nisaayat75). Dalam Islam menjaga nyawa seorang manusia nyawa seorang muslim adalah penting. Inilah adalah salah satu pesan politik yang disampaikan Rasulullah Saw dalam Haji terakhir beliau yang dikenal  dengan Haji Wada’.

Ukhuwwah islamiyah sangat penting dalam Islam. Oleh karena itu, ukhuwwah islamiah diperintahkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan ukhuwwah islamiyah, maka akan terwujud persatuan umat Islam dan perdamaian dalam negara. Dengan terwujudnya persatuan, maka umat Islam menjadi umat yang kuat dan mulia seperti pada masa Nabi dan para sahabat.

Ikatan yang terbentuk dalam sistem Khilafah Islamiyah adalah ikatan yang mengikat umat Islam dengan ikatan akidah yang tentu bersifat global, tidak lokal, lintas daerah, negara bahkan benua. Persaudaraan Islam juga bercorak universal yakni lintas etnik, suku/bangsa dan bahas. Karena itu membiarkan dunia tanpa Khilafah sama saja dengan membiarkan berbagai penderitaan umat akibat kezaliman para penguasa lalim yang didukung Barat tanpa satu pun penolong dan pelindung yang sanggup menolong dan melindungi mereka, serta membiarkan ukhuwah islamiyyah terus terkoyak, dan yang seharusnya terajut dan bersifat global.

Sebagai wujud kepedulian kita kepada mereka sebagai saudara, tentu tak cukup kita sebatas mendoakan mereka karena faktanya mereka telah menderita cukup lama berada di bawah tekanan para rezim yang amat kejam. Kepedulian kita kepada mereka harus juga diwujudkan dengan upaya keras kita mewujudkan institusi Khilafah. Mengapa Khilafah? Pertama: Karena Khilafah adalah sistem pemerintahan yang bersifat global, yang akan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme dan negara-bangsa yang selama ini menjadi faktor penghalang untuk mewujudkan ukhuwah yang hakiki, yang juga bersifat global. Kedua: karena Khilafahlah pengayom dan pelindung umat yang hakiki.

Dengan demikian tegaknyanya Khilafah merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hanya khilafahlah yang akan menanamkan rasa takut kepada musuh, melindungi negeri-negeri Islam menerapkan sistem yang berlandaskan syariah dan menjaga kehidupan Islam Khilafah lah satu-satunya otoritas negara yang dapat melindungi seluruh kehidupan manusia. Wallahu a’lam.