Gemar Mengkambinghitamkan: Tabiat Demokrasi

oleh -125 views

Oleh: Nurhidayat Syamsir (Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

Perbincangan isu perpolitikan selalu menggiurkan kelogisan pikir untuk terjun memikirkan gaduhnya perhelatan politik yang menuai kisruh. Polemik pasca pemilu pun tak lepas dari hangatnya pembahasan tentang kepayahan yang terjadi di panggung demokrasi saat ini.

Viva.co.id- Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto, menyebutkan ancaman yang menganggu kesatuan dan persatuan bangsa. Salah satunya kelompok khilafah yang disebut masih memboncengi dalam perhelatan pemilu 2019. “Yang baru kemarin kita bubarkan, kita akan dijadikan negeri khilafah, ada. Tidak akui nasionalisme, tidak akui pancasila, NKRI, kita bubarkan. Tapi sekarang masih bonceng lagi, dalam kerumetan pemilu kita. Ada,” kata Wiranto di Grand Paragon, Jakarta, Kamis 16 Mei 2019.

Khilafah, Seiring Dengan Demokrasi: Mungkinkah?

Hiruk-pikuk konstelasi politik masa kini tak luput dari antologi peristiwa yang menarik hingga mencengangkan. Sebagai contoh, keberadaan kata ‘Khilafah’ yang pembicaraannya sampai pada tataran debat capres lalu. Wajar saja jika perbedaan perihal pemilu beberapa tahun belakangan sangat berbeda dengan pelaksanaan tahun ini.

Menanggapi pandangan Kemenko Polhukam, Wiranto yang menyebutkan adanya ancaman yang ikut boncengan dalam perhelatan pemilu 2019 kini. Pasalnya, ia melihat kecenderungan ruwet pemilu ini disebabkan oleh ‘Khilafah’.

Menelisik lebih jauh, maka akan sampai pada pertanyaan ‘Apa itu Khilafah?’ Serta benarkah Khilafah bisa seiring dengan Demokrasi?

Secara definisi, Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang tegak atas dasar syariat Islam. Suatu negara yang di dalamnya menerapkan hukum Islam sebagai aturan dalam pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Maka bisa dikatakan bahwa pandangan yang mengatakan Khilafah membuat runyam pesta Demokrasi adalah keliru.

Sejauh ini tidak ada satupun Negara di dunia yang menjadikan Khilafah sebagai sistem pemerintahan, lalu kenapa ditakuti? Terlebih lagi menganggap bahwa Khilafah akan mengundang ancaman, maka tentulah ini mengharuskan adanya bukti yang mengindikasikan pernyataan demikian benar adanya. Sudah jelas pula, pemilu yang disinyalir runyam ini beserta tuduhan atas kelompok yang memperjuangannya, secara terang-terangan telah mengkriminalisasi Khilafah sebagai ajaran Islam.

Kedaulatan Negara Indonesia disepakati atas dasar sistem Demokrasi yang mereka agung-agungkan. Sehingga segala aturan, keputusan maupun kebijakan dalam sistem ini akan senantiasa lahir dan disandarkan pada tabiat Demokrasi itu sendiri. Lalu, bagaimana mungkin kesalahan pemilu yang dirancang dan disepakati bersama, malah mengkambing hitamkan khilafah yang jelas tak satupun Negara mengembannya? Apalagi menuding ruwetnya pesta Demokrasi karena diboncengi oleh Khilafah, miris.

Inilah sederet bukti ketidakmampuan sistem Demokrasi. Sistem yang tumpuannya tegak atas aturan lemah yang dibuat oleh manusia. Nafsu sarat berkuasa yang diraih dengan jalan kebebasan, sehingga menghalalkan segala macam cara. Terlebih lagi, perlu digaris bawahi bahwa antara Khilafah dan Demokrasi adalah dua hal yang berbeda. Mana mungkin keduanya bisa seiring?

Hingga saat ini, kecenderungan rakyat senantiasa menghendaki agar pemilu ini menjadi penyambung lidah masyarakat. Tentunya dengan harapan melalui pemilu inilah yang nantinya menjembatani aspirasi dan harapan umat. Jauh panggang dari api, alih-alih bersambut dengan pemimpin impian, malah terpaksa rela menelan pahitnya kenyataan akan payahnya pemilu hari ini. Kecurangan sudah jelas, modus operandi money politik yang tak ada habisnya, sampai menjatuhkan ratusan korban yang digelari sebagai ‘Pahlawan Demokrasi’.

Sudah selayaknya berhenti menaruh harap pada sistem saat ini, melihat telah banyak kelemahan dan kelalaian penguasa dan sistem yang diembannya tidak mampu menuntaskan problematika umat sampai detik ini. Sehingga tidak ada jalan lain untuk menghendaki keadilan dan kesejahteraan umat adalah dengan mengganti sistem pemerintahan yang mengabaikan aturan Pencipta (sekular), menuju pengaturan yang asasnya dari Zat yang Agung. Wallahua’lam bi ash-shawab.