
PORTALSULTRA.COM–Memang perkara ibadah merupakan hak prerogatif Allah untuk menilai seorang hamba. Kualitas ibadah kita hanya tidak bisa diukur oleh seseorang melainkan hak Allah untuk meberikan penilaian kepada hambanya.
Dilansir dari aktual.com. sesorang penulis Mohammad Hendri Alfaruq menyampaikan bebrapa pandangannya terkait ibadah yang pahalanya menjadi sia-sia. Tidak sedikit dari umat muslim, lebih banyak memperhatikan sesuatu dari luarnya. Menilai kualitas orang dari kekayaan, pekerjaan, kecantikan, dan sebagainya. Tak terlepas dari itu, bahkan kita hanya melihat sisi luar ibadah yang selama ini kita dirikan, Salat, Zakat, Puasa, bahkan Haji telah tuntas kita kerjakan sesuai dengan tuntunan yang diajarkan agama melalui bab Fikih Ibadah.
Selama ini, kita telah menunaikan kewajiban sebagai muslim, yang kita anggap sebagai tabungan akhirat kelak. Mungkin dalam benak, kita akan bertanya-tanya: Seberapa beratkah timbangan amalan yang kita tabung? Berapa derajat pahalakah yang akan kita peroleh? Itulah pertanyaan umum yang sering kita khayalkan.
Berangan mendapat pahala yang layak atas amalan di dunia untuk akhirat kelak. Namun, ada satu hal penting yang sebenarnya kita lupakan, yaitu: diterimakah amalan kita selama ini? Atau justru malah saldo tabungan akhirat kita secuil, padahal sudah merasa melakukan banyak ibadah. Atau bahkan saldonya minus? Yaa lalkhosaaroh (rugi)!
Tersebut dalam sebuah hadist Nabi Saw di Arbain Nawawi hadist ke 4, riwayat Abdullah bin Mas’ud r.a.:”Dan sungguh seseorang dari kalian akan ada yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan surga kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka dan ada juga seseorang yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan taqdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga”.
Syeikh Usamah Al-Azhari dalam sebuah muhadoroh berkata: Poin penting yang tersirat dalam hadis ini yang sering terlupakan oleh banyak orang adalah, perbedaan antara amal perbuatan, dan apakah amal tersebut diterima atau tidak.
Dalam hadis disebutkan orang tersebut mengerjakan perbuatan ahli surga hingga saat usianya senja mendekati kematian, lalu ia mengerjakan amalan ahli neraka, dan masuk ke neraka. Apakah ia terzolimi? Sebenarnya amal perbuatannya selama itu tidak diterima. Karena ia tidak memperhatikan perbedaan antara amal yang sahih dan amal yang diterima.
Betapa sedikit orang yang memperhatikan “apakah amalnya diterima atau tidak”. Sebaliknya, kebanyakan hanya memperhatikan sahih tidaknya amal perbuatan. Lalu ia hanya mengerjakan amal salih, layaknya salat fardhu. Setelah itu ia lupa, apakah amalnya diterima Allah atau tidak.
Editor : Hermawan Lambotoe
Komentar