Islamofobia

Opini370 views

Oleh: Siti Maisaroh

Untuk yang kesekian kalinya, nyawa kaum Muslim menjadi santapan predator kafir. Brenton Tarrant dengan beberapa rekannya, melakukan kejahatan sambil mendengarkan nyanyian perang salib (sejarah Serbia) yang didengarnya melalui headset. Nyanyian yang membuat ‘panas’ darah mereka karena mengingatkan sejarah peperangan antara tentara khilafah Utsmani dengan tentara Eropa dalam pertempuran di Wina, 1683 yang menandai awal berakhirnya dominasi Khilafah Utsmani atas Eropa. Masjid suci al Noor dan Linwood di Kota Christcruch, New Zealand, Selandia Baru menjadi saksi atas kebengisan dan kebrutalan mereka. Dihari Jumat, nyawa-nyawa tak berdosa meregang diatas sajadah yang bersimbah darah, orang kafir itu memberondong pelurunya tanpa peduli pada jeritan dan tangisan. Seperti dilansir Reuters, Jum’at (15/3/2019) komisioner kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, dalam konferensi pers menyebut korban tewas dalam serangan teroris itu mencapai 49 orang. Perdana Menteri Jacinda Ardern telah menyembut penembakan brutal itu sebagai ‘serangan teroris dan mengecamnya’. (detiknews, Jum’at/15/3/2019).

Berselang beberapa hari kemudian, kaum Muslim di Mali yang merupakan Negara di Afrika Barat yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam, dengan estimasi persentase 94,8 %. Didatangi sejumlah pria yang menyamar sebagai pemburu melakukan  pembantaian yang setidaknya 134 petani dan penggembala Muslim di Ogossogou, Mali tengah meninggal. Menurut PBB, wanita yang sedang hamil ikut dibunuh dan beberapa korban dibakar hidup-hidup. (Sindonews.com) 25/03/2019 lalu. Pembantaian Etnis penggembala Fulani di desa Ogossagou dan Welingara oleh etnis pemburu Dogon 23 Maret 2019 lalu bermula dari rebutan akses air bersih sampai dalih bahwa suku Fulani memiliki kaitan dengan al Qaeda dan menyembunyikan para ekstrimis Islam. (Sindonews.com, 25/03/2019).

Itulah nasib kaum Muslim saat ini, juga negeri-negeri konflik lainnya seperti Palestina, Suriah, Muslim Rohingya di Myanmar, suku Uighur di Cina, Islam minoritas di Prancis dan lainnya. Mereka terusir dari rumah mereka sendiri, terjajah di negeri sendiri, bahkan saling menyaksikan anggota keluarganya terbunuh dan anak-anak gadisnya diperkosa sadis. Mereka terus menjerit meminta pertolongan. Tapi sayangnya, apa yang terjadi? Yah! sebagian dunia berduka, sebagian bersukacita. Sebagian mengucapkan bela sungkawa dengan air mata buaya, sebagian lagi pura-pura tuli dan buta.

Negeri-negeri Muslim lainnya ‘tidur’ dalam dekapan Nasionalisme dan kenikmatan dunia. Penguasanya yang sering pamer kekuatan militer juga melempem tak berdaya. Terlebih HAM buatan Inggris Raya, yang slogannya menjamin dan melindungi hak asasi manusia, sama sekali tiada berkutik apa-apa. PBB, organisasi besar dengan kekuatan perkumpulan bangsa-bangsa, sembunyi entah kemana. Satu alasan mengapa kampanye-kampanye mereka selama ini terkesan hanya bualan dan omong kosong belaka, yakni karena korbannya adalah kaum Muslim semata.  

Hampir semua kekerasan yang menimpa kaum Muslim di dunia ini oleh orang kafir, adalah karena gencarnya opini Islamphobia. Islamphobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah ini sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih popular setelah peristiwa serangan 11 September 2001. (Sumber: Wikipedia). Islamphobia adalah ide yang terus dibangun, diproduksi, disebarkan, bahkan dilembagakan dalam bentuk kebijakan dan praktek dilapangan. Sebuah gerakan massif yang diluncurkan kepada Islam dan kaumnya dari berbagai fasilitas kebijakan Negara, berita di media, komentar para politisi, hingga kajian para akademisi.

Kesalahpahaman dunia Barat pada Islam dan Muslim sangat jelas terasa. Mulai dalam bentuk verba (kata-kata) sampai dalam bentuk penindasan secara fisik. Ini sudah tertera dalam kitab suci kita, bahwa Allah Swt berfirman, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya  mereka sanggup.” (TQS 2: 217)

Dari mulut seorang Donald Trump meluncur kata-kata kedengkian, “Saya pikir Islam membenci kita. Ada kebencian yang sangat besar disana. Ada kebencian yang luar biasa kepada kita. Jama’ah masjid adalah kumpulan para pembunuh. Keluar masjid dengan kebencian dan kematian dimata dan pemikiran mereka.”

Mantan Gubernur Mike Huckabee menggambarkan umat Islam yang keluar dari masjid sebagai ‘binatang yang sedang terlepas’. Bahkan seorang senator Amerika Serikat, Lindsey Graham mengatakan, “Jika saya harus mengawasi, maka saya akan mengawasi masjid”.

Sampai sedemikian kental darah kebencian Barat kepada Islam dan kaum Muslim. Mereka menganggap Islam dan kaumnya adalah sebuah objek berbahaya yang harus dicurigai, diawasi, dan diredakan eksistensinya dari muka bumi.

Faktor Penyebab

1. Faktor Ekonomi

Barat akan terus meredam perkembangan dan kemajuan Islam. Semakin berbondong-bondongnya orang masuk agama Islam, juga angka kelahiran generasi Muslim. Sampai kian sadarnya umat Muslim untuk kembali pada kehidupan Islam, inilah yang membuat mereka insomnia dan ketakutan. Karena hal demikian akan mengusik kepentingan ekonomi mereka dalam proyek jajahannya di negeri-negeri Muslim. Mereka berfikir panjang, akan bagaimana nasib mereka dan anak cucu mereka, jika tidak ada ruang lagi untuk mengeruk potensi sumber daya alam yang hanya ada di negeri-negeri Muslim. Mereka khawatir kalau tidak dapat lagi menyusup dan menyulap diri sebagai pahlawan investasi, dan peminjam uang dengan bunga selangit. Karena mereka juga memahami, bahwa ketika kaum Muslim bangkit, maka segala aspek kehidupannya pun akan ikut bangkit dan mandiri, dengan kata lain, tidak akan rela lagi untuk dijajah oleh siapapun juga.

2. Faktor Ideologi-Politik

Sejak runtuhnya Sosialisme-Komunisme tahun 1991, musuh Barat adalah Islam. Sebagaimana Allah berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (TQS. al Baqarah: 120). “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahayaNya, walau orang-orang kafir membencinya.” (TQS. Ash-Shaff: 7).

Mereka akan terus mentransfer pemikiran Sekular mereka ke negeri-negeri Muslim. Membumikan ideology kufur mereka dengan berbagai rupa dan cara. Mereka akan terus memperketat mata-mata dan kamera tersembunyinya. Mereka senantiasa membaca situasi dan kondisi di negeri-negeri Muslim. Walhasil, merekapun kian hari kian bertambah cemas, karena saat kini, umat Islam telah berani melakukan aksi penolakan pemimpin kafir, menolak partai yang memojokan Islam, sampai pembelaan terhadap ulama yang lantang mengoreksi penguasa, juga dukungan umat terhadap ormas Islam yang mengajak pada penerapan syariat Islam secara kaffah.

Sehingga mereka menganggap, semakin agamis seseorang, maka semakin berbahaya. Semakin mengkaji Islam, maka semakin mengancam. Semua mengakui, seorang laki-laki bergamis sunnah dengan jenggot lebat, celana cingkrang dan menggendong tas ransel akan lebih lama menjalani pemeriksaan paspor dan dokumen lain di gerbang bandara internasional daripada laki-laki yang berpakaian biasa saja. Wanita bercadar dan berpakaian serba gelap akan selalu diintai daripada wanita seksi ketika berada di tempat-tempat umum.

Butuh Khilafah

Hanya Islam satu-satunya agama yang memuliakan darah dan nyawa manusia, karena dilengkapi dengan metode penerapannya. “Siapa saja yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia….”(TQS.Al Ma’idah: 32). Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas ra., saat memandang ka’bah, Nabi Saw bersabda, “Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi, seorang mukmin lebih agung disisi Allah daripada engkau.” (HR. al Baihaki dalam Syu’ab al-Iman).  

Dalam Negara yang menerapkan hukum Islam secara kaffah, siapapun tidak berani sengaja melalukan pembunuhan. Karena ngerinya sanksi yang diterapkan, yakni qisas (nyawa balas nyawa) (lihat: al Baqarah: 178) atau membayar diyat (lihat HR. Bukhari 2434). Bahkan orang kafir yang hidup didalamnya pun mendapat perlindungan. “Barang siapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan (mu’ahad) maka dia tidak akan mencium wangi surga. Sungguh, wangi surga itu tercium sejauh jarak empat puluh tahun.” (HR. Bukhari 3166).

Tapi, mengapa nyawa kaum Muslim saat ini begitu murah dan sama sekali tiada harganya? Haruskah kita pasrah pada keadaan terpuruk ini, dan menunggu daftar giliran kita dan anggota keluarga kita menjadi korban selanjutnya? Sungguh, lebih baik mati mulia dalam memperjuangkan kebenaran daripada aman dan pasrah menunggu giliran. 

Sejak runtuhnya daulah Islam di Turki, 1924 silam, menyebabkan kaum Muslim tidak memiliki benteng pertahanan yang kokoh, yakni khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. “Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai; orang-orang akan berperang dibelakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya.” (HR. al bukhari, Muslim, an Nasa’I, Abu Dawud dan Ahmad).

Juga karena hanya khilafah yang memiliki amir al-jihad (markas besar angkatan bersenjata). Ia adalah bagian dari struktur pemerintahan Negara Islam yang siap menghadapi ancaman dan serangan kaum kafir.  Inilah yang membuat Negara Islam 13 abad lamanya berjaya senantiasa disegani kawan dan ditakuti oleh musuh.  

Tiada jalan keluar dari segala problematika kehidupan kita ini, kecuali hanya kembali pada jalan lurus Islam. Tetaplah bergabung dalam barisan perjuagan yang kemenangannya telah dijanjikan. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetapmenyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun degan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (TQS An Nur: 55).

Waallahu ‘alamu bishowab.

Komentar