Jangan Sedih, Wahai Saudari!

Opini402 views
Foto: Ilustrasi / Sumber: www.akhwatmuslimah.com

PORTALSULTRA.COM – Kutahu kau cerdas dan intelek, yang terbukti dengan gelar akademik yang telah kau raih. Ilmumu tentu sudah relatif tinggi. Berbagai tanyaan dan soalan begitu pandai kau olah dan analisis. Namun, kau selalu terlihat bodoh ketika orang bertanya, “Kapan nikah?”. Kalau sudah begitu, biasanya matamu mulai berputar-putar ke segala sudut, lalu dengan senyum kecut kau meninggalkan forum atau pura-pura cari kesibukan lain agar kau teralihkan dari tema “nikah” yang agak menakutkan dan membuatmu terlihat bodoh itu.

Aku sering menangkap ekor matamu yang berkaca-kaca ketika sedang ngumpul bersama teman-teman sebayamu yang rata-rata sudah berumah tangga dan punya momongan. Ekspresi sedih di wajahmu kadang tak bisa kau sembunyikan, walau telah berusaha kau tutupi. Hanya rasa empati yang dapat menghalau canda tentang “nikah” yang menyedihkanmu dan membuat matamu berkaca-kaca itu.

Untuk urusan itu, banyak yang bersimpati kepadamu, tetapi sampai sejauh ini tak banyak yang bisa dilakukan untuk menolong. Disamping jodoh memang berada di tangan Allah, semua ikhtiar yang dilakukan ternyata belum membuahkan hasil. Kadang kau sengaja kusebut dalam dialog dgn para jomblowan, tetapi tak satu huruf pun dari ejaan namamu yang tersangkut di hati mereka. Sementara itu, poligami di negeri kita masih menjadi momok bagi masyarakat yang fanatik dengan monogami. Mereka lebih menerima selingkuh daripada poligami, sedangkan kaum “bapak” menjadikan tema poligami sebatas guyonan dan canda-canda. Belum lagi uang panaik yang meniup habis nyali para jomblo mustad’afin. Subhanallah! Kalau sudah begitu, ekor matamu tak hanya berkaca-kaca, tetapi menganak sungai.

Kau sedih, karena masih sendiri? Itu wajar dan sangat manusiawi. Namun, cobalah membangun istana husnuzhon di hatimu dan tulislah kata-kata ini di dinding depan dan belakang istanamu: “RENCANA ALLAH, SELALU YANG TERBAIK”. Hapus segera air matamu dan tataplah masa depan dan berjalanlah dengan keyakinan bahwa kau melihat cahaya di ujung lorong itu dan sesosok pangeran mungkin sudah menantimu di ujungnya. Melangkahlah dan teruslah melangkah!

Sambil merenda hari-hari dengan ibadah dan ketaatan serta berdoa kepada-Nya, cobalah membangun pula jembatan emas silaturahim dengan keluarga jauh atau dekat, kerabat, juga sahabat dan tetangga. Dengan begitu, hari-harimu adalah tamasya di sudut-sudut kota atau desa dan karenanya kau berhak mereguk bahagia meskipun “sendiri”. Ya, kau adalah jomblo bahagia. Kalaulah tak kau terima istilah itu, tetapi setidaknya sadarilah bahwa kau tak punya alasan untuk menceburkan diri dalam kesedihan, padahal sang pangeran (mungkin) sedang menantimu di ujung lorong itu ketika langkah kakimu sudah mencapai langkah yang ke-1000, sedangkan kini kau menapaki langkah yang ke-888. Alaysassubhu bi qarib?

Oleh: Ustadz Dr. Amirudin Rahim, M.Hum

Komentar