Kantor Bahasa akan Gelar Kongres Internasional Bahasa-bahasa Daerah Sultra

oleh -354 views

Foto: Istimewa

Kendari – Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara (Sultra) akan menggelar Kongres Internasional III Bahasa-bahasa Daerah Sultra, 2-4 September 2019 di Hotel Claro Kendari.

“Tujuan pelaksanaan kongres bahasa daerah adalah mendiskusikan dan merumuskan berbagai persoalan yang menyangkut bahasa dan sastra daerah Sulawesi Tenggara,” kata Kepala Kantor Bahasa Sultra Sandra Safitri Hanan dalam keterangannya, Mingu (25/8/2019).

“Selanjutnya, hasil tersebut akan menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan strategi yang tepat untuk melestarikan, mengembangkan, membina, dan memberdayakan bahasa dan sastra daerah Sulawesi Tenggara pada era globalisasi dan Revolusi Industri 4.0,” lanjutnya.

Kongres bahasa ini, tambah Sandra, didasari pemikiran bahwa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki keberagaman bahasa, budaya, dan sastra. Keberagaman tersebut hidup dalam berbagai etnis yang tersebar di berbagai pelosok tanah air.

“Bahasa, sastra, dan budaya, selain ia hidup, sekaligus menghidupi dan memengaruhi perilaku keseharian masyarakatnya. Ia berperan sebagai sumber tata nilai sekaligus sebagai tata laku masyarakat penopangnya,” ungkapnya.

Sultra sendiri memiliki keanekaragaman bahasa dan sastra daerah yang menjadi berkontribusi sebagai pembentuk karakter dan jati diri daerah. Provinsi ini juga memiliki kekayaan pernaskahan yang berisi ajaran moral, tata nilai, dan ilmu pengetahuan yang penting.

“Bahasa-bahasa daerah asli Sulawesi Tenggara merupakan bahasa rumpun Austronesia yang terbagi atas dua subrumpun. Subrumpun Bungku-Laki yang terdiri atas: bahasa Tolaki, bahasa Moronene, bahasa Kulisusu, dan bahasa Culambacu. Adapun subrumpun yang satunya adalah subrumpun Muna-Buton yang terdiri atas; bahasa Muna, bahasa Ciacia, bahasa Wolio, bahasa Lasalimu-Kamaru, bahasa Pulo/Wakatobi/Tukangbesi,” jelasnya.

“Khazanah bahasa daerah tersebut sekaligus menjadi penopang sastra daerah yang hidup di dalam beragam etnis di Bumi Anoa. Kekayaan tersebut akan menjadi daya tarik utama pembahasan para narasumber, baik dari luar negeri maupun di tanah air.”

“Pada titik ini, kekayaan tersebut menjadikan Sulawesi Tenggara provinsi yang dapat berkontribusi bagi negosiasi budaya dan perdamaian bangsa,” bebernya.

Untuk diketahui, kongres ini mengangkat tema “Peran Bahasa dan Sastra Daerah sebagai Negosiasi Budaya dalam Menciptakan Perdamaian Bangsa.”

Tema tersebut dijabarkan ke dalam empat subtema. Keempat subtema yang dimaksud adalah bahasa, sastra, pengajaran, dan filologi. Nantinya, peserta kongres akan dibagi dalam empat sidang komisi.

“Keberhasilan Kongres Internasional III Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara ini akan menentukan keberhasilan untuk menjadikan bahasa dan sastra daerah, khususnya di Sulawesi Tenggara, sebagai negosiasi budaya dalam menciptakan perdamaian bangsa,” tutupnya.

bni/rls