Kapitalisasi dalam Transportasi: Islam sebagai Solusi

oleh -130 views

Oleh: Fitriani S.Pd (Pendidik di salah satu Pondok Pesantren di Baubau)

Kecelakaan di perairan laut Indonesia terjadi lagi. Peristiwa na’as ini menimpa KM Izhar, kapal yang terbakar di sekitar perairan Pulau Bokori ketika hendak menuju Salabangka di Morowali, Sulawesi Tengah pada Sabtu 17 Agustus 2019 sekitar pukul 00.00 wita. Akibatnya, ratusan penumpang melompat terjun ke laut, barang bawaan tak sempat lagi diselamatkan. Walhasil 7 orang dinyatakan meninggal dunia, 4 masih hilang. Tribunnews.com, 17/08/2019

Kejadian inipun lagi-lagi menambah daftar panjang kecelakaan yang terjadi pada mode transportasi di Indonesia. Hal ini membuat transportasi laut tengah dalam sorotan, karena sering kali kecelakaan terjadi secara hampir berurutan.

Akar Masalah

Carut-marut bak benang kusut yang melanda transportasi umum di Indonesia sebenarnya berawal dari anggapan yang salah ketika mendudukkan makna transportasi yang sesungguhnya. Transportasi umum di sistem sekuler, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini, telah melahirkan paham kapital, yaitu menganggap bahwa transportasi sebagai sebuah industri yang bisa menghasilkan keuntungan materi. Inilah pemahaman fatal yang bersumber dari sistem yang saat ini diterapkan di Indonesia. Sehingga tentu saja, cara pandang ini kemudian mengakibatkan kepemilikan fasilitas umum seperti transportasi dikuasai oleh perusahaan atau swasta, yang secara otomatis mempunyai fungsi bisnis agar dapat memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, bukan fungsi pelayanan yang aman dan tidak mengancam nyawa.

Tentu, pandangan kapitalis yang dalam pelaksanaan pelayanan publik, juga memberlakukan negara hanya berfungsi sebagai fasilitator, sedangkan yang bertindak sebagai operator diserahkan kepada mekanisme pasar. Layanan transportasi dikelola swasta atau pemerintah dalam kaca mata komersial, sehingga tak jarang mengakibatkan harga tiket sering kali mahal namun tidak disertai layanan yang memadai. Demi mengejar untung tidak jarang over load tanpa mempertimbangkan keselamatan penumpang. Karena prinsip sistem ini ialah mengeluarkan modal sekecil-kecilnya, dan memperoleh laba atau keuntungan sebesar-besarnya.

Kecelakaan laut yang terjadi di Indonesia mayoritas penyebabnya adalah karena over load. Tentu kita masih mengingat bagaimana karamnya KM Sinar Bangun dan KM Lestari Maju pada 2018 lalu. Penyebabnya karena kapal kelebihan muatan. Hal inilah pula yang terjadi pada KM Izhar. Jumlah penumpang yang diangkut melebihi kapasitas angkut kapal menjadi penyebab sebagian besar kecelakaan. Penyebabnya, kelalaian nahkoda dan minimnya pengawasan di pelabuhan. Selain itu perilaku aparat pengelola pelabuhan yang mengabaikan ketentuan yang berlaku. Seperti yang dikutip dari zona sultra.com, (18/08/2019) Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Kendari, Letkol Marinir Benyamin Ginting mengakui bahwa kapal motor (KM) Ihzar dengan rute Kendari menuju Salabangka itu mengangkut penumpang melebihi kapasitas muatan kapal. Kapal tersebut maksimal hanya bisa memuat 33 passanger on board (POB) atau manifest penumpang. Fakta yang terjadi, malah bermuatan 69 orang, alias 2 kali lipat dari jumlah yang sudah ditetapkan. Ini sungguh menjadi sebuah ironi. Pemahaman sekuler berbuah kapitalis begitu kental dan nyawa kaum muslimpun yang menjadi taruhannya. 

Menanggapi kasus kecelakaan transportasi laut yang terus terjadi, pemerintah seakan berlepas tangan. Hal ini tidak terlepas dari lemahnya pengawasan pihak terkait yang memiliki tanggung jawab dan wewenang memberikan izin kapal berlayar. Termasuk memastikan kelayakan kapal dan jumlah penumpang yang sebenarnya. Karena Indonesia terdiri dari belasan pulau-pulau kecil seperti Sulawesi Tenggara, yang tentu lebih intens dalam penggunaan mode transportasi laut dibanding transportasi darat.

Transportasi Strategis dalam Islam

Fakta sejarah membuktikan selama berabad-abad para Khalifah benar-benar mampu mewujudkan akses yang mudah bagi setiap individu hingga ke pelosok negeri terhadap transportasi publik gratis, aman dan begitu manusiawi dengan teknologi terkini. Kita bisa melihat masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. tatkala beliau menjadi kepala negara. Terkait dengan transportasi beliau berujar “Seandainya, ada seekor keledai terperosok di Kota Bagdad karena jalan rusak, aku khawatir Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban diriku di akhirat nanti”. Mindset seperti inilah yang mendasari pemimpin negara dalam menjalankan kebijakan transportasi. Kita juga bisa melihat sejarah, bahwa hingga abad ke-19 Khilafah Utsmaniyah tetap konsisten mengembangkan infrastruktur transportasi yang aman dan nyaman.

Kemudian, penerapan sistem ekonomi Islam juga akan memberikan jaminan pembangunan ekonomi yang berkah, adil dan sejahtera, yang akan meminimalisir kesenjangan ekonomi dan menjauhkan kerusakan pada masyarakat. Sehingga tak ada lagi keinginan dari masyarakat maupun negara untuk meraup keuntungan lewat transportasi dengan tanpa memperhatikan keselamatan penumpang.

Wallahu A’lam Bissawab