Kekeringan Melanda Terus, Negara Perlu Serius

oleh -59 views

Oleh: Masitah (Anggota Smart With Islam Kolaka)

Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara harus bersiap-siap menghadapi kekeringan. Antisipasi urgen dilakukan karena kekeringan yang akan terjadi terbilang panjang dan ekstrem. Peringatan itu disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berdasarkan hasil monitoring hari tanpa hujan (HTH) hingga tanggal 30 Juni 2019. Beberapa daerah di Jawa yang berpotensi mengalami kekeringan antara lain Sumedang, Gunungkidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan, dan Pamekasan.  Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku sudah mengantisipasi ancaman kekeringan. Kementerian PUPR misalnya telah menyiapkan sumur-sumur dan mobil tangki.

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mengingatkan pemerintah daerah untuk bersiap menghadapi cuaca ekstrem kekeringan yang berlangsung cukup panjang. “Dari hasil analisis BMKG, teridentifikasi adanya potensi kekeringan meteorologis yang tersebar di sejumlah wilayah,” ujar Deputi Bidang Klimatologi Herizal kemarin. Berdasarkan catatan BMKG, wilayah yang memiliki potensi kekeringan adalah yang telah mengalami HTH lebih dari 60 hari dan diperkirakan curah hujan rendah alias kurang dari 20 mm dalam 10 hari mendatang dengan peluang lebih dari 70%.

Cuaca ekstrim yang melanda negeri khatulistiwa ini kerap kali terjadi, negeri yang memiliki dua jenis musim ini sering kali terjadi cuaca over yang mengakibatkan bermacam bencana terjadi. Pada awal tahun 2019 lalu Indonesia di sapa dengan rentetan peristiwa mulai dari alam maupun manusia. Bahkan bulan ramadhan tahun ini disambut dengan musim hujan yang mengakibatkan di beberapa wilayah mengalami bencana, salah satunya seperti yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pasca lebaran wilayah Sultra dilanda bencana banjir dan longsor di beberapa titik, lokasi yang berdampak terparah, yaitu di Kabupaten Konawe Utara yang merendam rumah warga dan di Unahaa dan sekitarnya, kondisi tersebut mengakibatkan beberapa jembatan putus akibat longsor karena derasnya debit air yang mengalir, sehingga akses yang menghubungkan hingga ke Kota Kendari lumpuh. Hingga kini sisa-sisa bencana tersebut masih ada dan masih dalam tahap pemulihan.

Kapitalisme, Akar Masalahnya

Sejak hujan yang mengguyur beberapa lokasi di Indonesia, mengakibatkan kekhawatiran bagi masyarakat. Namun, kini cuaca kembali memanas bahkan intensitas hujan mulai menurun. Sesuai dengan apa yang disampaikan BMKG bahwa negeri khatulistiwa ini memasuki fase kemarau. Yang sudah terjadi di beberapa wilayah Indonesia dari Sumatera hingga Papua. Kondisi ini sudah di atasi dengan memberikan beberapa pompa air dan perbaikan ataukah pembangunan drainase untuk mengatur lajur air. Sebab, jika musim tani tiba saat kemarau panjang mengakibatkan gagal panen sebagaimana yang pernah terjadi dahulu. 

Soal banjir, kekeringan dan lingkungan atau permasalahan sumber daya air secara umum, selama sepuluh tahun sampai dua puluh tahun ke depan diyakini oleh banyak pihak merupakan masalah yang serius. Penanganan dengan metode parsial rekayasa prasanan sipil murni selama ini dijalankan justru banyak membawa dampak negativf dan sering menguras dana yang sangat mahal. Oleh karena itu perlu adanya konsep baru dan pemahaman baru yang lebih relevan, komprehensif yang secara sistemik mempunyai nilai lebih yang signifikan dibanding yang sudah dijalankan.

Terdapat beberapa faktor penyebab kekeringan dan banjir, diantaranya adalah faktor iklim ekstrem (kemarau ekstrem dan hujan ekstrem), faktor penurunan daya dukung DAS, faktor kesalahan perencanaan dan implementasi pengembangan kawasan, faktor kesalahan konsep drainase, dan faktor kesalahan prilaku manusia

Kekeringan ini merupakan murni kejadian alam, jika kita memaknai bahwa kerusakan yang terjadi di negeri ini bukan fenomena alam biasa, karena kebatilan terus tumbuh sumbur di negeri ini. Faktanya sederet peristiwa terus terjadi mulai dari penyimpangan seksual, kejahatan seksual, pencurian, korupsi terus terjadi, narkoba, illegal logging, pembukaan lahan illegal (mengkonversi lahan), dan lainnya. Sebab, aturan manusia yang diterapkan saat ini justru membuka peluang bagi meningkatnya berbagai macam kejahatan. Kebebasan atas individu semakin leluasa diberikan serta kian berkembang mengikut berkembangnya zaman pula. Berbagai macam aktivitas kejahatan baik kecil maupun besar terus bertambah, dari individu masyarakat bahkan penguasanya, hal ini terlihat investasi besar-besaran terjadi mulai pembangunan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam tambang, dan sebagainya. Sehingga saat musim hujan datang banjir akan terjadi seiring melebarnya pembukaan lahan atas perusahaan yang mengelola tambang. Kebanyakan mereka tidak memerdulikan Amdal dan bekerja terus menerus dan melebar sampai ke pemukiman penduduk, seperti yang terjadi di Kalimantan atas penambangan batubara. Dan pembangunan infrastruktur yang kian melejit memberikan efek panas yang berlebihan, wajar saja jika bencana tak ada habisnya, dimana negeri ini masih menerapkan sistem kapitalis-sekular dengan begitu kuatnya diberbagai aspek kehidupan dan mengabaikan syariat-Nya dalam mengatur manusia secara menyeluruh. 

Kembali Kepada Islam

Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini memandang bahwa alam itu sumberdaya yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan materidengan pahama kebebasan kepemilikan telah membuat manusia mengeksploitasi kekayaan SDA tanpa memikirkan dampak ke depan. Sungguh kita perlu penguasa dan negara yang peduli, yakni Khilafah. Sebagaimana sabda Rasul saw, “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus.” (HR.Bukhari)

Islam hadir menjawab bagaimana cara seorang hamba menunaikannya. Akidah islam menjaga setiap individunya dengan membekali pemikiran dan kepribadian dengan islam. Sehingga tidak berlebihan dalam memenuhi fitrah penciptaan ia sebagai manusia. Menerapkan hukum Pencipta dan menjalankan dalam suatu Institusi yang menjaga martabat bangsa agar tidak mudah di obrak-abrik oleh penjajah. Setiap kebaikan yang di bangun atas dasar iman pada Allah dan ketaatan pada-Nya dan Rasul-Nya akan berakibat keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Alhasil, hukum syara’ tidak bisa di tawar sekalipun kekayaan melimpah. Islam pula mengatur pembagian kepemilikan berdasarkan kebutuhan dengan sistem pengelolaan untuk kesejahteraan. Mengatur sumber daya alam sebaik-baiknya dan tidak sembarangan memberi izin hak pengelolaan yang tidak bertanggung jawab seperti sekarang. Dan mengizinkan individu untuk menambah kekayaan sesuai dengan hukum syara’. Maka, tidak ada aturan kehidupan terbaik selain aturan islam. 

Allah SWT berfirman, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S Al A’raaf : 96). Wallahu a’lam.