Kementan Dorong Tepung Kelapa Asal Wilayah Kepulauan Sultra Ekspor Langsung

oleh -111 views

Executive Meeting temu koordinasi penguatan kawasan kepulauan dalam meningkatkan produksi dan akselerasi ekspor komoditas pertanian di Sultra, yang digelar Kementan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sultra. Foto: Istimewa.

Baubau – Tepung kelapa atau Descoated Coconut kini mulai menjadi target pengembangan pemerintah Sulawesi Tenggara (Sultra) khususnya di wilayah kepulauan, pasalnya jumlah produk ini semenjak dikembangkan di tahun 2018 terus berkembang dan mulai diminati pasar global.

“Sudah diekspor ke Dubai melalui Surabaya, namun sangat disayangkan potensi ekspor sangat tinggi belum dapat langsung diekspor dari Sultra, ini yang harus kita carikan solusinya,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian (Kementan), Ali Jamil, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/6/2019).

Baca juga: Pemprov Sultra Gandeng Kementan Pacu Hasil Pertanian

Jamil memaparkan bahwa, sesuai dengan kebijakan operasional pembangunan pertanian adalah melalui pendekatan kawasan, seperti yang dituangkan dalam Permentan 50/2012. Kebijakan yang merupakan upaya reorientasi manajemen pembangunan dari kawasan sentra produksi yang segregatif menjadi kerja sama jaringan kelembagaan antar wilayah dengan komoditas pertanian unggulan menjadi perekatnya.

Kepala Barantan Kementan, Ali Jamil, saat memberi sambutan pada acara Executive Meeting Koordinasi Akselerasi Ekspor Komoditas Pertanian Wilayah Kepulauan Sultra di Baubau. Foto: Istimewa.

“Dengan pendekatan kawasan, diharapkan daya saing wilayah dan pengembangan komoditas pertanian unggulan dapat dirancang dengan lebih optimal, seperti tepung kelapa ini,” ujar Jamil.

Baca juga: Menteri PUPR Sambangi Korban Banjir di Sultra

Pada kesempatan yang sama Barantan juga melakukan pelepasan ekspor 2 komoditas produk pertanian dengan penyerahan Phytosanitary Certificate (PC) sebagai persyaratan negara ekspor, masing-masing Kakao Butter sebanyak 60 ton setara dengan Rp4,3 miliar ke Belanda, dan melepas pengiriman Tepung Kelapa sebanyak 78 ton setara dengan Rp1,5 miliar tujuan Dubai yang masih melalui pelabuhan ekspor di Surabaya.

Kepala Karantina Pertanian Kendari, LM Mastari, juga menyampaikan data eksportasi komoditas pertanian dari sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST, bahwa saat ini komoditas yang dapat diekspor langsung adalah kakao dalam bentuk setengah jadi, yakni tepung, Cacao Butter Produk milik PT Kalla ini telah diekspor sebanyak 360 ton ke Belanda di tahun 2018, dan tren meningkat sampai dengan Juni 2019 telah mencapai 240 ton dengan tujuan ekspor Belanda dan Jerman. Sementara komoditas unggulan lain yang diekspor tidak langsung namun melalui Makassar dan Surabaya selama tahun 2018 adalah Kopra total 45.049,8 ton/thn, Kakao total 4.567,2 ton/thn, Kacang Mete Mede sebanyak 7.851 ton/thn, Jagung sebanyak 3.957,6 ton/thn, dan Cengkeh sebanyak 3.043,9 ton/thn.

Karantina Pertanian Kendari mencatat asal komoditas unggulan wilayah Kepulauan Sultra berasal dari 9 kabupaten masing-masing Baubau, Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Muna, Muna Barat, Wakatobi, Buton Utara, dan Konawe Kepulauan. Dengan potensi produk dan wilayah yang besar.

“Diharapkan kedepan Pelabuhan Murhum di Baubau dapat menjadi pelabuhan ekspor,” harap Mastari.

Sementara itu, Gubernur Sultra yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, La Ode Mustari, menyampaikan apresiasi atas inisiasi pertemuan akselerasi ekspor yang digagas oleh Kementan dalam hal ini Karantina Pertanian Kendari. Upaya ini diharapkan dapat menguatkan kawasan kepulauan serta meningkatkan produksi dan akselerasi ekspor.

Mustari juga mengajak para pelaku agribisnis dikawasan Kepulauan Sultra untuk terus melakukan inovasi dan investasi.

“Sumber daya alam kami sangat banyak, mari kita kelola bersama agar dapat memenuhi pasokan nasional dan juga memiliki daya saing di pasar ekspor, yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ungkap Mustari.

Turut hadir pada acara ini, seluruh Sekretaris Daerah dari 9 kabupaten se-Sultra, Kepala Kanwil Bea Cukai Makassar, Sekretaris Ditjenbun, dan instansi terkait lainnya.

Diakhir acara, dilakukan penandatangan komitmen jajaran pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mendorong ekspor komoditas pertanian Sultra.

“Ini pesan kami kepada pelaku usaha, pahami aturan kepabeanan dan karantina sebagai trade tools di perdagangan global. Tanyakan pada Bea Cukai dan Karantina Pertanian di seluruh Indonesia, kami menggelar program Agro Gemilang, kami siap membantu tumbuhnya eksportir muda untuk menuju Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia, ” tutup Jamil.

bni/bni