Kesetaraan Gender, “Polusi” dalam Keluarga

Opini356 views

Oleh: Yuharia (Mahasiswi UHO)

Isu kesetaraan gender kian lantang disuarakan oleh gerakan feminis. Keberadaannya tidak hanya menjadi isu tetapi benar adanya. Bahkan orang nomor satu di Indonesia menjadikan kesetaraan jender sebagai bahan penjualan kepada asing dalam agenda KTT G20.

Seperti yang dilansir di kemlu.go.id, Presiden Joko Widodo mengangkat isu terkait pendidikan dan pemberdayaan perempuan dalam sesi III KTT G20 Osaka di Jepang. Jokowi menyampaikan dalam pidatonya bahwa pemberdayaan perempuan merupakan elemen penting untuk mencapai target Sustainable Development Goals (kemlu.go.id/29 Juni 2019). 

Kesetaraan gender merupakan ide barat yang terus disebar luaskan di seluruh penjuru dunia tak terkeuali di Indonesia. Misi dari dogma ini adalah untuk merusak pemikiran umat Islam terutama bagi kaum muslimah. Feminisme meyakini bahwa wanita memiliki hak yang sama seperti pria, wanita memiliki kebebasan mutlak atas tubuh, diri, dan hidupnya. 

Kaum feminis terutama di Barat selalu mengklaim telah mempunyai peradaban modern dan beradab. Padahal sesungguhnya peradaban itu penuh kerusakan dan kembali pada kebodohan. Salah satu gagasan yang tidak dapat diterima oleh akal manusia normal adalah kebebasan dalam bergaul antar lawan jenis. Mereka beranggapan bahwa ikatan pernikahan bersifat memaksa dan bisa menciptakan dominasi pria. 

Tapi faktanya, pergaulan bebas justru hanya menguntungkan kaum adam karena perempuanlah yang pada akhirnya harus merasakan efek tatkala kebablasan, seperti kehamilan, aborsi, prostitusi, perceraian hingga single mother. Sementara pria tidak terpengaruh apapun. Selain itu kaum hawa sekarang selalu menjadi korban “tirani kecantikan”. Jutaan anak perempuan berdiet keras dan menghabiskan uang untuk kosmetik dan fashion agar menjadi objek seks dan pemuas gairah pria.

Islam Memandang Kesetaraan 

Islam telah menetapkan kedudukan laki-laki dan perempan secara adil dan sesuai porsi masing-masing serta sama dalam kapasitasnya sebagai hamba. Islam juga menempatkan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan sesuai sifat dan  karakter khusus dalam saling melengkapi bukan menyaingi. 

Sesungguhnya kesetaraan antara pria dan wanita dalam segala hal adalah sesuatu yang tidak masuk di akal. Hal ini karena ide feminisme yang menginginkan kesetaraan gender tidak sesuai dengan realitas bahwa ada hal-hal terkait wanita yang tidak bisa digantikan oleh pria, begitupun sebaliknya. 

Dalam perihal mengasuh anak misalnya. Walaupun faktanya kaum adam juga bisa mengasuh dan merawat anak. Tetapi peran pria sebagai ibu tidak mampu menyamai perempuan karena mereka tidak bisa melakukan hal-hal sedetail ibu  seperti menyusui misalnya. Tidak hanya itu, perempuan juga memilki peran penting sebagai ummu wa rabbatul bait yang tidak bisa disepelekan karena dari tangannya kualitas generasi ditentukan. 

Selain itu, feminisme hasil pemikiran manusia. Apapun yang berasal dari manusia pasti sifatnya terbatas, lemah dan bergantung kepada yang lain. Sehingga ide feminisme tidak mampu menjadi solusi tuntas bagi permasalahan kaum perempuan.  

Jadi dalam Islam, pengkhususan bagi pria dan perempuan tidak bermakna adanya penghinaan atau dominasi salah satu pihak. Kedua mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih kemulian, yaitu dengan jalan taqwa kepada Allah semata. 

Sebagaimana firman-Nya :

“Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. Al Hujarat: 13).

“Sungguh  laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35). 

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Komentar