Ketergantungan Papua akan Tambang

oleh -16 views

Oleh: Zulfikar Halim Lumintang, SST. (Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara)

Kekayaan alam tanah Papua tidak perlu diragukan lagi. Baik itu berupa pemandangan alamnya maupun kekayaan berupa sumber daya mineral dan energi. Sebut saja Danau Sentani. Danau yang berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops ini memiliki 22 “pulau” di dalamnya ini sangat besar sampai bisa terlihat dari udara ketika kita naik pesawat. Untuk mengunjungi pulau-pulau di dalamnya, kita bisa menyewa motor boat kecil di salah satu desa di dekat danau. Terdapat 24 desa di sekitar danau ini, dan kita bisa membeli kerajinan tangan lokal serta mencicipi hidangan kuliner di berbagai tempat wisata di Papua seperti papeda dan juga ikan yang diolah.

Pemandangan yang elok macam Danau Sentani pun pasti jarang dilirik oleh wisatawan dalam maupun luar negeri. Kemudahan akses menuju lokasi pun masih menjadi keluhan. Hingga membuat satu-satunya jalur melalui udara pun tak bisa terelakkan dan harus ditempuh. Namun, permasalahan tidak berhenti sampai disitu saja. Harga tiket pesawat yang mahal menyusul sebagai permasalahan lanjutan. Hingga akhirnya, wisatawan dalam negeri pun lebih memilih untuk keluar negeri dibandingkan harus terbang ke Papua.

Beras Merah Tani Butuni

Tidak bisa dipungkiri, Papua masih bergantung kekayaan sumber daya mineralnya daripada keindahan alam yang berwujud pariwisata. Hal itu juga ditunjukkan oleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Papua yang masih didominasi oleh sektor Pertambangan dan Penggalian. Tercatat selama periode lima tahun terakhir, 2014 hingga 2018 kontribusi sektor tersebut selalu diatas 34%. Pada tahun 2014 kontribusi sektor Pertambangan dan Penggalian mencapai 34,56% dengan laju pertumbuhan -2,81%. Selanjutnya, kontribusi sempat menurun hingga mencapai angka 32,22% dengan laju pertumbuhan 6,72% pada tahun 2015. Kontribusi sektor tersebut kembali menguat hingga mencapai 34,08% atau meningkat 1,86 poin dengan laju pertumbuhan 13,10% pada tahun 2016. Penguatan kontribusi terus berlanjut pada tahun berikutnya hingga mencapai 35,19% pada tahun 2017 dan yang terakhir mencapai 36,72% pada tahun 2018.

Melihat kontribusi sektor Pertambangan dan Penggalian yang begitu besar bagi Papua. Seharusnya sektor tersebut mampu memberikan umpan balik kepada tenaga kerja lokal untuk mengelola pertambangan dan penggalian. Namun nyatanya, sektor Pertambangan dan Penggalian di Provinsi Papua masih didominasi oleh Tenaga Kerja Asing (TKA). Pada tahun 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sakernas mencatat bahwa penduduk yang bekerja di sektor Pertambangan dan Penggalian hanya berjumlah 16.226 jiwa. Jumlah tersebut tentu tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mencapai 1.204.116 jiwa. Hal ini tentu menjadi sorotan. Karena potensi tambang Papua lebih dari cukup untuk menampung tenaga kerja lokal.

Maka dari itu, apa yang sebenarnya menjadi permasalahan ketika perusahaan pertambangan lebih memilih TKA dibandingkan tenaga kerja lokal? Lagi dan lagi, skill dan pendidikanlah yang membuat tenaga kerja lokal terpinggirkan. Perusahaan yang notabene milik asing (karena mayoritas saham dipegang asing), tentu tidak ingin mengambil resiko dengan merekrut tenaga kerja lokal yang memiliki skill, tingkat disiplin, dan pendidikan yang rendah. Oleh karenanya, pemerintah setempat diharapkan mampu untuk membuka kursus ataupun pendidikan kejuruan yang aplikatif dan langsung menjurus kepada perusahaan pertambangan yang ingin dituju oleh calon pekerja tambang. Hal ini guna mempermudah mereka calon pekerja tambang lokal yang ingin bekerja di perusahaan tambang yang bercokol di tanah mereka.

Di satu sisi, hanya berfokus pada sektor primer seperti sektor pertambangan dan penggalian akan membuat Papua semakin tertinggal. Karena, seperti yang kita ketahui bersama ketergantungan pada tambang itu tidak bisa abadi. Cepat atau lambat sumber daya alam tersebut akan habis juga. Oleh karena itu, Papua juga harus mulai berpikir untuk menggenjot kekayaan alam mereka yang berupa danau, lembah, pantai, bahkan gunung agar bisa menjadi daya tarik wisata. Supaya sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Papua juga bisa berkontribusi terhadap PDRB Papua. Yang mana sejauh ini, hingga tahun 2018 kontribusi sektor tersebut tidak pernah mencapai 1% terhadap PDRB Papua.