Ketersediaan Pasokan Pangan Dorong Deflasi Di Sultra

Sultra Raya235 views
Turunnya harga pada komoditas sayur-sayuran merupakan pemicu deflasi di Sultra hingga pada Maret lalu.

KENDARI, PORTALSULTRA.COM – Sulawesi Tenggara pada bulan Maret 2017 mencatatkan deflasi sebesar 0,17% (mtm) jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,31% (mtm). Hal ini disampaikan Deputi Humas Kantor Perwakilan (KPw) BI Sultra Dedi Prasetyo, Kamis (6/4/2017).

Penurunan tersebut terutama didorong oleh deflasi yang terjadi di Kota Kendari sebesar 0,24% (mtm) dan terkendalinya inflasi di Kota Baubau pada kisaran 0,02% (mtm). Adapun sumber penurunan tekanan inflasi didorong oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan yakni pada komoditas beras, ikan segar dan komoditas sayur-sayuran dan tarif pulsa telepon seluler. Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Sultra sampai dengan bulan Maret tercatat 0,91% (ytd) atau secara tahunan mencapai 2,25% (yoy).

Kelompok volatile food masih mengalami trend penurunan yang didorong oleh bertambahnya pasokan komoditas bahan makanan di pasar. Penurunan tekanan inflasi pada kelompok volatile food secara dominan terjadi di Kota Kendari, sementara di Kota Baubau justru tercatat mengalami peningkatan.

“Mulai berlangsungnya panen padi di sebagian wilayah Sultra dan berlimpahnya tangkapan ikan segar di Kota Kendari menjadi penyebab utama penurunan inflasi kelompok volatile food,” imbuhnya.

Kondisi tersebut, kata dia, juga didukung oleh distribusi komoditas sayur-sayuran dari luar Sulawesi Tenggara yang berjalan lancar sehingga tidak mengganggu ketersediaan stok komoditas di pasaran. Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai sebesar -0,08% (yoy).

Inflasi inti pada bulan Maret 2017 juga tercatat mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. “Kondisi tersebut disebabkan oleh penurunan tekanan kelompok sandang yang terjadi baik di Kota Kendari maupun Kota Baubau,” terangnya.

Disamping itu, penurunan inflasi inti pada Maret 2017 juga disumbang oleh deflasi pada tarif pulsa ponsel. Sementara itu komoditas emas perhiasan tercatat relatif stabil. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 2,99% (yoy).

Sementara itu inflasi kelompok administered prices (komoditas yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah) justru tercatat mengalami peningkatan. Kondisi tersebut terjadi seiring adanya peningkatan tekanan inflasi tarif angkutan udara terutama di Kota Kendari dari -7,01% (mtm) pada bulan Februari menjadi sebesar 1,33% (mtm), dan adanya penurunan besaran deflasi di Kota Baubau.

Peningkatan tekanan inflasi tarif angkutan udara tersebut terjadi di tengah situasi mulai kembali normalnya jumlah pengguna jasa layanan udara. Adapun faktor yang menahan tekanan inflasi kelompok administered prices pada bulan Maret 2017 yakni adanya penurunan tekanan dari tarif listrik serta komoditas rokok.

Inflasi Sultra pada tahun 2017 diperkirakan masih terkendali pada rentang 4% ± 1% yang merupakan sasaran inflasi nasional. Risiko peningkatan inflasi pada tahun 2017 diperkirakan berasal dari peningkatan tekanan pada kelompok inflasi inti dan kelompok administered prices. Dalam forum High Level Meeting TPID Sultra pada 9 Maret 2017 lalu, Gubernur Sultra menekankan perlunya upaya peningkatan produksi pangan khususnya komoditas yang bisa dihasilkan Sultra guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Selain itu TPID Sultra terus mendorong TPID Kota/Kabupaten untuk menjalin kerjasama antar daerah dalam rangka memenuhi kebutuhan barang strategis khususnya antara daerah yang memiliki kelebihan produksi dengan daerah yang kekurangan pasokan.

Editor    : Ajmain Yusdin

Komentar