Ketika Sajadah Bersimbah Darah 

Opini472 views

Oleh: Siti Maisaroh, S.Pd

Di hari Jum’at berkah. Sungguh kabar dari saudara di sana membuat hati ini terguncang. Bagaimana tidak? Saat mereka tengah menjalankan ibadah di Masjid yang sejatinya tiada mengusik atau mengganggu siapapun (karena sholat adalah urusan dengan Allah). Justru mereka harus pasrah dengan berondongan peluru-peluru ganas dari manusia yang sama sekali tak punya belas kasihan.

Diberitakan bahwa korban tewas dalam penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru) bertambah menjadi 49 orang. Kepolisian Selandia Baru menyebut penembakan brutal itu ‘direncanaka sangat matang’. Seperti dilansir Reuters, Jum’at (15/3/2019) komisioner kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, dalam konferensi pers menyebut korban tewas dalam serangan teroris itu mencapai 49 orang. Perdana Menteri Jacinda Ardern telah menyembut penembakan brutal itu sebagai ‘serangan teroris dan mengecamnya’. (detiknews,Jum’at/15/3/2019).

Masjid yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman. Sajadah, benda suci yang dijadikan tempat bersujud. Telah diceceri darah mereka yang insyaAllah khusnul khotimah. Dengan bebasnya kaum kafir (yang memusuhi Islam) masuk dan melampiaskan kebuasannya. Lantas, bagaimana dengan respon dunia akan halnya?

Bagaimana Respon Dunia

Ketika kita melihat fakta tragis demikian, pasti kita akan mengatakan bahwa kaum Muslim posisinya sebagai korban. Tetapi, justru menuai respon dari seorang senator Australia, Fraser Anning yang menyalahkan imigran Muslim atas teror di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru) tersebut.

Anning yang mewakili Negara bagian Queensland di Senat Australia itu, berkomentar lewat serangkaian cuitan controversialnya di Twitter. (detiknews,Jum’at/15/3/2019).

Secara umum dunia memang tak bergeming. HAM yang slogannya siap membela hak-hak hidup manusia pun tak berkutik sama sekali. Ini menunjukan sikap dunia Barat yang tidak peduli pada nasib kaum Muslim. Tidak adil dan tidak punya pembelaan akan nasib negeri-negeri Muslim seperti di Palestina, Suriah, Rohingya, juga Selandia Baru. Tetapi, ketika terjadi sesuatu atas mereka, mereka akan mengecam dengan tuduhan keji, bahwa Islam adalah teroris.

Lihatlah juga. Betapa bungkamnya para penguasa negeri Muslim atas kejadian tragis di Selandia Baru. Tiada satu pun penguasa negeri Muslim yang bertindak dan bersikap tegas atasnya. Penguasa Arab yang katanya negeri Muslim. Penguasa Indonesia yang rakyatnya dominasi Muslim, semua bungkam tiada bergeming.

Kita Butuh Khilafah

Sejak negeri (daulah) Islam runtuh di Turki oleh Inggris dan sekutunya, kaum Muslim layaknya ayam kehilangan induknya. Layaknya bayi ditinggalkan ibunya pergi. Tiada lagi Negara yang bisa melindunginya. Tiada lagi Negara yang siaga menjaga nyawa dan harta mereka. Karena kini sistem Kapitalis Sekular telah menggantikan sistem Islam yang pernah jaya 13 abad lamanya.

Kini sangat terasa. Betapa menderitanya kaum Muslim tanpa adanya khilafah (negera Islam). Ini berarti kita harus mengembalikan keadaannya. Dengan perjuangan tentunya. Karena hanya khilafah yang memiliki amir al-jihad (markas besar angkatan bersenjata). Ia adalah bagian dari struktur pemerintahan Negara Islam yang siap menghadapi ancaman dan serangan kaum kafir.   

Tiadanya khilafah juga membuat kaum Muslim lemah. Karena negaranya terpecah-pecah. Tidak lagi memiliki kekuatan persatuan. Nasionalisme telah menjadikan negeri-negeri Muslim ‘tutup mata’ dari fakta yang terjadi akan nasib saudara seakidahnya hanya karena beda Negara. Padahal, sejatinya kaum Muslim ibarat satu tubuh. Juga karena dalam Islam, nyawa sangat berharga, bahkan sekalipun dari dunia. Sabda Rasulullah Saw, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang Mukmin tanpa hak.” (HR. An Nasa’I, Turmudzi, dan disohihkan oleh al Albani).

Tidak seperti yang terjadi sekarang, kaum Muslim benar-benar diobok-obok kehormatannya. Disudutkan dari perhatian, bahkan tak diberi belas kasihan.

Marilah saudaraku, kita berjuang bersama. Agar aturan Islam diterapkan sempurna oleh Negara. Allah telah mengingatkan, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah: 50).

Waallahu a’lamu bishowab.

Komentar