LGBT Gencar Negara Makin Sekular

oleh -46 views

Oleh: Lia Amalia (Anggota Smart With Islam Kolaka)

Jakarta – Netizen di Indonesia dibuat geram oleh akun Instagram @alpant**i ‘Gay Muslim Comics’. Akun itu diduga berasal dari Malaysia, namun ramai diserbu oleh netizen RI.

Dikutip dari detikcom, Minggu (10/2) malam hari ini, akun tersebut sudah memiliki 3.708 ribu followers. Gambar profilnya adalah pria muda berkulit cokelat memakai kopiah. Deskripsi akun itu adalah ‘Gay Muslim Comics’. Deskripsi akun itu terejawantahkan dalam isi posting-postingnya. Tokoh komik yang diposting akun itu adalah pria kulit cokelat berpeci tadi. Dalam tiap postingnya, pemilik akun melampirkan hashtag #gaymalaysia #gayindonesia #gaymuslim #gaycomics #komikmalaysia. Patut diduga akun ini dikelola oleh warga negara tetangga.

“Sedang kami telusuri, indikasi awal akun tersebut dari Malaysia,” ujar Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) Ferdinandus Setu kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).

Temuan akun gay ini, menunjukkan makin banyaknya pelaku LGBT yang sudah semakin berani menunjukkan eksistensinya, dan penyebarannya yang begitu cepat, bahkan mengikutkan kata “muslim” dalam akun comic gay tersebut, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa umat Islam pun ada yang menjadi pelaku LBGT, ini tentu sangat tidak relevan dengan ajaran umat Islam yang menolak keras keberadaan kaum pelangi ini.

Liberalisme Akar Masalnya

Mayoritas rakyat Indonesia memandang negatif kaum pelangi namun tetap menerima mereka dan bahkan ada yang dilindungi keamanannya, karena beranggapan bahwa kaum pelangi pun punya hak untuk hidup. Masalah LGBT ini pun seolah tak pernah habis karena didukung oleh pemerintah, karena sejauh ini belum ada tindakan tegas dari pemerintah untuk menindak pelaku-pelaku LGBT tersebut sehingga mereka secara bebas dan leluasa menyampaikan opininya dan menyebarkan virus di tengah masyarakat.

Kenapa itu bisa terjadi? Padahal bukankah tidak ada satu agama pun yang membolehkan LGBT? Tapi inilah demokrasi. Ia memisahkan agama dari kehidupan dan konsep demokrasi terletak pada suara terbanyak, bukan pada yang benar. Di Perancis, misalnya, RUU tentang pernikahan sesama jenis mendapat suara lebih banyak di parlemen daripada yang menolaknya. Begitu juga di AS yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian.

Kebebasan dan HAM. Konsep itulah yang diusung orang memilih berkelakuan seperti apa, itu dianggap menjadi hak masing-masing individu termasuk keputusan menjadi bagian dari LGBT. Jika dilarang, itu dianggap pelanggaran HAM. Menggunakan alasan kebebasan, sistem demokrasi, dan pelanggaran HAM pun menjadi tameng yang kuat untuk permintaan melegalkan pernikahan sesama jenis. Alhasil, peraturan agama yang tertera dalam setiap agama pun “dikubur” oleh undang-undang.

Perbincangan mengenai eksistensi dari kelompok ini di sosial media cukup menyita banyak perhatian masyarakat yang membuat masyarakat tergiring pada opini untuk melindungi kaum pelangi ini dan bahkan memberikan ruang untuk mereka dan mereka bertujuan agar diberikan payung hukum untuk melindungi mereka, dan salah satu yang bisa dilakukan untuk menghentikan penyebarluasan kelompok ini yaitu dengan menghapus atau menghentikan berbagai informasi dari mereka yang berupaya mereka sampaikan kepada masyarakat, dan tentu perlu peran pemerintah dalam menangani masalah ini karena dalam hal ini media dikuasai oleh pemerintah dan pemerintah yang bisa melakukan usaha penuh pencegahan penyebaran kelompok LGBT ini.

Efek dari doktrinisasi memang sangat membahayakan, sesuatu yang salah dapat dianggap sebagai kebenaran dan juga sebaliknya. Dan mirisnya lagi, umat muslim pun tanpa sadar ikut-ikutan dalam mendukung dan mensupport atas nama kebebasan dan kesetaraan HAM. Generasi muda umat muslim sengaja dihancurkan oleh propaganda dan doktrinisasi yang terus menerus di gencarkan oleh Orientalis, di Indonesia sendiri banyak dukungan dalam bentuk verbal dan tulisan yang dibuat oleh orang muslim sendiri.

Pandangan Islam

Alquran sebenarnya sudah membahas perbuatan ini dan menamakannya dengan perbuatan yang keji. Sebagai muslim kita pasti tahu tentang perbuatan kaum Nabi Luth, yaitu kaum sodom yang mendatani pasangan sejenisnya untuk mengeluarkan hasrat seksualnya, maka Allah azab mereka akibat dari perbuatan hina dan keji yang mereka lakukan. Sebagaimana yang dituangkan dalam surat Asy–yu’aro ayat 160-166 : “Mengapa kamu tidak bertakwa?”– Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.–Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia,– Dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 160-166)

Negara harus segera memberikan tindakan tegas mengenai kaum LGBT tersebut dengan aturan Islam, dengan pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai hukum syara yang memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah bagi yang belum melakukan. Hal ini didasarkan kepada hadits Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda: ”Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (liwath) maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukannya” (HR. Al-Khomsah kecuali an-Nasa’i). 

Sehingga Ketika ini diterapkan maka tidak ada celah bagi pelaku untuk mempublikasikan diri sebagai kaum LGBT, ataupun mengopinikannya. Justru yang ada mereka akan takut dan meninggalkan dunia LGBT karena negara pun membantu meluruskan keimanan dari kaum pelangi ini.

Namun sayangnya, Sistem demokrasi tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah LGBT secara tuntas karena pencegahan dan pemberantasan LGBT tak bisa dilakukan secara parsial, tapi harus sistemik. Tidak bisa perubahan dilakukan secara individual/parsial sebab menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain, maka dari itu peran negara sangat penting karena untuk menuntaskan permasalahan LGBT ini dengan mengganti sistem nya dari sistem sekularisme ke sistem Islam.

Alhasil, secara mendasar syariah Islam mengharuskan negara untuk senantiasa menanamkan akidah Islam dan membangun ketakwaan pada diri rakyat. Negara pun juga berkewajiban menanamkan dan memahamkan nilai-nilai norma, moral, budaya, pemikiran dan sistem Islam kepada rakyat. Maka dari itu untuk menghasilkan masyarakat yang bersyaksiyah Islam hanya dengan penerapan Islam dalam segal lini kehidupan. Wallahu a’lam.