Liberalisasi Mengintai Remaja

Opini665 views

Oleh: Lia Amalia (Anggota Smart with Islam Kolaka)

Tepat hari ini, Kamis (11/7/2019) Film Dua Garis Biru tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia. Namun, dikabarkan sebelum tayang di bioskop, Film Dua Garis Biru ini tuai kontroversi. Dikutip Tribunstyle dari TribunSumsel pada Kamis (11/7/2019) dikabarkan sebelumnya film Dua Garis Biru ini menuai kontroversi. (TRIBUNTIMUR.COM)

Pasalnya, Dua Garis Biru dianggap film yang tidak pantas untuk dikonsumsi hak layak umum. Hal tersebut diketahui pada bulan April beberapa saat yang lalu, saat trailer Film Dua Garis Biru ditayangkan dan berbuntut reaksi negatif. 

Bahkan beredar petisi bertajuk ‘Jangan Loloskan Film yang Menjerumuskan! Cegah Dua Garis Biru di Luar Nikah’. Tidak jelas siapa yang membuat petisi tersebut, namun yang pasti perilisan film Dua Garis Biru ini mendapatkan pro dan kontra dari masyarakat. Meski begitu, setelah melalui proses panjang Film Dua Garis Biru akhirnya berhasil lolos ke bioskop. Film Dua Garis Biru ini dibintangi oleh Angga Yunanda dan Zara Jkt48, yang akhirnya mendapatkan izin untuk masuk ke bioskop dan dijadwalkan akan tayang perdana hari ini, Kamis (11/7/2019).

Film tersebut mempertontonkan bagaimana kenakalan remaja di usia yang dimana mereka di tanamkan rasa penasaran terhadap sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan. Sehingga hasil dari rasa penasaran itu pada akhirnya terjadilah kenakalan remaja yang berdampak negatif bukan hanya pada individu melainkan keluarga dan sekolah.

Kasus seperti ini sudah sering terjadi, penayangan film-film yang seharusnya mampu mendidik kaum muda, malah menyajikan film/tontonan yang merusak pemikiran, dengan mempertontonkan sesuatu yang tidak semestinya tidak terjadi, dan melanggar aturan pemenuhan naluri individu. 

Liberalisasi, Pangkal Kerusakan

Di usia remaja sekarang itu, sangat tertarik dengan film/tontonan yang sesuai dengan usia mereka, tanpa mereka pikirkan pengaruh tontonan mereka terhadap tingkah laku mereka nantinya. Karena dalam masa remaja mereka masih mempunyai pemikiran yang labil dan belum benar-benar bisa memilah antara hal yang baik dan yang buruk dan apa yang kita lihat dan tonton secara terus menerus maka itu akan mempengaruhi pola tingkah laku setiap individu.

Pemerintah seharusnya bersikap tegas, membuat aturan yang memberikan efek jera, yang sifatnya tidak sementara dan lemah, tidak hanya memberikan petisi, lalu kemudian penayangan film masih tetap di lanjutkan. Sebab jika demikian para pembuat film akan tetap membuat film yang semisal sebab tidak ada aturan yang melarang secara tegas untuk pembuatan film yang merusak kaum muda Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah sebagai penegak hukum harus tegas memberikan hukuman terhadap pembuat film dan yang menayangkan film yang mampu menyesatkan atau merusak generasi muda. Dan untuk menerapkan hukum yang tegas dan adil tidak dapat terealisasikan dalam sistem demokrasi sebab sistem hari ini lahir dari ideologi kapitalisme, yang menilai semuanya dari materi. Maksudnya selama aturan yang dibuat Pemerintah menguntungkan bagi para pembuat hukum maka akan tetap seperti itu aturannya, meskipun dengan aturan tersebut banyak pihak di rugikan oleh aturan tersebut, terutama masyarakat kecil, masyarakat awam.

Islam Menjaga Remaja, Terbukti!

Masa Remaja adalah masa dimana seseorang mulai bisa beridola, yakni mulai bisa tertarik akan sesuatu yang telah ada di dalam fikirannya. Sehingga kaum muda terkadang lebih condong meniru tentang apa yang sedang trend atau sedang mengglobal. Namun, terkadang hal yang ditiru kurang tepat karena bertentangan dengan aturan, kebiasaan yang dilakukan,adat istiadat,serta aturan agama sehingga akan menimbulkan sebuah kerusakan moral. Karena masa remaja ialah masa dimana manusia menjadi labil. 

Dalam Islam mulai dari kecil hingga remaja memang kaum muda harus di tanamkan akidah yang benar yakni Islam, Pendidikan agama merupakan pondasi utama. Dengan memberikan pondasi agama yang kuat, memberikan pemahaman-pemahaman yang berlandaskan Islam serta ada peran keluarga dalam mengontrol setiap anak, memberikan pendidikan dini tentang tujuan manusia diciptakan yakni beribadah. Sehingga dengan begitu setiap individu bisa dipastikan tidak akan terjadi lagi penurunan moral remaja sehinggaremaja mempunyai kualitas hidup yang lebih baik. Dan semuanya itu tidak terlepas dari masyakat dan negara yang harus hadir memberikan kebijakan-kebijakan yang bersifat menyeleluruh yang tentunya bisa menghasilkan pelajar yang terbaik dan tentunya kebijakan  tersebut sesuai dengan fitrah manusia.

Dalam sejarah selama kurun waktu penerapan Islam. Islam mampu mencetak generasi-generasi remaja rabbani yang bertingkah laku sesuai dengan Islam, serta mampu menjadi pemimpin perubahan di tengah-tengah umat. Kita bisa melihat sosok remaja Mus’ab bin Umair serta Muhammad Al-Fatih penakluk konstantinopel. Di usia belia mereka dihabiskan untuk berjuang di jalan Allah, menebar manfaat bagi Islam dan masyarakat serta mereka hadir menjadi remaja pemimpin umat di usia belia, dengan ketakwaan dan keimanan yang tinggi serta mampu menjadi teladan sepanjang masa. Maka dengan penerapan Islam secara komprehensif kita akan mampu melahirkan generasi hebat layaknya Mus’ab bin Umair dan Muhammad Al-Fatih yang akan menjadi oase di era modern seperti sekarang. 

Maka dengan penerapan Islam secara kaffah akan melindungi generasi dari kerusakan media dan pergaulan bebas secara komprehensif. Peradaban Islam akan melahirkan generasi yang berkualitas, generasi yang sholeh dan sholehah, bertaqwa, penyejuk bagi orang tua, pengemban dakwah yang cerdas dan intelektual dan menjadi pemimpin umat terbaik.

Alhasil, Islam adalah agama yang komprehensif memberikan solusi secara sempurna dan menyeluruh dalam setiap problem kehidupan termasuk dalam hal menyelesaikan kriminalitas remaja. Sehingga solusi tuntas dari segala problematika remaja dan masyarakat secara umum adalah penerapan sistem Islam, yakni membuat aturan sesuai dengan aturan sang pencipta dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Wallahu a’lam.

Komentar