LIMA KEISTIMEWAAN SISTIM MOWINDAHAKO SUKU TOLAKI

oleh -1.299 views
Kalosara

Drs. Basaula Tamburaka,

Penulis Adalah Pemerhati Budaya Konsentrasi Kalosara Tinggal di Kendari

PORTALSULTRA.COM- Dalam masyarakat Tolaki sering diungkapkan “Poopo Nokoa Notewali To’ono, Keno Tahorimbo Merapu” Artinya belumlah sempurna hidup seseorang manakalah ia belum menikah. Ungkapan ini menggambarkan maknanya bahwa, manusia pada umumnya dapat dikatakan “sempurna” apabila sudah berumah tangga atau menikah.

Beras Merah Tani Butuni

Suku Tolaki adalah etnis yang mendiami di daratan pulau Celebes bentuk huruf “K” tepatnya di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Mereka tersebar hampir seluruh daratan Tenggara Pulau Sulawesi (Kolaka, Kolut, Koltim, Konawe, Konsel, Konut, Kota Kendari dan Konkep). Etnis ini bekas dari Kerajaan Konawe dan bekas dari Kerajaan Mekongga.

Suku Tolaki memiliki tujuh unsur  budaya universal. Unsur kebudayaan itu sebagaimana di kemukakan Koentjadiningrat (1980) yang meliputi (1) Bahasa, (2) Sistem Teknologi, (3) Sistem mata pencaharian hidup dan ekonomi, (4) Organisasi sosial, (5) Sistem pengetahuan,(6) religious, (7) Kesenian. Demikian ketujuh budaya yang dimiliki oleh etnis Tolaki.

Adapun kelangsungan hidup masyarakat Suku Tolaki sebagai masyarakat berbudaya, tidak lepas dari aturan-aturan yaitu aturan dalam sistem budaya, sistem social, kebudayaan fisik yang masih “dipelihara” kuat sampai dewasa ini adalah “Sistim Hukum Adat Perkawinan atau Mowindahako Tolaki”.

Tulisan singkat ini akan membicarakan; Pandangan hidup orang Tolaki dalam sistim Mowindahako. Strategi Peminangan Mowindahako. Lima Keistimewaan Sistim Mowindahako Tolaki. Terakhir Penutup.

PANDANGAN HIDUP ORANG TOLAKI DALAM SISTIM MOWINDAHAKO

Sebelum dijelaskan pandangan hidup orang Tolaki dalam sistim Mowindahako terlebih dahulu dijelaskan macam-macam istilah penyebutan Perkawinan suku Tolaki.

Pertama, istilah Mesanggina dan Measonggina atau Measongguro. Artinya “setanak sebelanga dua orang sepiring”. Ini paham Mekongga. Sedangkan paham Konawe Mesanggina atau Asongguro artimya bersenggama. Kedua paham perkawinan ini pernah berlaku tempo doelole sebelum mereka menganut agama samawi yakni agama resmi suku Tolaki Islam dan Nasrani.

Kedua, istilah Merapu artinya jika itu “pohon rimbun” disatukan dalam satu rumpun keluarga atau menyatukan tali persaudaraan dua rumpun keluarga besar dengan cara menjodohkan.

Ketiga, istilah Perapua, atau lazim disebut Mowindahako. Artinya seserahan adat perkawinan dan seserahan Adat lainnya yang diserahkan kepada pihak keluarga wanita., Selanjutnya dalam tulisan ini menggunakan istilah Mowindahako Tolaki.

Pandangan hidup orang Tolaki dalam sistim Mowindahako. Sama halnya dengan suku lain di Indonesia, khususnya masalah perkawinan bagi orang Tolaki lazim dikenal Mowindahako adalah sakral. Dipandang sebagai salah satu dari tiga mata rantai penting dalam siklus kehidupan dan lainnya ialah masalah kelahiran dan masalah kematian.

Ketika membicarakan usurusan Mowindahako. Bukan saja merupakan urusan antara si anak yang melangsungkan kawin itu, tetapi juga merupakan masalah keluarga. Bahkan melibatkan masyarakat dimana orang tua anak itu berada atau dikalangan keluarga besar tersebut. Bagi orang tua pria, berbicara masalah kawin pasti difokuskan perhatiannya kepada Mowindahako, mereka serius membahas baik moril terlebih materil, hingga anaknya dapat melaksanakan acara upacara Mowindahako dengan sukses dan selamat.

Karena salah satu hal yang selalu “dipikirkan” dalam benak orang tua. Baik keluarga pria maupun keluarga wanita adalah jangan sampai anak mereka mengalami “terlambat kawin” disebut “Mombalalo”. Apalagi jika anak gadis, kasian jangan sampai menyandang “gelar” Luale Laaho atau gadis tua alias tidak kawin kawin sampai tua. Hal ini bukan saja merupakan aib bagi anak bersangkutan, tetapi aib bagi orang tua anak tersebut. Adapun yang sangat didambakan anak mereka adalah, segera mendapat jodoh yang direstui kedua belah pihak keluarga. Hal ini menurut mereka sebagai mempertemukan kesinambungan nama baik, status sosial mereka yang disebut “Momboule Pahoro”. Artinya kesinambungan status nama baik keluarga mereka dimata masyarakat.

Sebagaimana pandangan diatas, masalah jodoh atau lazim dijodohkan, bukan hanya urusan anak itu sendiri, baik untuk pria terlebih anak perempuan. Tapi merupakan “hak mutlak” orang tua. Namun sebaliknya jika anak pria mereka ketika memilih “Jalan sendiri”. Artinya tanpa direstui kedua orang tua. Sudah pasti Nibubunggui Taaniurusi. Artinya pihak orang tua tidak mau mengurusinya dan sudah pasti diserahkan pihak ketiga yakni perangkat Adat, Tokoh agama dan Pemerintah setempat, mereka turun tangan menjembatani.

Namun ironisnya setelah mereka memiliki momongan misalnya, mereka akan dipertemukan kembali kepada orang tuanya. Hal ini dimediasi Tolea dan dilaksanakan Adat Mekopu yakni Adat sembah sujud disebut Mepaturusa kepada kedua orang tuanya. Dengan suatu adat Pikono Anamotuo. Artinya memohon ampun atas segala kesalahan yang diperbuatnya. Ketika itu lagi-lagi yang berperan disini adalah ornament Kalosara. Jika saja orang tua wanita tersebut tidak mau menerima O’sara, mungkin karena sakit hati dan atau dendam kesumat tidak mau memaafkan. Maka karekter nilai Hukum Adat Kalosara itu, akan “menimpa” mereka. Orang tersebut diberi gelar Mate Sara (Mati Adat). Biasanya mereka disisihkan dalam pergaulan masyarakat Suku Tolaki dan tidak akan dibawahkan lagi ornament Kalosara. Di sinilah keistimewaan Kalosara dalam Sistim Mowindahako Suku Tolaki.

STRATEGI PEMENANGAN MOWINDAHAKO

Sebagaimana disebut di atas, urusan Mowindahako yang dilaksanakan secara normal. Bukan saja jurusan semata anak itu, baik untuk pria maupun anak perempuan. Tapi merupakan hak mutlak pria karena menganut perkawinan kekeluargaan Patrilineal. Pada umumnya orang tua Tolaki sebagaimana disebutkan diawal tulisan ini, dimana keluarga mereka akan mampu mempertahankan garis keturunan yakni menghubungkan tali silaturahim keluarga besar yang tergolong keluarga terpandang dalam masyarakat.

Sehingga usaha pihak orang tua dalam mengurus masalah Mowindahako, sungguh-sungguh menjadi perhatian besar. Untuk hal itu, mereka membentuk panitia “pemenangan” Mowindahako. Panitia “segitiga” ini terdiri orang tua pihak pria, Tokoh Adat (To’onomotuo) dan Tolea. Ketiganya berdiskusi mengatur strategi teknik pelamaran agar tidak memahami hambatan berarti atau jangan sampai mengalami kebutuntuan.

Dengan sejumlah pertanyaan. Apakah sistim melamar Morumbandaleeha ? Berapa isi Popolo ? Berapa beban Tekongga besar atau kecil ? Kapan waktu dan tempat perhelatan ? Apalagi jika dihadapi keluarga wanita terpandang misalnya. Adapun teknik pemenangan Mowindahako dipercaya Tolea bersama To’onomotua yang mengatur perlengkapan adat pada acara upacara Mowindahako.

Jika dijumpai Tolea yang kurang professional sebagai fungsi negisiotor yang mumpuni, pasti berdampak pihak keluarga pria, akhirnya bisa kelabakan. Boleh jadi dikenakan syarat Adat yang cukup “berat” meskipun itu masih serumpun keluarga perlakukan disini Adat tidak peduli, akan dikenankan nilai beban Mowindahako yang cukup tinggi. Jika kondisi demikian dua saja alternatif, dibatalkan perkawinan dan atau ditunda batas waktu tertentu, baru dibuka kembali sebagai lembaran baru pembicaraan tentang Mowindahako. Disinilah keunikan sistim Mowindahako Tolaki.

Dalam strategi Mowindahako pihak keluarga pria akan meloby melalui peran dan fungsi Tolea agar perlakuan Mowindahako yang dilakukan mengedepankan asas kesepakatan kedua belah pihak keluarga yang harus dilewati mulai 4 tahap,  jika bisa mengarah ke tahap 3 atau 2 tahap saja, hingga ke tahap Mowindahako dapat berjalan normal dan sukses dengan memilih sistim Morunbandaleeha.

Melihat asas manfaat dengan perkembangan baru masalah keuangan masyarakat dewasa ini, dengan perilaku Morumbandole sebagaimana Adat masyarakat adalah suatu kemajuan memperpendek jalur Mowindahako hal ini dibolehkan adat Sara Mbedulu. Namun secara teknis tetap diberlakukan Adat tengga-tenggano O’sara. Di sinilah keistimewaan perlakuan Adat Mowindahako dengan sistim Morumbandeoleha.

LIMA KEISTIMEWAAN SISTIM MOWINDAHAKO SUKU TOLAKI

Sebelum dibicarakan keistinewaan sistim Mowindahako Tolaki terlebih dahulu diuraikan kedudukan Kalosara dalam proses Mowindahako. Bahwa tidak sah atau tidak resmi suatu Mowindahako manakala tidak menghadirkan ornament Kalosara. Masyarakat hukum Adat Tolaki mengisyaratkan sejak tempo dahulu hingga dewasa ini tidak berkekuatan hukum  jika Kalosara sebagai alat legitimasi tidak hadir. Dalam acara upacara Mowindahako sebagai berikut:

Pertama, Seperti kita pahami bersama benda Adat Kalo terbuat dari rotan adalah sebagai  Regalia. Regalia adalah “Benda  Adat Kebesaran Kerajaan”. Sedangkan benda adat Kerajaan (Regalia) yang terdapat disuatu kerajaan tertentu, banyak ragam dan jenisnya antara lain, bekas kendaraan yang pernah dipakai Raja. Seperangkat benda-benda adat yang memiliki nilai magis Religius, antara lain Keris, Tombak, Parang dan benda-benda pusaka lainnya.

Semua disebutkan diatas “wajib” diamankan atau disimpan di Museum  sebagai benda purbakala dan sebagai “benda mati” untuk selalu dipamerkan. Dikunjungi masyarakat umum sebagai pengetahuan keperbukalaan. Namun beda benda Adat Kalo ( sebagai regalia), yang mungkin di Indonesia hanya ada dibekas Kerajaan Konawe dan bekas Kerajaan Mekongga. Tidak demikian benda Kalo ini selalu “hidup” dan dihidupkan oleh penggunaannya. (Meskipun memang Kalo juga pasti kita jumpai di Museum Provinsi Sultra disana dipamerkan sebagai Benda adat Kerajaan Konawe). Kalo ini telah hadir  di muka bumi Landolaki sekitar 15 Abad konon ditemukan dari Sangia Lahuene oleh penemunya Ratu Wekoila atau Sangia Ndudu alias Mokele More Unaaha (1105 M).

Benda “Kalo” yang ada di Meseum itu, belumlah dapat diartikan sebagai aturan Adat Istiadat dalam hukum Adat Mowindahako. Karena hakekatnya Kalosara terdiri atas dua suku kata yakni “Kalo” dan “Sara”. Kalo sebagai benda Adat Kebesaran Kerajaan Konawe, (Regalia) suatu benda berbetuk lingkaran  dengan cara-cara mengikat yang melingkar. Sedangkan kata O’sara diartikan sebagai aturan-aturan tentang apa yang dilarang dilakukan dan apa yang boleh dilakukan dalam keluarga, individu sebagai legitimasi, tertib hukum, tertib sosial dalam masyarakat Suku Tolaki.

Dari pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa, O’sara pada hakekatnya dapat diartikan sebagai aturan-aturan Adat istiadat yang antara lain menjadi panduan bersama dalam melaksanakan upacara adat Mowindahako Tolaki. O’sara adalah aturan yang harus dipatuhi semua pihak. Disinilah dapat dilihat ciri khas dari sistim hukum Adat Tolaki yang disebut O’sara.

O’sara (ornamen Kalosara) ini tidak ditemukan pada suku lain atau suku bangsa di dunia manapun di Indonesia. Hal ini sebagaimana hasil penelitian oleh pakar Budaya Tolaki H. Muslimin Saud, SH. Pada hakekatnya Adat disini disebut O’sara dapat diwujudkan atau divisualisasikan lewat suatu benda Rotan atau atribut Kalo yang kemudian lebih bersifat ritual magis disebut Kalosara. Disinilah keistimewaan sistim Mowindahako Tolaki.

Kedua, Ketika usai sudah perhelatan Mowindahako yang diperankan  para Tokoh Adat cukup melelahkan itu. Diawali tahap pertama sampai tahap kelima atau sistim Mowindahako. Namun menurut Adat Mesarapu Tolaki belumlah selesai  sampai ditahap Mowindahako saja. Tapi masih ada lagi satu sesi Adat yang disebut Sara Rambahi Nggare yaitu Adat untuk pertama kalinya menginjangkan kaki anak mantu wanita, di rumah mertua keluarga pria sebagai anggota keluaraga baru.

Penulis ingin mengambil salah satu contoh bagi rumah tangga baru yang telah melaksanakan Mowindahako. Sebut saja keluarga baru Asrisal Asrun putra pertama Walikota Kendari kini berstatus suami setelah seminggu di rumah mertua. Saatnya memboyong istri kesayangan Andi Dea Novita ke rumah pribadi orang tuanya. Disana diadakan Sara Rambahi Nggare secara hikmat penuh makna malam itu di hadapan keluarga pihak mertua bapak Asrun Walikota Kendari.

Sebelum memasuki rumah mertua, digelar ritual Mendukari  Tawapundi. Kedua kaki kanan suami istri bersamaan memasukan dalam baskom terdapat 2 potong pelapah pisang. Dipandu Tolea sambil membaca mantra. Apa makna disini penulis tidak sempat uraikan. Begitu tiba diruang keluarga sudah menunggu kedua mertua dengan wajah berseri-seri bahagia mendalam mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT yang baru pertama kali keluarga mereka mendapatkan “anak mantu” yang sudah lama didambakan itu.

Yang penulis tunjukkan Keistimewaan disini adalah dalam Sara Rambahi Nggare. Jika tadinya posisi Tolea ketika Mombesa sistim Mohindahako berada pada pihak keluarga pria  dan yang menerima adalah Pabitara Mewakili pihak keluarga wanita. Namun Sara Rambahi Nggare posisi mereka berbalik 100 % yang menerima keluarga pria ini adalah Pabitara. Kini Tokea berfungsi sebagai atas nama pihak  keluarga wanita, menyerahkan sepenuh hati Andi Dea Novianti untuk “dijaga” oleh Pabitara atas nama keluarga pria yakni mertuanya hingga memasuki usia kakek-nenek Isyah Allah.

Adapun inti Sara Rambahi  Nggare, adalah mertua memberi “cendera mata” kepada anak mantu antara lain satu rumpun pohon sagu rimbun. Satu ekor kerbau hidup yang diberikan secara simbolik. Namun malam itu, dihadapan Tolea dan rombongan keluarga besar wanita diserahkan cendera mata dari mertuanya adalah sebongkah mas langsung di terima anak mantu tersebut, yang kini resmi menjadi anggota keluarga besar Asrun.

Yang penulis ingin ungkapkan di sini selama pelaksanaan seremonial Adat Mowindahako berjalan sesuai ketentuan hukum Adat. Dimana pihak keluarga pria menerapkan Tengga-Tengga O’sara. Bahkan mampu dilaksanakan tahap Sara Rambahi  Nggare yang selama ini mulai dilupakan sebagaimana keluaraga Tolaki.

Seluruh rangkaian perkawinan suku Tolaki. Mulai tahap pertama sampai tiba Sara Rambahi nggare selalu dilibatkan To’onomutuo, Tolea, Pabitara dan Ornamen Kalosara. Bahwa tanpa “segitiga” perangkat Adat tersebut dalam prosesi Adat Rambahi Nggare di atas. Niscaya tidak akan berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Di sinilah Keistimewaan  Sistim Mowindahako Suku Tolaki.

 Ketiga. Sebagaimana kita ketahui upacara Adat Mowindahako Tolaki  memiliki ciri Khas tersendiri pemanfaatan benda – benda Adat berupa benda alam yang masih segar maupun benda yang sudah diproses. Penulis tunjukan pemanfaatan benda-benda Adat dalam ritual peribadatan Mowindahako seperti menampilkan. Daun sirih masih segar terdiri 40 lembar sejajar daun tulangnya. Pinang muda berkelopak 40 biji, 2 buah kelapa bertunas tinggi 30 cm, Tunas sagu, Tunas pisang, Jagung pilin, Bokor pinang. Ini ditampilkan tidak boleh dibungkus harus nampak alami disaksikan seluruh hadirin dalam upacara Mowindahako

Selain itu ditampilkan benda-benda yang sudah mengalami proses terdiri, Lopa-lopa terbuat dari kuningan, 2 buah gong dari kuningan, 2 buah emas 22 karat,  80 buah sarung plakat,  kain panjang, lampu templok, 2 botol minyak tanah, 2 liter garam, tembakau hitam 2 leta, kapur sirih, minyak kelapa 2 botol, 5 kg beras dalam balase.

Inilah “benda-benda alam” sebagai benda Adat, yang wajib ditampilkan pada acara Mowawo Niwule sampai acara Mowindahako. Benda-benda Adat ini memiliki makna tersendiri yang berhubungan dengan Penghargaan terhadap kemanusiaan suku Tolaki, adalah wajib terpenuhi pada saat pelaksanaan upacara Mowindahako. Demikian keitimewaan  “O’sara” di saat upacara Mowindahako Suku Tolaki.

Keempat. Sidang pembaca yang budiman, jika diatas pemanfaatan benda-benda Adat dari Alam maupun yang sudah diproses. Kini kita akan menyaksikan kedua “Sutradara” sedang beraksi “dipanggung” membawakan tata cara ritual upacara Adat Mowindahako yaitu cara duduk Tolea-Pabitara. Cara mengangkat Kalosara, Cara menyerongkan atribut Kalosara kepada Pemerintah, Pu’utobu, To’onomotuo dan kepada keluarga pihak wanita yang diwakili Pabitara

Tibalah Acara Mohue O’sara. Artinya suatu acara ritual sebelum memasuki acara Pernikahan menurut ketentuan agama, telah selamat melaksanakan tugas yang berat dalam acara upacara Mowindahako dengan ungkapan penuh makna kedua Perangkat Adat memegang  ujung ornamen Kalosara Tolea berucap Aso, Ruo, Tolu, Omba. Kalimat ini bermakna bermohon perlindungan kepada  Tuhan Yang Maha Esa/Penguasa/Penjuru/Sangia Lahu ene, sangia Mburi Wuta, sangia Losoano Oleo dan Sangia Tepuliano Oleo dan kepada Ombu Sameena yang diperankan Tolea-Pabitara. Melalui benda Adat Kalosara yang keramat ini insya Allah pasangan kedua mempelai dirahmati Allah SWT.  Demikian keistimewaan sistim Mowindahako Tolaki

 Kelima. Kali ini penulis tunjukan makna  simbolik ungkapan dalam upacara Mowindahako suku Tolaki dengan struktur bahasa Adat Tolaki yang diungkapkan Tolea-Pabitara dalam upacara Adat Mombesara, dengan terlebih dahulu meletakkan Kalosara. Adapun bahasa yang  diungkapkan dengan santun, ucapan dengan permainan kata puitis, yang semuanya sarat dengan makna, struktur kata yang menjadikan Bahasa Tolaki Asli.

Berikut ini salah satu ungkapan dalam upacara Adat Mombesara yang bukan perkawinan idela disebut Adat Mosokei atau Mopopolei (Karna membawa lari anak gadis orang). Artinya datang membentengi atau menghalagi sesuai sara mbedulu yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai Ragam Sastra Lisan Tolaki Oleh DR. Arifin Banasuru, M.Pd dalam Mardin Tolea di Tudaone Wawatobi Konawe (2003) sebagai berikut :

Ya Tuan yang empunya anak yang empunya kembang

Kalau kemarin-kemarin dulu kalian kehilangan

Kalau kemarin-kemarin dulu kalian mencarinya

Yang tidak ada pada tempatnya

Kalau memang katanya dimana ia berada

Itulah memang katanya kami datang menyampaikan

Membawa berita

Kepada tuan yang empunya anak yang empunya kembang

Yang tidak ada pada tempatnya

Tidak di gigit anjing

Tidak ditelan yang empunya air

Tidak juga yang empunya hutan

Adapun jawaban orang tua wanita melalui  jubir Pabitara, sebagai “korban” anak gadisnya yang dibawa lari sebagai berikut :

Ya, kami menerima berita itu yang kalian bawah

Kalau boleh kami tahu siapa lelakinya ?

Stop, Sampai disini tidak dijawab Tolea, Kenapa? Karena Kalosara telah menjelaskan secar simbolik ketika digelar Membesara Adat Moesokei atau Adat Mepopolei Kepada Keluarga wanita tersebut. Adapun Tolea “tidak” menjawab atau pelit menjawab adalah karena salah satu fungsi Kalosara, bermakna mempertemukan “Pendapat Pikiran dan Perasaan” antara pihak keluarga pria dan keluarga wanita untuk menuju pada satu kesepakatan.

Apalagi filosofi Kalosara bagi masyarakat suku Tolaki adalah simbol penghargaan terhadap kemanusian sebagai penghargaan terhadap kemanusiaan. Kalosara digunakan pada segala sendi kehidupan manusia suku Tolaki yaitu mulai di dalam kandungan sampai pengantaran ke liang lahat. Disinilah Keistimewaan sistim Mowidahako Tolaki, yang selalu didampingi ornamen Kalosara.

 PENUTUP

Adat perkawinan suku Tolaki terbagi dua bentuk yaitu perkawinan ideal yakni Mowindahako yamg dilakukan atas kesepakatan keluaraga wanita dan keluarga pria. Dan  perkawinan tidak ideal yakni juga harus diadakan Mowindahako tetapi nilai Mowindahako beda,  bukan didasarkan atas kesepakatan keluarga wanita dan keluarga pria seperti struktur dalam bahasa Asli Tolaki diatas.

Perkawinan ideal melalui 4 tahapan yang dimulai Metiro atau Morakepi  Mondutudu, (Pelamaran penjajakan) Mowawoniwule (Peminangan resmi). Dari empat tahapan ini ungkapan Tolea dan Pabitara hanya terdapat pada Mondutudu, Mowawoniwule / Momboketetoro Niwule dan Mowindahako

 Perkawinan tidak ideal terbagi atas tiga bentuk yakni (1) Mosekei (membentengi) dengan tiga tahapan yakni Mepopoli (mengarhargai), Mesokei (membentengi) dan Mowindahako (menyelesaikan seserahan Adat. (2)  Melanggahako Nirako (memunculkan) dengan dua bentuk yakni Melanggahako (memuculkan) dan Melanggahako Nirako (memunculkan karena ditangkap) tahapnya Melanggahako dan Mowindahako

Dan (3) Umoapi Sarapu(rampas tunagan) dengan tahapan Mombuleaho (mengembalikan ) dan Mowindahako dan Umopi Walino To’ono (rampas istri) tahapnya Mowea Sara Olowa (memisahkan  madu) dan Mowindahako. Dari ketiga bentuk perkawinan tidak ideal di atas maka ungkapan Tolea dan Pabitara terdapat pada setiap tahapan dengan bahasa Tolaki puitis penuh makna.

Sebagai penutup, bahwa ornament Kalosara adalah memngatur tiga hal. Pertama, sebagai simbol supermasi hukum Adat Tolaki. Kedua, sebagai simbol mencegah konflik. Ketiga, sebagai simbol pedoman hidup dalam menciptakan ketertiban masyarakat Tolaki, sebagaimana ditetapkan masyarakayat hukum Adat Perkawinan Tolaki. Apakah itu sistim perkawinan ideal maupun Perkawinan tidak ideal seperti diatas, Kedua-duanya selalu akan diselesaikan dan diakhiri sistim Mowindahako dengan perantara ornament Adat Kalosara. Di sinilah sesungguhnya keistimewaan sistim Mowindahako Suku Tolaki. Insya Allah.