MASA DEPAN KENDARI DITENTUKAN DI PILKADA

oleh -112 views

CELEBESTIMES.COM – Momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah satu mekanisme demokrasi untuk melahirkan pemimpin yang betul-betul memiliki karakter dan bisa memimpin rakyatnya dengan     seadil-adilnya. Pilkada secara serentak akan dilaksanakan pada 15 Februari 2017 meskipun waktu pelaksanaannya masih tergolong jauh tetapi upaya para calon sudah terlihat dalam kompetisi mengikat hati para rakyat dimulai dari pemasangan baliho bahkan sampai bersilahturahim kerumah-rumah.

Kini, saatnya masyarakat kota Kendari  menikmati kebebasan hak dalam mewujudkan cita-citanya. Walaupun kebebasan rakyat hanya terjadi dalam memilih pemimpin, tetapi yang paling penting, disaat rakyat punya kebebasan maka wujudkanlah mimpi dan harapan semaksimal mungkin dengan memilih pemimpin-pemimpin ideal, visioner yang mampu membawa kota kendari menjadi lebih baik menuju kota yang makmur, sejaterah, dan maju.

Dalam system desentralisasi/otonomi daerah, kwalitas kepemimpinan daerah berpengaruh besar terhadap kemajuan dan kesejahteran rakyat. Cita-cita dan semangat visioner, kerja keras, pengalaman dan terutama anti korupsi menjadi kunci dalam memajukan daerah. Walikota Surabaya, dan Walikota Bandung misalnya, setidaknya telah melaksanakan secara maksimal harapan rakyat, melalui prestasi, pertumbuhan ekonomi, pariwisata dan kemajuan-kemajuan lain di masing-masing daerah tersebut. Begitu juga sebaliknya bukan malah harapan lebih baik yang terwujud tetapi kemunduran tantanan daerah karena Bupati/Walikota tidak bertanggung jawab, korupsi dan minimnya inisiasi atau kreasi untuk kemajuan daerah.

Pilkada adalah momentum untuk menentukan masa depan Kota Kendari lebih baik. Masa depan yang baik ditentukan sejauhmana rakyat memanfaatkan momentum Pilkada dengan cerdas, political well. Max Horcemer pernah mengatakan, sikap kritis kita dewasa ini menentukan kehidupan dimasa depan. Kecerdasan dalam memilih adalah bentuk kritis rakyat dalam mempertaruhkan masa depannya. Kesadaran politik kritis terhadap hegemoni dominan, system dan situasi politik yang tidak adil merupakan dasar penting dalam civil society (Gramsci). Memilih tidak hanya didasari pengetahuan sepintas akan calon-calon pilihan, apalagi tanpa pengetahuan sedikitpun, atau bahkan memilih karena mony politic, maka potensi lebih baik hanyalah utopis. Parahnya lagi, adagium yang muncul ditengah-tengah masyarakat yaitu “siapa yang banyak uanggnya dia yang jadi dan dari suku mana, dia kupilih”. Calon yang banyak uangnya berpotensi mampu membeli rakyat dan calon memiliki suku yag sama itu yang jadi. Popular sovereighty saat ini bukan menjadi legitimasi memajukan daerah, kemajuan dan kemenangan ada ditangan many soverighty.

Pemimpin yang ideal sejatinya bukan melulu, punyak kwalitas keilmuan tinggi, pengalaman, popularitas dan lainnya. Tetapi yang menjadi kunci keberhasilan pemimpin-pemimpin daerah adalah keberanian atas nama rakyat, empati, punyak tanggung jawab besar dalam mengemban amanah, wewenang dan mau mengabdi kepada rakyat.

Dari itu, Pilkada Serentak pada bulan Februari barangkali masih cukup lama. Tetapi seleksi rakyat sebelum memilih bisa dimulai saat ini. Walaupun masih belum ditetapkan sebagai calon, tetapi bakal calon sudah mulai menampakkan, bersosialisasi baik lewat media cetak, benner ataupun pendekatan langsung. Saatnya rakyat meninggalkan budaya politik kaula/parochial, rakyat harus menciptakan budaya politik partisipan. Mulai saat ini rakyat ikut terlibat dalam diskusi politik, komunikasi politik, untuk menciptakan kwalitas pilihan yang lebih baik. Kwalitas pemimpin lahir dari kwalitas politik rakyat. Semua orang berharap Pilkada melahirkan pemimpin yang lebih baik, tetapi harapan itu tidak dibarengi dengan pilihan yang baik, cerdas dan integrity maka sia-sia. Jangan berharap menemukan pemimpin yang baik kalau memilihnya dengan cara yang tidak baik. Rakyat harus cerdas dan pintar dalam memilih. Memilih bukan karena, uang, popularitas bahkan perkoncoan tetapi memilihlah karena pilihan kita membawa harapan rakyat lebih baik.

Olehnya itu, tujuan Pilkada adalah mewujudkan pemerintahan kota kendari lebih baik. Pilkada merupakan evaluasi rakyat secara langsung terhadap pemimpin. Pemimpin (incumbent) yang berhasil akan dipertahankan. Sebaliknya, jika tidak sesuai harapan maka ditumbangkan dan memilih pemimpin baru untuk harapan lebih baik. Dan telah banyak bupati/walikota yang bekerja jauh dari harapan rakyat, ditengah kekecewaan rakyat terhadap pemimpin yang ingkar jangji (tidak sesuai yang diharapkan), harapan lebih baik dari rakyat tetap tinggi dan terus mengalir. Harapan adalah sebuah impian yang tidak akan pernah pupus selagi keinginan dan kebutuhan masih ada. Harapan akan terus berlanjut untuk lebih baik dan semakin baik, seiring dengan dinamika kehidupan. Ditengah tingginya sebuah harapan dan menipisnya kepercayaan, masih ada peluang besar untuk calon-calon pemimpin yang bisa memberikan harapan lebih baik.

Harapan rakyat dapat diformulasikan oleh kandidat bupati/walikota untuk meningkatkan daya tawar dan kepercayaan rakyat. Masyarakat mengharap pemimpin mampu mewujudkan setidaknya dua aspek penting, yang pertama keadilan dan yang kedua kesejahteraan. Strategi politik calon kepala daerah harus mampu menggairahkan rakyat dengan merumuskan agenda-agenda kampanye yang bernilai keadilan dan kejehteraan. Rumus itu harus berinovasi dengan pola yang berbeda dan menyentuh keinginan/kebutuhan rakyat. Calon pemimpin harus menunjukkan dan menyakinkan bahwa rakyat tidak akan diberikan janji manis dan harapan palsu (PHP), tetapi harapan yang akan diwujudkan dan dibuktikan. Saatnya semuanya berlomba bagaimana meyakinkan rakyat bahwa ia bisa harapkan lebih baik. bukan menghedemoni pilihan dan keyakinan dengan kekuasaan dan mony politic.

Muh. Husriadi, S.A.B,
Mahasiswa Pascasarjana
Universitas Brawijaya
Asal Kota Kendari