Membangun Pendidikan Bebas Utang

Opini322 views

Oleh: Rosmiati

Belum lama ini, dunia pendidikan bak mendapatkan durian runtuh dari Bank Dunia. Ya, lembaga keuangan raksasa dunia tersebut mengucurkan pinjaman dana sebesar Rp 3,5 Triliun untuk peningkatan kualitas sejumlah madrasah di Indonesia (CNNIndonesia, 28/06/2019). 

Pemberian ini dengan maksud agar kualitas pendidikan berbasis Islam di tanah air semakin lebih baik. Pasalnya, pendidikan Islam di Indonesia saat ini, dinilai sebagai lembaga pendidikan yang paling modern di dunia. Sementara, kualitasnya masih belum membaik. Ditambah lagi, hari-hari ini, wajah pendidikan Islam sedang dihantui dengan tantangan pemahaman luar, yakni radikal dan ekstrimis. Harapannya, melalui kucuran dana ini pendidikan Islam kita, dapat berbenah (Republika.co.id,30/06/2019).

Kita tentu berbahagia, jika kualitas pendidikan mulai diperhatikan dunia. Namun yang meragukan, akankah pihak World Bank memberikan semua ini dengan percuma saja? Sedang dalam dunia kapitalis hari ini, terkenal istilah Not Free Lunch  (tidak ada makan siang gratis). 

Disisi lain, bukankah utang bangsa ini juga sudah menumpuk di bank dunia? Bahkan dikabarkan, untuk melunasi utang ini butuh waktu yang cukup lama. Sebab bunga pinjamanya, telah beranak-pinak dengan suburnya. Tidakkah dengan menghutang lagi, akan menambah tumpukan utang kita?.

Utang adalah Penjajahan Gaya Baru

Kapitalisme yang dihadirkan sebagai pedoman dalam tata kelola perekonomian hari ini memang tegak dengan prinsip utang-piutangnya. Tuan-tuan di negara maju, yakni para pengendali kapitalisasi hari ini memang hobi memberi utang dengan ekor bunga yang juga tidak sedikit jumlahnya. 

Sayang, transaksi ini sejatinya haram bagi kaum muslimin. Namun, apa boleh buat, sistem ini juga telah berhasil merenggut kehormatan dan keadidayaan sebuah negeri untuk bisa tegak di atas kaki sendiri. Sehingga untuk sekedar membangun negerinya saja, harus berhutang dulu. 

Jarang yang menyadari bahwa utang adalah alat yang dipakai negara-negara besar dunia untuk menjajah negeri-negeri kecil di bawahnya. Sistem ini memang telah di-desain sebisa mungkin, dimana ketika diluncurkan, secara bersamaan akan menyerang beberapa sendi kehidupan.  Mulai dari sisi kedaulatan, keadidayaan juga ketahanan, akan mudah ia lumpuhkan dalam satu waktu. Alhasil, untuk bangkit ia harus meminta tolong dari yang kuat. Sayang, yang membantu tidaklah memberi dengan percuma. 

Di samping itu juga,  utang sesungguhnya hanyalah jebakan dari para kapitalis untuk melemahkan negara-negara berkembang. Belajar dari beberapa bangsa di dunia, rasanya kita tidak ingin mengikuti jejak mereka, bukan?. Lihatlah, bagaimana dengan mudahnya, Srilanka melepas infrastrukturnya, yakni Pelabuhan Hambatato. Begitu pula dengan Pakistan yang juga harus merelakan Gwadar Port-nya demi menutupi utang negaranya. 

Sungguh ini sangat tidak mungkin. Sebab dari aset barel minyak dan mineral lain inilah, harapan hidup anak cucu kita ke depan,  juga keutuhan bangsa ini. Jika ini habis maka dengan mudahnya bangsa ini kembali dikuasai dan dikendalikan pihak asing. 

Islam Membangun Tanpa Utang

Peningkatan mutu pendidikan memang penting untuk dilakukan. Pendidikan harus berinovasi di tengah zaman yang kian modern, itu menjadi keharusan. Namun, bukan dengan jalan berhutang. Melainkan dengan mengolah sumber daya alam yang hasilnya kembali dimasukan dalam pemenuhan pos-pos pendidikan negeri ini. 

Pembiayaan pendidikan memang bisa didapat dari hasil pengelolaan sumber daya alam. Jika melirik pengaturan berbasis Islam, dana untuk pembangunan di bidang pendidikan diperoleh dari baitul mal. Baitul mal merupakan lembaga penyimpanan harta kaum muslimin. Harta ini diperoleh dari beberapa aspek. Mulai dari Fai, ghanimah, kharaj dan satu diantaranya, yakni hasil dari harta kepemilikan umum yang meliputi, hasil laut, sungai, perairan, hutan, padang gembalaan,  minyak bumi, gas alam dan berbagai kandungan mineral lainnya. 

Dari sinilah nanti, para pengatur urusan rakyat menyisihkan untuk biaya peningkatan maupun pembangunan di bidang pendidikan. Maka tidak heran, jika di masanya, penguasa kaum muslimin sampai menggratiskan pendidikan bagi segenap rakyatnya. Saat itu semua kalangan dapat merasakan manisnya mengecap pendidikan, dari jenjang dasar hingga universitas. Dan ini luar biasa hasilnya. Terbukti dengan lahirnya banyak ilmuwan dan ulama yang berkepribadian Islam serta menghasilkan karya yang menakjubkan, dimana sampai kini masih bisa dirasakan. 

Di sisi lain, pendidikan Islam hadir dengan tujuan pencapaian yang khas.  Dimana erat kaitannya dengan kebijakan politik suatu negara. Untuk itu, Penguasa kaum muslimin tidak dibolehkan berhutang dalam hal pemenuhan urusan pendidikan ini. Disamping aktivitas ini haram sebab kental dengan aktivitas ribawi, berhutang juga akan membuka jalan pihak asing untuk mengintervensi setiap kebijakan pendidikan yang akan dibuat. Sedangkan kurikulum dalam pendidikan ini harus dibangun atas dasar Islam itu sendiri. 

Bukankah Islam dan Sekularisme yang hari ini menjadi landasan pijakan barat dalam berbuat, tidak akan bisa menyatu? Dimana keduanya terlampau sangat jauh berbeda dalam hal menyikapi segala sesuatu. Islam dalam setiap aktivitas kehidupannya harus melibatkan Allah Swt di dalamnya. Sedangkan Sekularisme, enggan melibatkan sang Pencipta dalam beberapa aktivitasnya, utamanya dalam hal mengurus kepentingan negara. 

Untuk itu, sebaiknya peningkatan mutu pendidikan ini  janganlah ditempuh dengan menghutang. Negara harus menyiapkan sendiri pembiayaannya, yakni dengan mengalokasikan dana dari hasil pendapatan negara yang mana bisa didapat dari hasil pengolahan sumber daya alam yang ada. 

Wallahu’alam

Komentar