Mencetak Generasi Ulul Albab dalam Islam

oleh -30 views

Oleh: Hamsina Halisi Alfatih

Dunia pendidikan seyogyanya mampu mencetak generasi-generasi emas yang mampu mengukir peradaban. Melalui keilmuannya, keintelektualannya, idealismenya, dan amanah yang diembannya selama menapaki pendidikan, tentunya generasi tersebut mampu menghasilkan karya untuk agama dan bangsa.

Namun apa jadinya para generasi dalam dunia pendidikan diera kapitalisme saat ini, justru kurang lebihnya mengahasilkan sarjana yang intelek namun bermental koruptor.

Beras Merah Tani Butuni

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD menyebutkan, dunia perguruan tinggi (PT) sedang menjadi “terdakwa” dari kekacauan tata kelola pemerintahan dan munculnya korupsi di mana-mana. (vivanews.com, 21/12/19).

Masalah pendidikan hingga sampai perguruan tinggi memang tak terlepas dari penerapan sistem kapitalis sekulerisme saat ini. Meskipun demikian, penataan sistem pendidikan yang salah saat ini bukan tak lain hanyalah terfokus untuk mencetak para pekerja. Dilain pihak, malah pemerintah sendiri lebih membuka lapangan pekerjaan bagi pihak asing.

Walhasil, penampakan yang terlihat dimasyarakat banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menjadi pengangguran. Walaupun demikian, banyak pula yang memilih pekerjaan halal menjadi tukang ojek, tukang parkir dan sebagainya. Mandulnya pemerintah dalam meriayah masyarakat, terutama bagi generasi muda yang sejatinya mampu menghasilakan sumber daya manusia bagi kemajuan bangsa.

Akar Masalah dalam Dunia Pendidikan

Jika kita menelisik lebih jauh, maka kita akan menemukan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus korupsi meski oleh orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Degradasi moral adalah salah satu faktornya. Hal tersebut jelas karena satu-satunya sumber moral yaitu agama dipisahkan dari kehidupan. Pemisahan agama dari kehidupan atau sekularisme dijadikan asas untuk membangun kehidupan bangsa dan negara. Mata pelajaran dan mata kuliah agama hanya mengambil peran sebagai pelengkap kurikulum hanya1,5 jam dalam seminggu sehingga sulit untuk diharapkan memberi dampak positif dalam kehidupan individu, masyarakat, dan negara. Tak heran, para pelajar di sekolah, maupun universitas tak memahami bagaimana memunculkan nilai moralitas dalam kehidupan mereka. Bahkan sampai mereka mendapat amanah jabatan menjadi penguasa.

Ini menjadi bencana besar bagi rakyat indonesia. Sekularisme di bidang pendidikan meniscayakan orang-orang yang cerdas sainstek tapi jauh dari nilai moralitas sehingga tidak amanah memegang kekuasaan. Selain itu, ekonomi kapitalisme liberal yang menanamkan pola hidup dan pola pikir materialis menjadikan nilai kehidupan hanya distandarkan pada materi. Tidak heran meski sarjana dan berpendidikan tinggi, tapi berorientasi materi untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Sehingga hal tersebut membuat banyak kasus korupsi saat ini.

Masalah pendidikan di indonesia bukan saja karena kualitas intelektualitas rendah yang memicu terjadinya korupsi. Tetapi juga diperparah dengan degradasi moral generasi muda yang masih belum bisa menyaring perkembangan globalisasi. Tawuran , free sex, narkoba, dan tindakan asusila maupun pelanggaran hukum banyak mewarnai pendidikan Indonesia, bahkan hal ini dapat kita saksikan baik secara langsung maupun dimedia massa. Disisi lain, masyarakat mempertanyakan kinerja pendidikan dengan pandangan sekeptis, namun kita juga tidak bisa menyalahkan lembaga pendidikan karena sebagai masyarakat kita juga memiliki andil yang besar dalam proses pendidikan.

Solusi Mengentaskan Masalah Pendidikan

Berbicara mengenai masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Namun sebagai generasi muda harus memiliki sikap kritis dalam membaca realitas yang sedang terjadi dalam masyarakat, dan mungupayakan pencarian solusi terhadap permasalahan tersebut. Upaya perbaikan tersebut sangat diperlukan dalam rangka membangun intelektual yang mandiri dalam pembangunan dan bersaing dalam masyarakat global. Bukan saja dalam membangun kecerdasan intelektual tetapi juga membangun kecerdasan emosional dan spiritual generasi muda.

Dalam perspektif islam,  pendidikan haruslah menuntut hadirnya kurikulum yang dibangun di atas landasan konsep Islam tentang alam semesta, kehidupan dan manusia. Adapun kurikulum islami harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

1. Kurikulum islami harus memiliki sistem pengajaran dan materi yang selaras dengan fitrah manusia serta bertujuan untuk mensucikan manusia,memelihara dari penyimpangan dan menjaga keselamatan fitrah manusia

2. Kurikulum islami harus dapat mewujudkan tujuan pendidikan Islam yang fundamental: memurnikan ketaatan dan peribadatan hanya kepada Allah

3. Tingkatan setiap kurikulum islami harus sesuai dengan tingkatan pendidikan, baik dalam hal karakteristik, usia, tingkat pemahaman, jenis kelamin dll.

4. Aplikasi, kegiatan, contoh atau teks kurikulum islami harus memperhatikan tujuan-tujuan masyarakat yang realistis, menyangkut penghidupan dan bertitik tolak dari konsep islam.

5. Sistem kurikulum islam harus terbebas dari kontradiksi, mengacu pada kesatuan Islam dan selaras dengan integritas psikologis yang telah Allah ciptakan untuk manusia serta selaras dengan kesatuan pengalaman yang hendak diberikan kepada anak didik, baik yang berhubungan dengan sunnah, kaidah, sistem, maupun realitas alam semesta.

6. Kurikulum islami harus realistis sehingga dapat diterapkan selaras dengan kesanggupan negara yang hendak menerapkannya serta sesuai dengan kondisi dan tuntutan negara itu sendiri.

7. Kurikulum islami harus memilih metode yang fleksibel dan elastis sehingga dapat diadaptasi ke dalam berbagai kondisi, lingkungan dan keadaan tempat ketika kurikulum diterapkan.

8. Kurikulum islami harus efektif, dapat memberikan hasil pendidikan yang bersifat behavioristik dan tidak meninggalkan dampak emosional yang meledak-ledak dalam diri generasi muda.

9. Setiap unsur kurikulum islami harus sesuai dengan berbagai tingkatan usia anak didik.

10. Kurikulum islami harus memperhatikan pendidikan tentang segi-segi perilaku islami yang bersifat individu maupun sosial.

Dengan adanya konsep kurikulum yang didasari dengan konsep islam tersebut, maka pendidikan dipastikan mampu menghasilkan generasi ulul albab yang mampu menjadi seorang pemimpin yang adil, amanah dan bijaksana. Tidak bisa dipungkiri pula, sejarah telah membuktikan bahwa kegemilangan dan keemasan Islam terjadi ketika Islam diterapkan dalam semua kancah kehidupan. Oleh karena itu, solusi satu-satunya agar kehidupan berjalan sesuai dengan fitrah manusia yang menginginkan kehidupan berjalan dengan aman, makmur dan sejahtera, adalah dengan mengganti sistem sekuler dengan sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT, yaitu sistem Islam.

Wallahu A’lam Bishshowab