Indahnya Toleransi dalam Islam

oleh -55 views

Oleh: Khusnawaroh

Menteri Agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi menegaskan mengucapkan selamat Natal kepada penganut Nasrani tidak bakal melunturkan akidah seseorang Muslim. Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan pandangannya.

Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Masduki Baidlowi mengatakan, ada pendapat yang menyatakan ucapan selamat Natal dari seorang Muslim tidak masalah jika tidak diniatkan secara keimanan. Jadi, kata Masduki, semua kembali ke niat umat Muslim soal pengucapan selamat Natal.

Beras Merah Tani Butuni

Itu dinyatakan oleh Yusuf Qardhawi, salah seorang tokoh yang reputasinya di dunia internasional, kealimannya dalam ilmu fikih. Lalu banyak yang melarang mengucapkan Natal karena itu merupakan bagian dari keimanan. Itu pendapat begini karena memahami agama secara tekstualis sehingga ketika diucapkan dianggap sebagai sebuah pengakuan keimanan. Itulah yang menyatakan tidak boleh,” imbuhnya. kamis, (19/12/2019).

Setiap bulan Desember mendekati penghujungnya, selalu ada diskusi yang berulang tiap tahun dikalangan umat Islam. Apakah boleh seorang muslim mengucapkan  selamat hari natal tanggal 25 Desember?

Menelaah berita peristiwa yang terjadi baik di media sosial atau televisi maraknya kaum muslim , secara langsung mengucapkan selamat natal, hal ini serentak diucapkan oleh putri- putri pondok pesantren Ngalah pasuruan jawa timur , peristiwa lain dilakukan Najwa Azis dengan begitu tenangnya bermain biola mengiringi lagu ” malam kudus” saat misa natal, yang ditemani oleh Ayahnya. dan masih banyak peristiwa yang lainnya.

Sungguh miris negeri Indonesia yang mayoritas muslim masih banyak yang belum memahami batasan-batasan toleransi dalam beragama, dan yang membuat tercengang dan geleng-geleng kepala, para petinggi negri ini  Mentri Agama menegaskan bahwa mengucapkan selamat natal kepada penganut nasrani tidak bakal melunturkan Aqidah seorang muslim. Pernyataan itu semua sangatlah disayangkan lagi- lagi umat islam yang harus dipertaruhkan. Benar adanya bahwa umat islam kini ibarat anak ayam yang kehilangan induknya.

Betapa tidak, petinggi negri ini yang di harapkan bisa “ngemong” memelihara,menjaga namun hanya dapat menabur kekecewaan umat muslim, atas nama toleransi, persahabatan dengan non muslim namun pada dasarnya telah melencengkan rambu-rambu ajaran islam, dan membawa umat muslim ke dalam hal yang keliru.

Sehingga terjadi tanggapan terhadap seorang penganut Nasrani yang justru merasa heran, mengapa ada umat Islam yang ucapkan selamat natal. Hal ini di ungkap oleh Dr. James White seorang sarjana Kristiani yang kerap terlibat dalam diskusi Islam Vs Kristen. Beliau yang antara lain pernah berdialog dengan Dr. Yasir Qadhi, menyatakan bahwa ucapan selamat natal hakikatnya bermasalah untuk di ucapkan oleh muslim. Satu pandangan mengenai Krismas, saya tak dapat memahami bagaimana seorang Muslim yang berakal boleh mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada nasrani.

Pandangan sarjana Kristiani tersebut sangat mengejutkan yang seharusnya menjadi tamparan keras yang dapat menggugah hati kita semua terkhusus mereka para petinggi negri ini yang membolehkan ucapan itu, seorang sarjana Nasrani saja memahami itu, mengapa kita sendiri umat islam, pemegang ķekuasaan negri kita malah meragukan itu. 

Satu pelajaran yang dapat kita ambil oleh umat islam adalah ketika kita tidak mengucapkan selamat natal, sama sekali tidak melukai hati penganut kristiani karena mereka paham akan terlarangnya perbuatan tersebut menurut Islam.

Tetapi mengapa sangat nampak bahwa umat islam melalui rezim hari ini seakan digiring untuk tidak taat dan mencintai ajarannya.

Apakah dengan tidak mengucapkan selamat natal menjadikan umat islam itu intoleran? andaikan kita tidak mengucap “Selamat Natal” bukan berarti kita menutup pintu- pintu perbuatan baik kepada Kristiani- Yahudi tidak demikian, kita boleh sopan santun dan ramah, bertetangga dan bergaul dengan mereka, kita boleh menghormati ibadah dan ritual, muamalah dengan mereka. Hanya karena kita tidak mengucapkan “Selamat Natal”  tidak akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka. Apalagi untuk apa dilakukan kalau ucapan “Selamat Natal” itu melanggar prinsip Aqidah dan hanya sebatas basa basi belaka.

Jika mengucap “Selamat Natal” itu di anggap subhat yang belum jelas halal dan haramnya, maka dalam menyikapi subhat lebih baik kita meninggalkannya, agar tidak terjerumus ke dalam perkara haram. Sebab Nabi Saw. para Khulafaur Rasydin, menurut ijma empat imam madzhab (Hanafi,Maliki, Syafi’i, dan Hambali) bahwa tak satupun dari mereka yang pernah mengucapkan “Selamat hari raya Yahudi – Nasrani. Jika para Nabi dan para Sahabat tidak pernah melakukan perbuatan itu , lalu apa artinya pendapat para Ulama yang membolehkan itu? Apakah mereka menjadi sumber Syariat selain Nabi Saw.?

Demi menjalankan misi kalangan liberal rezim saat ini lebih merangkul toleransi ala liberal, rela mengotori Aqidah sendiri dan kaum muslim, pandangan kapitalis- liberal bahwa munculnya kekerasan di dunia islam disebabkan adanya Truth Claim (klaim kebenaran) dan Fanatisme, untuk itu menurut mereka agar umat islam bisa bersikap toleran terhadap penganut keyakinan lain, Truth Claim dan fanatisme harus dihapuskan yakni dengan cara “meyakini kebenaran agama lain”.

Pandangan seperti diatas jelas keliru dan menyesatkan. Alasannya ide penghapusan Truth Claim dan toleransi tanpa batas lahir dari paham sekulerisme- liberalisme tidak berhubungan sekali dengan Islam. 

Islam dengan kitab sucinya Al Qur’an dan sunah rosul Saw. telah  menerangkan dan mencontohkan dengan sangat jelas, dengan batasan yakni berlepas diri dari agama mereka, tak ikut merayakan hari besar mereka,  tidak mengucapkan selamat kepada mereka, tak memakai atribut khas mereka, membiarkan mereka beribadah, dan tidak menggangu mereka. namun sayang sistem kapitalis telah gagal menjamin kehidupan beragama yang damai yang penuh keharmonisan antar warga.

 Toleransi Beragama Menurut Islam 

Toleransi mengandung pengertian kesediaan menerima kenyataan pendapat yang berbeda tentang kebenaran yang dianut, dapat menghargai keyakinan orang lain terhadap agama yang dipeluknya serta memberikan kebebasan untuk menjalankan apa yang dianutnya. Islam mengajak kepada umatnya untuk selalu menjalin kehidupan yang harmonis antara sesama umat manusia. Agama Islam merupakan agama yang penuh toleransi yang sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw.

Disamping itu Allah juga memberikan batasan toleransi hanya sebatas pada kepentingan sosial atau kepentingan duniawi saja, tidak boleh menyangkut pautkan dengan masalah Aqidah dan ibadah, Hal ini dijelaskan dalam Firman Allah Swt.

“katakanlah hai orang-orang yang kafir aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku” (Qs. Alkafirun :1-6 ).

Sejak islam tumbuh dan berkembang Rosul Saw. telah memberikan contoh betapa toleransi merupakan keharusan. Rosul Saw. telah meletakkan dasar- dasar bagi keragaman hidup antar umat beragama mengakui eksistensi non muslim. Piagam madinah yang dirumuskan Rosul Saw. merupakan bukti otentik mengenai prinsip kemerdekaan beragama yang di praktikkan umat islam diantara butir- butir toleransi itu adalah sikap saling menghormati tidak saling menyakiti dan saling melindungi. Rosul Saw. pernah menjenguk orang yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual beli , menghargai tetangga non muslim. Negara Islam yang pertama di Madinah yang Rosulullah pimpin saat itu juga menunjukkan kecermelangan dalam mengelola kemajemukan, Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan meski mereka hidup dalam naungan pemerintahan Islam. Masyarakat non muslim mendapatkan hak- hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh  jaminan keamanan juga bebas melakukan peribadatannya. 

Tetapi harus dipahami bahwa toleransi Rosul Saw.di atas tidak menjadikan Rosulullah Saw. membenarkan apa yang menjadi keyakinan mereka. Kerja sama umat Islam dengan non muslim hanyalah dalam masalah muamalah keduniaan. Tidak berhubungan dengan masalah Aqidah dan Ibadah.

Namun sangat berbeda dengan saat ini ada umat Islam justru dengan senang hati membantu mengiringi musik untuk peribadatan non muslim. Hal ini sangat memprihatinkan. Sehingga sudah seharusnya penguasa bertanggung jawab atas itu semua, mengarahkan kepada kaum muslim untuk tidak melakukan hal yang keliru. Namun apalah daya sistem saat ini bukanlah sistem Islam, hanya sistem Islamlah yang dapat memberikan aturan tegas terkait hubungan antar warga, dan menjamin terwujudnya sikap toleransi tanpa menabrak rambu Ilahi.

Selain itu toleransi Islam juga dipraktekkan oleh para sahabat, saat Khalifah Umar Bin Al Khathab  ra. membebaskan Baitul Magdis (Yerussalem) palestina, saat itu Khalifah Umar menandatangani perjanjian damai dengan pendeta Sofranius yang merupakan pemimpin umat Nasrani di Yerussalem. Perjanjian itu memberikan jaminan kepada warga non muslim agar tetap bebas memeluk agama dan keyakinan mereka. dan tidak memaksa mereka untuk memeluk Islam, bahkan Khalifah memberikan keleluasaan kepada mereka untuk tetap memasang salib salibnya digereja Al Qiyamah. Khalifah Umar ra. juga memberikan kebebasan dan hak-hak hukum dan perlindungan kepada penduduk Yerussalem .

Itulah gambaran indahnya toleransi yang telah dibangun pada masa Rosulullah dan para sahabat dan tentu masih banyak contoh lainnya yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua, untuk kita lebih memahami batasan toleransi dalam islam, agar umat Islam tidak menjalani toleransi yang salah kaprah. Untuk itu sudah saatnya umat Islam bangkit dari keterpurukan ini, menyatukan tekad dan semangat untuk mengagungkan dengan menerapkan syariat Allah swt. agar toleransi umat beragama dapat berlangsung harmonis tanpa harus menyalahi batas-batas dalam menjalankan Agama masing-masing.

Wallahua’lam bissawab