Merindukan Pemimpin yang “Benar-benar” Takut Allah swt

oleh -397 views

Oleh: Ulfah Sari Sakti, S.Pi (Jurnalis Muslimah Kendari)

Semakin hari masyarakat semakin kritis dan pandai menilai, siapa pemimpin yang amanah termasuk jika dirinya benar-benar takut kepada Allah swt.  Sebagai masyarakat awam, takut kepada Allah swt diartikan sebagai upaya untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah swt, seperti  takut melanggar hukum syara dan takut tidak berlaku adil kepada rakyatnya. Yang mana pada sistem Demokrasi-Sekuler saat ini, rasa-rasanya tidak mudah untuk menemukan figur pemimpin yang benar-benar takut kepada Allah swt, mengingat sistem pemerintahannya tidak bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits.

Sehubungan dengan pemimpin yang takut Allah swt, beberapa minggu lalu, sempat viral pemberitaan Paslon petahana yang menuturkan, “Saya Hanya Takut Allah swt.” Paslon tersebut menegaskan butuh keberanian dan ketegasan dalam mengelola negara Indonesia.  Petahana menekankan tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah swt.  Dia mencontohkan pemerintahannya membubarkan mafia Migas Petral, merebut Blok Rokan dan Blok Mahakam serta sudah menguasai 51 persen saham freeport. “Kita ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa dan negara.   Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah swt untuk Indonesia maju,” kata Jokowi dipanggung debat di Hotel Sultan (sinarharapan.co, 17/2/2019).

Pernyataan capres petahana tersebut membuat ingatan Setiyardi Budiono (Pimred Obor Rakyat) kembali ke ruang persidangan. Yang mana Setiyardi diproses hukum bersama Darmawan Sepriyosa Asli, Redaktur Obor Rakyat, karena tulisan orang tua Jokowi.  Keduanya dituduh mencemarkan nama baik. Setiyardi menceritakan di dalam persidangan dirinya meminta Majelis Hakim memanggil Jokowi, karena beliau yang membuat laporan ke polisi. Karena dalam debat menyatakan tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah swt, Setiyardi haqul yakin Jokowi berubah, sehingga pekan lalu dia mengirim surat permintaan wawancara dan konfirmasi kepada Jokowi untuk dimuat dalam tabloid Obor Rakyat yang akan terbit dalam waktu dekat (politik.rmol.co, 18/2/2019).

Ciri Pemimpim Islam yang Ideal

Pemimpin Islam yang ideal telah disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits, yaitu (1) Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, QS Ali Imran : 32. “Katakanlah : Taatilah Allah dan RasulNya jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (2) Beriman dan beramal sholeh, QS Al Hujurat : 15. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”. (3) Takut kepada Allah swt.  QS An Nur : 50. “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa diatas merekadan melaksanakan apa yang diperintahka”. (4) Mempedomani Al Qur’an dan Hadits. QS Al Maidah : 44. “Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir”. QS Al Maidah : 47. “Sesiapa tidak memutuskan perkara  menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang yang fasik”.

Memilih pemimpin ideal dengan melihat : (1) Faktor keulamaan. QS Fatir : 28. “Dan demikian (pula) diantara manusia makhluk bergerak yang bernyawa dari hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan) jenisnya. Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya, hanyalah para ulama. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun” (2) Faktor intelektual.  QS An Nisa : 58. “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimaya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia hendaknya adil.  Sungguh Allah, yang sebaik-baik memberi pengajaran kepadamu.  Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat”. (3) Faktor kepeloporan.  QS Al An’am : 162. “Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam”. (4) Faktor keteladanan.  QS Al Ahzab : 21. “Sunggguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang hanya mengingat Allah”. (5) Faktor management. QS As Saff: 4.  “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”.

Karena itu sudah selayaknya jika kita lebih teliti lagi dalam memilih pemimpin, tidak kalah pentingnya jika pemimpin yang terpilih tersebut lalai dalam mengemban amanah maka kita dapat melakukan : (1) pemberian nasihat, (2) tidak mengikutinya serta (3) mencopotnya dari tampuk kekuasaan.

Ingatlah jika kita memilih pemimpin yang salah alias dungu, zalim dan diktator, siap-siap saja bencana/musibah akan menimpa. Tentunya hal itu tidak kita inginkan, karena itu kita harus terus berjuang mewujudkan kepemimpinan yang Islami, pastinya dengan mengubah sistem pemerintahan Demokrasi-Sekuler ini dengan kepemimpinan Islam. Wallahu’alam bishowab[].