Metode Terbaik untuk Perubahan

Opini368 views

Oleh: Ummu Salman (Ibu Rumah Tangga)

Banyaknya kecurangan yang terjadi pasca pemilu pada tanggal 17 april 2019 lalu membuat gerah banyak tokoh-tokoh politik maupun tokoh agama. Seruan people power dan revolusi pun mengemuka. Apalagi ketika tidak ada tindak tegas dari pihak-pihak yang berwenang terhadap kecurangan tersebut. Sebelum pemilu, Bapak Amin rais selaku penasehat PAN, telah menyatakan akan melakukan people power jika terjadi kecurangan saat pemilu nanti.

Dalam Tribunnews.com (26/4/2019): “Eggi dilaporkan oleh politikus PDIP Dewi Ambarwati Tanjung, setelah berpidato yang membahas seruan people power pada Rabu, (17/4/2019) lalu. Dewi menilai pernyataan itu merugikan dan bisa memecah belah bangsa Indonesia.

Ancaman people power ini menimbulkan berbagai macam tanggapan dari para pengamat politik. Salah satunya dari Tony Rosyid seperti yang dimuat rmol.co(25/4/2019). “People power seperti harga mati. Rakyat siap menghadapi kekuatan Jokowi dengan semua risiko, termasuk kematian. Narasi “mati Sahid” para ulama di Solo Raya seolah mewakili suara umat. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau mengalah untuk keberlangsungan masa depan bangsa dan negara?”

People Power ala Demokrasi

People power adalah penggulingan kekuasaan presiden secara paksa melalui aksi demonstrasi rakyat. Upaya ini dilakukan dengan cara seluruh rakyat turun ke jalan agar Presiden meletakkan jabatannya karena dinilai telah melanggar konstitusi atau melakukan penyimpangan.

Awal mula terjadinya peristiwa People Power adalah di Filipina pada 1986, yang merupakan sebuah demonstrasi massal tanpa kekerasan. Aksi damai yang berlangsung selama empat hari dilakukan jutaan rakyat Filipina di Metro Manila dengan tujuan untuk mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan Corazon Aquino sebagai presiden. Peristiwa itu juga dikenal dengan nama Revolusi EDSA. EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang merupakan tempat aksi demonstrasi berlangsung.

Di Indonesia, gerakan people power terjadi ketika tergulingnya rezim Presiden Soeharto yang dipicu oleh demo besar mahasiswa dan rakyat pada Mei 1998 yang menuntut reformasi dan perubahan. Salah satu faktor yang memicu rakyat Indonesia meminta perubahan adalah fenomena krisis moneter sejak Juli 1997. Dengan itulah, amarah rakyat Indonesia tak terbendung lagi. Mereka menuntut perubahan hingga turun ke jalan. Dari sanalah lahir Orde Reformasi yang ditandai dengan lengsernya Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia.

Pada faktanya, people power memang berhasil melakukan perubahan tatanan kehidupan suatu negara, namun dampak yang timbul juga tidak ringan. Kerusuhan etnis di Indonesia saat terjadinya people power adalah buktinya. Disamping itu, kevakuman politik pasca terjadinya people power memberi peluang besar bagi negara kafir penjajah untuk kepentingan mereka, apakah itu dengan meletakkan penguasa boneka yang tunduk pada kepentingan mereka, atau deal-deal politik lainnya, seperti yang terjadi pada revolusi Iran.

Metode Perubahan Ala Rasulullah Saw

Nabi Muhammad Saw adalah Rasulullah sekaligus sosok pembaharu, yang berhasil melakukan perubahan secara mendasar dan menyeluruh. Beliau berhasil mengantarkan bangsa Arab dari masa jahiliyah ke masa kejayaannya. Sebagai uswatun hasanah, beliau telah memberikan contoh bagaimana meraih kekuasaan. Beliau memulainya dengan melakukan pembinaan kepada individu-individu yang menerima seruannya. Melalui edukasi yang masif, terstruktur dan terukur, beliau berhasil membina para sahabat menjadi politikus dan negarawan yang handal. Beliau pun berhasil mendirikan partai yang kuat dan solid.

Setelah berhasil membentuk sebuah partai, di tahap berikutnya Rasulullah dan para sahabat mulai melakukan interaksi dengan umat, agar umat turut memikul kewajiban menerapkan Islam serta menjadikannya sebagai masalah utama hidupnya. Edukasi dan soaialisasi tentang ajaran Islam gencar dilakukan untuk membentuk kesadaran umum masyarakat. Rasulullah mengajak orang-orang quraisy pergi berkumpul ke bukit shafa, kemudian menyampaikan kepada mereka bahwa sesungguhnya beliau adalah seorang nabi yang diutus dan beliau meminta agar mereka mengimaninya. Beliau menentang orang-orang quraisy, tuhan-tuhan sesembahan mereka, keyakinan-keyakinan, dan ide-ide mereka dengan cara menjelaskan kepalsuan dan kerusakannya.

Ayat Al Quran turun dengan menyerang kebiasaan-kebiasaan buruk mereka seperti: memakan harta riba, mengubur hidup-hidup anak wanita, curang dalam timbangan, ataupun berzina. Ayat-ayat itu juga menyerang para pemimpin dan tokoh-tokoh quraisy, memberinya predikat sebagai orang-orang bodoh, termasuk kepada nenek moyang mereka disertai dengan pengungkapan terhadap persekongkolan-persekongkolan yang mereka rencanakan untuk menentang Rasul Saw, dakwah beliau dan para sahabat beliau.

Berbagai cobaan fisik dan non fisik dilalui oleh Rasulullah Saw dan anggota partainya, namun semua itu tidak membuatnya pragmatis. Sebagai partai ideologis, mereka memposisikan diri laksana lokomotif yang menarik gerbong, bukan sebaliknya. Pada saat cobaan dakwah semakin keras, dimana umat mulai bersikap jumud, apatis, tidak menerima, bahkan menentang dakwah. Dalam keadaan seperti ini Allah SWT menurunkan wahyu agar beliau menawarkan diri kepada para qabilah Arab untuk mendapatkan nushrah (perlindungan dan pertolongan), sehingga beliau dapat menyampaikan risalah Islam yang dibawanya dalam keadaan aman dan terlindung.

Dengan keyakinan akan kebenaran Islam dan janji Allah, serta kesabaran yang luar biasa, akhirnya beliau dan partainya mendapatkan dukungan dari kaum anshor dan nushrah dari para pemukanya yaitu dari suku aus dan khazraj di Madinah. Melalui dukungan umat dan nushrah inilah, peralihan kekuasaan pun terjadi di Madinah. Di sanalah negara yang menerapkan Islam terbentuk pertama kali.

Wallahu ‘alam bishowab.

Komentar