Nafsu Agar Berkuasa

Sultra Raya343 views

PORTALSULTRA.COM – Setiap atau sebagian orang memiliki kecenderungan memimpin atau berjabatan tinggi. Motivasinya, yakni segala keinginan gampang diperoleh, punya kewenangan yang besar, memiliki bawahan yang dapat disuruh, dan mendapat penghormatan lebih dari banyak orang.

Faktanya memiliki kekuasaan menarik minat banyak orang. Tak mengherankan pada setiap momentum politik, banyak orang berebut guna menduduki sebuah jabatan, seperti masa pemilu atau lainnya.

Terlibatnya nafsu yang disalahgunakan dalam politik telah menjadi penyakit kronis sejak lama. Menghalalkan segala cara menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan demi meraih dan mempertahankan jabatan. Terjadinya kezaliman dan penindasan atas rakyat dan lawan politik sudah jamak dalam dunia politik, dan bukti kuat berkuasanya nafsu.

Inilah politik ala Niccolo Machiavelli (1469-1527). Ia menyebut politik itu bebas nilai, tanpa moralitas atau etika, sehingga raja atau penguasa merebut kekuasaan dengan segala cara dan mempertahankan selanggeng mungkin. Pertumbuhan paham ini cukup massif di tengah berkembangnya sekulerisme dan liberalisme. Dan dalam prakteknya memang sudah ada, meski Machiavelli belum lahir.

Akibatnya dunia politik menjadi kubangan nafsu. Kekuasaan tidak didasarkan pada tujuan mulia membangun negara dan menyejahterakan rakyat. Ia bisa menjadi bencana dan sekadar memenuhi syahwat para politisi. Lantas, banyak korban yang ditimbulkan, hingga nyawa pun melayang.

Karenanya, dunia politik yang mementingkan nafsu harus dirubah. Perlu dibangun politik yang adiluhung. Dalam bahasa Amien Rais high politic. Perlu dibentengi nilai atau etika yang asalnya dari ajaran agama dan tradisi sosial yang baik, serta aturan yang ditegakkan.

Politiknya tak salah, begitu pula politisi. Yang menyimpang adalah dominasi nafsu dalam setiap perebutan jabatan, perilaku para politisi, dan dalam mempertahankan kekuasaan.

Nah, bagian nafsu inilah yang mesti dikendalikan. Inilah nilai moral atau etika yang ditolak dan diabaikan penganut Machiavellisme. Dan ini juga adalah bagian tabiat politik menurut Amiruddin Rahim, yang merusak dan dianut selama ini.

Ajaran agama menjadi sumber moral dan panduan dalam membangun jembatan kemakmuran suatu negara, sekaligus dirujuk dalam proses legislasi peraturan perundangan yang mengikat semua orang. Tanpa agama, kata orang, dunia hampa, dan kerusakan mudah merajalela.

Nafsu memang tak dapat dihapus. Namun ia bisa dikendalikan. Yakni dengan rahmat dan kasih sayang Allah yang Mahakuasa. Di kitab suci Al Qur’an Surat Yusuf: 53 Allah berfirman: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku”.

Berarti pandai-pandailah kita mencari rahmat Allah Swt. Tiada lain mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa menjadikan ajaran-Nya sebagai rujukan baik saat berkompetisi meraih kekuasaan, saat mempertahankan kekuasan dan saat meninggalkan kekuasaan.

Selain itu, harus diingat akan adanya pertanggungjawaban. Ini berat, apalagi bila memimpin banyak orang. Setiap orang akan menuntut haknya. Sesuai dalil: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya” (Hadits).

Juga, menuju kekuasaaan dan berkuasa memang tidak bisa mengandalkan kemampuan sendiri. Ia harus terlembaga dengan baik, memiliki lingkungan yang mendukung, sistem dan aturan yang kuat dan dipatuhi. Ada orang lain yang memiliki tugas untuk saling melengkapi. Juga kesadaran bahwa berbuat terbaik tak hanya dominasi kekuasaan.

Untuk itu, menyehatkan dunia politik yang kaduag rusak bukanlah pekerjaan mudah. Orang-orang yang bekerja untuk itu harus siap, ulet, sabar, dan kuat. Mereka harus diuji dalam waktu lama untuk memenuhi syarat layak berkuasa.

Perlu menuju kekuasaan yang Allah dirahmati dan akan lebih bermanfaat bagi rakyat. Di sisi lain kesadaran beragama bisa lebih baik lagi, karena hidup ada akhirnya, dan tanggungjawab juga akan dipikul di akhirat nanti. Jadi, jangan main-main dengan nafsu agar berkuasa atas orang lain.

Oleh: Antasalam Ajo

Komentar