Nasehat Yang ‘Pahit’

oleh -556 views
Oleh: Antasalam Ajo, Baubau. / Foto: Ilustrasi

PORTALSULTRA.COM – Ramadhan full dengan nasehat, baik sebagai pemberi, atau pemerima. Sebagai bulan dakwah, juga tarbiyah, nasehat di bulan Ramadhan itu penting.

Pertama, Bila kita memberi nasehat, kadang was-was, bisa jadi menyinggung atau membuat marah orang yang dinasehati. Bisa juga merasa mungkin kurang didengarkan, tidak berpengaruh. Maka, muncul keraguan untuk memberi nasehat.

Tapi sebaiknya nasehat harus perlu diberikan demi kebaikan yang lebih besar. Kalau tidak, rasa was-was akan terus dominan, dan nasehat akan terabaikan.

Kedua, Bila kita menerima nasehat, umumnya terasa pahit, karena bisa membuat dongkol dan perasaan tidak nyaman. Apalagi nasehat keras, bisa tersinggung dan marah menyertai.

Tapi sebaiknya, nasehat harus tetap diterima demi kebaikan kita. Kalau tidak ada nasehat kita akan terjerumus dan akan memusuhi siapa saja yang menasehati kita.

Sesungguhnya nasehat itu adalah kebutuhan. Meski ia adalah obat yang pahit, tapi dia adalah vitamin yang bisa menyembuhkan dari penyakit yang menggerogoti diri. Maka ia harus ada. Terus dipelihara, karena ia adalah jaminan baiknya kelompok atau masyarakat.

Kerugian manusia mengabaikan nasehat ini telah diingatkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya: “Innal insaana lagii khusrin. Illalladziina aamanu, wa’amilushaalihati watawaashaubil haqqo, watawaashaubis shabr”, Al Qur’an Surat Al ‘Ashr. Dan ia adalah urusan yang menyebabkan agama itu tetap berdiri tegak dan kokoh kapanpun, seperti sabda Nabi: “Addiinu nashiihah”.

Tapi memang nasehat yang baik itu perlu usaha, upaya agar hasilnya lebih optimal, di antaranya:

1. Niatnya lurus dan tulus. Yaitu untuk membuat baik dan menyerahkan kepada Allah. Bukan membuat marah atau balas dendam.
2. Berasal dari kejernihan hati. Dengan ini, melihat sesuatu menjadi tepat dan sesuai. Dengannya pula nasehat akan lebih mudah mengena dan masuk ke dalam hati.
3. Bidang nasehat adalah yang diamalkan dan telah dicontohkan. Tanpa contoh dan pengamalan dari pemberi, maka akan mudah ditolak penerima.
4. Nasehat diberikan oleh orang yang tepat dan waktu yang kondunsif. Biasanya ia akan didengarkan dan diikuti karena posisi terhormat dan waktu yang tepat.
5. Sebaiknya nasehat tidak menyerang pribadi dan jangan disampaikan di depan umum atau vulgar. Bila ini dilakukan, akan menimbulkan penentangan yang besar.

Nah, kalau kita dipenuhi pelanggaran dan dosa, rasa nasehat paling pahit. Seakan apa yang disampaikan itu menyinggung kita semua, padahal kadang hanya perasaan saja.

Akan tetapi, bila kita membiasakan diri memberi dan menerima nasehat, meski pahit, kita akan lebih baik dan diri kita akan selalu terjaga. Olehnya itu, saran kita, abaikan kepahitan dari nasehat, dan ambillah intisari kemanfaatan dari nasehat itu. Dengan kata lain, beri dan terima nasehat meskipun pahit. WaLahu a’lam. []