New Normal Ditengah Pandemi, Benarkah Solusi?

oleh -132 views

Oleh: Ummu Zhafran
Muslimah Pegiat Opini, Komunitas AMK

Bunga mawar bunga melati
New normal digelar benarkah solusi?

Protokol New normal life atau kehidupan normal baru mendadak gencar dikampanyekan. Di dalam bayang-bayang pandemi Covid-19 yang masih terus bertambah mencapai ratusan orang per hari. Konten hidup normal gaya baru beragam, mulai dari tata cara beribadah sampai pengaturan kursi di warung , restoran maupun rumah makan. Terdapat empat wilayah yang bakal jadi proyek percontohan pertama, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Gorontalo.

Dirilis oleh cnnindonesia, Presiden RI telah meminta empat provinsi dan 25 kabupaten/kota mempersiapkan penerapan pola hidup normal baru atau new normal. Persoalannya seperti yang dikutip di laman yang sama, kasus positif virus corona (Covid-19) di empat provinsi itu terus meningkat dalam dua pekan terakhir. (cnnindonesia, 28/5/2020)

Keresahan publik pun mencuat. Semakin bergolak saat mengetahui realitas kurva penderita terinfeksi Corona masih menuju puncak. Bahkan tanda-tanda menuju landai belum terlihat. Bagaimana bisa new normal dikebut?

Lumrah jika para pengamat ekonomi malah menilainya sebagai bentuk keberpihakan pemerintah pada kelompok bisnis dan korporat. Sebab dengan dimulainya era new normal, seluruh aktivitas ekonomi berangsur seperti semula. Mal dan pusat-pusat perbelanjaan akan kembali dibuka. Bahkan alih-alih meninjau fasilitas kesehatan, persiapan ke arah new normal ditandai dengan kunjungan sosok nomor wahid di negeri ini ke Mal Summarecon , Bekasi. (cnnindonesia, 27/5/2020)

New Normal vs Abnormal

Pandemi Covid19 memang istimewa. Tak hanya di daerah asalnya, wabah ini menggasak hampir seluruh penjuru dunia. Berbulan -bulan negara-negara besar dunia berjibaku menyatakan perang terhadap Corona. Eksesnya sudah diprediksi bakal dahsyat. Roda ekonomi tersendat, beban hidup semakin berat. Karena itu pula seluruh sarana dan sumber daya kesehatan dipacu giat.

Sayangnya kapitalisme yang menggurita secara global menjadikan ketulusan bagai barang langka. Tak semata demi melindungi rakyat dari wabah melainkan juga menjaga kepentingan korporat tetap menguat. Jadilah para kapitalis farmasi dan asuransi seolah tak ingin ketinggalan momen untuk mendulang keuntungan tiada tara.

Tetapi ketika wabah yang berkepanjangan terbukti rawan memukul berbagai sektor perekonomian, narasi new normal dilirik jadi pilihan. Sejumlah indikator syarat hidup normal gaya baru pun dicanangkan. WHO menetapkan enam poin utama, di antaranya yang terpenting: wabah dipastikan sepenuhnya terkendali, tersedia sistem kesehatan secara nasional yang sanggup mendeteksi, mengisolasi, lantas menangani setiap kasus, melacak peta penularan, hingga memastikan masyarakat tetap patuh pada social distancing. Berat syaratnya. Merasa memenuhi ketentuan di atas, satu per satu negara di dunia mulai melonggarkan lockdown menyongsong keadaan normal seperti sebelumnya. Tak ketinggalan negeri kita yang tercinta.

Bermula di sinilah keruwetan timbul. Banyak pihak sangsi Indonesia bisa sama dengan Italia maupun Inggris yang akan mengakhiri lockdown dalam waktu dekat. Persyaratan dari WHO masih jauh dari kenyataan. Wabah belum terkendali dengan PDP yang terus bertambah, alat tes yang masih sulit diakses serta tumbangnya para nakes yang bertempur di garis depan. Lalu mengapa rezim ngotot untuk normal secepat-cepatnya bahkan menganalogikan Corona bagai istri? Ini sama halnya seperti ingin normal tapi dengan cara dan analogi yang tak normal alias abnormal.

Menyimak gelagat pemerintah, jelas dalam pandangan khalayak memutus rantai virus Corona bukanlah yang dituju namun demi mencegah ambruknya ekonomi para kapitalis dan korporat raksasa. Tudingan publik bukan tanpa alasan. Berdasar telisik data peta persebaran kasus corona Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, keempat provinsi kandidat new normal bahkan masih menunjukkan penambahan kasus positif yang cukup signifikan dalam dua pekan terakhir. (cnnindonesia, 28/5/2020)

Normal Sesuai Tujuan Penciptaan

Di samping kesan tergesa yang tampak, batasan normal juga tak tegas ditentukan. Sekedar dibukanya mal dan pusat perbelanjaan, kantor dan kampus serta sekolah seolah cukup menandakan dimulainya kehidupan normal.

Benarkah demikian? Kenyataannya, menyebut normal untuk kondisi utang menumpuk dan jumlah pengangguran yang bertambah tentu salah kaprah. Seperti yang diungkap mantan Ketua MPR periode lalu lewat akun daringnya. Bahkan Amien Rais meminta agar istilah ‘New Normal’ itu tak dipakai lagi. Sebab jauh berbeda dengan kenyataan yang ada.(Amienraisofficial.ig)

Maka normal sejatinya harus dikembalikan ke standar baku dalam kehidupan manusia.
Sesuai tujuan penciptaan oleh Sang Khaliq.

Firman Allah,

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun:115). Dalam ayat lain termaktub manusia diciptakan semata untuk beribadah, tunduk patuh pada syariat Allah yang sempurna.

Dengan sendirinya menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba itu normal. Mencari penghidupan dengan bekerja, tidak mencuri apalagi korupsi itu juga normal. Taat pada syariah kaffah? Normal pastinya. Di lain pihak abai terhadap aturan Allah, salah satunya lalai akan amanah sebagaimana pemimpin seharusnya terhadap rakyatnya justru tak layak dikatakan normal.

Mengakhiri uraian di atas, siapa pun orangnya yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasulullah Saw tentu merindukan hidup normal. Sebagai manusia juga hamba Allah. Pilihan satu-satunya dengan menerapkan syariah secara kaffah. Niscaya berkah dan Allah lindungi dari segala wabah. Sebagaimana yang dijanjikan Allah, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” ( QS. Al-A’raf: 96).

Wallahu a’lam.