Puluhan Pengurus Yayasan Lakidende Tolak Hasil Islah , Diduga Putusan Kopertis Menguntungkan Kubu Tertentu

UNILAKI421 views

 

KENDARI, PORTALSULTRA.COMPersoalan pengelolaan Universitas Lakidende belum menemukan titik terang atas siapa yang berhak untuk menjadi pengelolah. Pasalnya, hasil islah yang diprakarsai oleh Kopertis dianggap tidak prosedural atau tidak mewakili keinginan kedua kubu atau hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

Meski penandatangan naskah islah sudah selesai di teken oleh kedua kubu, namun kehadiran Masyhur Masia Abunawas dan Anwar Bei yang mewakili Yayasan Lakidende justru disoal oleh Ketua Yayasan Lakidende dan sejumlah pengurus yayasan tersebut. Basrim juga mempertanyakan, apa dasar hukum sehingga yang menandatangani islah itu Masyhur Masie Abunawas dan Anwar Bei.

“Kehadiran Masyhur Masie Abunawas dan Anwar Bei sama sekali tidak mewakili pihak Yayasan Lakidende, seharusnya saya yang menandatangani dan berada didalam tapi saya tidak diperbolehkan untuk berada didalam ruangan”terang Basrim Suprayogi, melalui telepon selulernya, Sabtu (11/3/2017).

Basrim justru menuding Kopertis Wilayah IX ikut bermain dalam proses islah sehingga kesepakatan yang ada menguntungkan pihak Yayasan Lakidende Razak Porosi. Dikatakan dia, dalam pertemuan di Kopertis yang diundang adalah Ketua Yayasan, akan tetapi sampai disana, pihak kopertis tidak memperbolehkan ketua yayasan untuk masuk dalam rapat islah itu.

http://www.portalsultra.com/ratusan-mahasiswa-unilaki-di-dropout-yayasan-lakidende-rasak-porosi/

Apalagi, kata Basrim, yang mewakili pihak Yayasan Lakidende tidak pernah berkonsultasi dengan sejumlah pengurus. Sehingga apa yang yang menjadi keputusan islah sangat merugikan pihak kami.

Selain itu, keputusan Kopertis untuk menggabungkan kedua yayasan dinilai syarat dengan kepentingan yang menguntungkan pihak tertentu. Menurut Basrim, kalaupun Undang-Undang memperbolehkan, sejatinya yayasan induk yang tetap menjadi pengelolah dan yayasan yang bukan induk itulah yang harus dilebur, sementara dalam putusan islah justru sebaliknya.

“Ini aneh, yayasan yang jadi ilegal selama tujuh tahun justru yang mendapatkan hak pengelolahan, bukannya ditegur tapi justru ditunjuk jadi pengelolah yang sah”ujarnya.

Ide Kopertis juga terkait penggabungan dan akan melahirkan yayasan dan universitas baru, dinilai sangat tidak masuk akal dan melanggar UU. Kata Basrim, tidak ada dalam regulasi yang menyatakan seperti itu.

Untuk diketahui yang menandatangani penolakan islah berjumlah 10 orang. 10 orang itu diantaranya, Basrim Suprayogi (Ketua Yayasan), Muh. Yasin Togala (Ketua Dewan Pengawas), Andi Saleh Latif (Anggota Pembina), Abdul Muthalib Laponangi (Anggota Pembina), Alibas Yusuf (Anggota Pembina), Syahri Nehru Husain (Anggota Pembina), Syamsiah Takahasi (Anggota Pembina), Nurlita Jaya (Bendahara), Ihsan Saritn Hera (Anggota Pengawas), dan Herisyam Landimuru (Anggota Pembina).

Penulis : Hermawan Lambotoe

Komentar