Ramadan Bulan Perjuangan

oleh -40 views

Oleh: Masitah (Anggota Smart With Islam Kolaka)

Ramadan adalah bulan sucinya umat Islam. Melaksanakan ibadah “magdhah” untuk shaum. Bulan beribadah dan mendekat kepada Allah. Hari-hari untuk beramal sholeh karena pahala yang dilipat gandakan. Bulan ketika Allah buka pintu ampunan selebar-lebarnya pada hamba yang banyak melakukan dosa dan kesalahan. Luar biasa istimewa bulan barokah ini.

Meski fokus ibadah baik shaum maupun ibadah ikutannya seperti shalat tarawih, tadarus Al Qur”an, atau memperbanyak shadaqah, bulan Ramadan adalah bulan dakwah dan jihad. Bulan perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan serta menumbangkan kezaliman. Keliru menafsirkan bahwa karena bulan Ramadan maka umat Islam akan sabar dalam bentuk tak boleh marah, menerima keadaan, diejek, ditampar, dianiaya pasrah saja. Tak ada perlawanan, kecuali sabar.

Justru umat Islam menjadikan Ramadan sebagai bulan perlawanan, perjuangan, dan kemenangan. Agama mengajarkan dalam konteks substansi ajaran maupun kesejarahan. Sukses perang Badar, penaklukan kota Makkah, perang Qadisiyah mengalahkan Persia, menghancurkan Romawi di Tabuk, Sirakusa, maupun Manzikert, penaklukan Andalusia, kekalahan Tartar Mongol oleh Sultan Qurtuz, kemenangan Shalahudin atas pasukan salib Jerusalem hingga sukses Mesir mengalahkan Israel terjadi di bulan Ramadhan. Kemerdekaan negara Indonesia juga terjadi di bulan suci ini. (eramuslim.com)

Makna Takwa yang Seharusnya

Beberapa peristiwa ini menandakan bahwa ramadan merupakan bulan takwa yang ditandai dengan penyerahan total atas seluruh hukum islam. Tidak boleh ada pengkhianatan ataukah kebohongan meski sedikit saja. Seharusnya sebagai seorang muslim menjadikan diri lebih bangga dan bersemangat lagi untuk melakukan aktivitas dakwah dan jihad. Karena belum adanya kehadiran negara islam sebagai pelaksanaan hukum syariat, maka dakwah lah satu-satunya metode saat ini yang paling ampuh ditempuh untuk menyadarkan umat islam dan mengajak non-muslim untuk memeluk islam. Sebab, islam adalah din yang sempurna dan rahmat seluruh alam.

Selain berdoa dan memohon ampunan kepada Allah, pun juga harus berusaha untuk mengaplikasikan doa dan maaf tersebut. Jika mempercayai islam dan keberadaan Allah SWT sudah sepatutnya untuk menaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta menerapkan hukum syariat islam. Kita melihat kondisi hari ini bahwa kedzoliman dan kepalsuan kian merajalela. Para pemimpin negeri islam terus-terusan bungkam atas genosida yang terjadi pada kaum muslim. Di awal bulan ramadhan wilayah Gaza di serang oleh bom dari Israel, belum lagi pelarangan shaum pada muslim Xinjiang, dan sebagainya. Dan tak kalah sedihnya proses pemilu calon presiden tahun 2019 ini di warnai dengan berbagai kebohongan yang ada.

Sejak awal pemilihan hingga saat ini pihak KPU tak menunjukan netralitasnya. Rencana pengumuman hasil Pilpres dan Pileg pada 22 Mei yang bertepatan dengan 17 Ramadan menjadi tolok ukur, apakah KPU bekerja jujur dan adil atau masuk dalam pola curang yang tersistematisasi. Bila nekad dan merekayasa kemenangan mengikuti “order” maka KPU berarti telah “disorder” dan siap melawan perlawanan umat dan rakyat. Dengan alasan umat sedang shaum, maka dianggap akan sabar menerima begitu saja keputusan.

Nampaknya asumsi demikian akan keliru. Umat menyadari status bulan Ramadan sebagai bulan perlawanan dan perjuangan. Justru kemungkaran akan segera ditumbangkan, karena keimanan umat semakin menguat dalam benaknya. Kecurangan yang “terbiarkan” pada Pemilu 2014 tidak akan terulang saat ini.

Sebagai “syahrul jihad” umat siap merebut kemenangan di bulan Ramadhan. Menekan laju kebangkitan Partai Komunis, merobohkan benteng kapitalis aseng yang mendominasi, menghancurkan faham-faham sesat yang mengotori agama. Menolak skenario OBOR China, menghempas kezaliman yang selalu mencengkram tubuh umat, serta melakukan revolusi budaya dengan mencampakkan budaya hedonis yang menuhankan kesenangan dunia.

Makna Ramadhan Bulan Perjuangan

Sejatinya sudah tak ada lagi ruang  bagi kaum kapital untuk terus mengeksiskan dirinya di sistem sekarang. Segala bentuk penjajahan, kebohongan bahkan dusta yang dilakukan sedikit demi sedikit terkuak sebagaimana mestinya. Yang menjadikan umat makin geram atas tindakan yang mereka lakukan. Dan tak hanya diam kini umat mulai melakukan perlawanan meski mereka pun berusaha untuk menumbangkan para penggerak masa kaum muslim.

Moment bulan ramadan kali ini benar-benar termaknai tentang arti sebuah perjuangan dalam melawan penjajahan para imperialis dan misionaris. Dan juga, memaknai arti dari eksistensi adanya Negara sebagai pelindung  bagi umat dan juga keberadaan Khalifah yang akan memimpin umat islam dalam melakukan perlawanan terhadap pasukan imperealis dan para misionaris. Sebagaimana dalam firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Dimana bukan saja bertakwa untuk diri sendiri melainkan bertakwa terhadap pemimpin yang jujur, adil, amanah dan bertanggung jawab. Dan menjadikan al-qur’an sebagai pedoman hidup dan pelaksanaan hukum syariat, yang bukan sekedar dibaca dan dihafalkan saja. Serta dalam firman-Nya “Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al Baqarah: 185).

Tegaknya Islam tak lama lagi, semakin banyak terjadi kerusakan menandakan kebangkitan Islam pun segera terwujudkan. Untuk itu bergabunglah dalam barisan yang memperjuangkan Islam, bukan hanya sibuk mengurusi diri sendiri melainkan sibuk atas problematika yang di hadapi oleh umat muslim sekarang. Sepatutnya sebagai seorang muslim sejati untuk keluar dari zona nyaman dan kembali pada syariat Islam. Wallahu a’lam bisshowab.