Ramadhan Kelabu di Jalur Gaza

oleh -96 views

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST (Staf Dinas Sosial Kab. Kolaka)

Ramadhan di jalur Gaza tahun ini diwarnai muntahan Bom. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memerintahkan pergerakan militer besar-besaran untuk menyerang para gerilyawan. Namun kenyataannya, masyarakat sipil ikut menjadi korban dari tindakan Israel ini. Sampai saat ini 20 orang warga telah terbunuh termasuk wanita hamil dan anak bayi berusia satu tahun.

Anggota Badan kerja Sama Antarparlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rofi munawar mengecam tindakan Israel yang menyerang Palestina di bulan Ramadhan. “Serangan yang dilakukan oleh tentara Israel ke pusat kota Gaza sangat sporadis dan brutal, mengganggu dan mengancam aktivitas ratusan ribu warga Palestina yang saat ini sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Jika situasi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin krisis akan semakin membesar dan berkelanjutan,” kata Rofi dalam rilis yang diterima Sindonews, Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Di atas tindakan Israel ini, Presiden Amerika, Donal Trump memberikan dukungan penuh. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam memandang kasus Palestina, Amerika bersikap berat sebelah. “Sudah bukan rahasia lagi, pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump kebijakan-kebijakan terkait konflik Palestina-Israel lebih cenderung berat sebelah,” pungkas Rofi.

Israel dan Genosida Inkremental

Serangan yang dilancarkan oleh Israel dilakukan dengan dalih membalas serangan gerilyawan. Walaupun pada kenyataannya, semua orang tahu bahwa alasan ini hanyalah kamuflase. Kekejaman Israel kepada warga Palestina sudah mendarah daging. Membunuh, memperkosa dan memenjarakan seumur hidup adalah tindakan yang senantiasa menyertai Israel selama ini. Sejawaran Israel, Ilan Pappe menyebut warisan kekerasan ini sebagai Genosida Inkremental. Sebuah kekerasan dan pembunuhan yang diwariskan turun temurun oleh orang-orang Israel sebagai wujud kebencian kepada warga Palestina.

Pada Januari 2019, Menteri Pertahanan Israel, Uri Ariel telah menyerukan banyak kematian atas orang Palestina di Gaza. “Senjata spesial apa yang kita miliki ketika kita menembak dan melihat pilar asap dan api, tapi tidak ada yang terluka? Sudah waktunya ada (lebih banyak) luka dan kematian,” katanya. Seruan ini terjadi saat kejadian menjijikkan menimpa gadis remaja beusia 16 tahun, Ahed Tamimi. Sementara itu, Menteri Pendidikan Israel, Naftali Bennet yang dikenal dengan pandangan politiknya yang ekstrim menuntut agar Ahed dan gadis Palestina lainnya  harus “menghabiskan sisa hari mereka di penjara.” Sebuah seruan yang sangat tidak bermoral dan berperikemanusiaan. (Seraamedia,19/01/18).

Akibat yang dirasakan oleh rakyat Palestina juga menjadi bertambah parah karena kurangnya fasilitas kesehatan di Gaza. Koordinator Kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina, Jamie McGoldrick. McGoldrick mengungkap bahwa ada sekitar 29.000 warga Palestina yang mengalami luka-luka. Selama setahun terakhir dan 7.000 orang di antara mereka menderita luka tembak, sebagian besar pada kaki bagian bawah. “Ada 1.700 orang yang memerlukan operasi yang rumit dan serius agar bisa berjalan lagi,” kata McGoldrick sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Keberadaan Israel dalam balutan misi Zionisme adalah bentuk keinginan mereka untuk menguasai Yerussalem. Mereka mempercayai bahwa tanah Palestina adalah tanah suci milik mereka. Namun, sejarah dari masa ke masa telah membuktikan bahwa Palestina adalah tanah miliki kaum muslimin, karena itu layak bagi mereka untuk mempertahankannya.

Palestina, Tanah Kaum Muslimin

Palestina dikuasai oleh kaum muslimin pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibnu alKhaththab dengan iman, militer dan strategi di tahun 637 M. Kemudian Palestina sempat dirampas oleh pasuka salib pada tahun 1099 Masehi dengan pembantaian dan pembunuhan yang berlangsung selama 88 tahun. Namun kemudian, pahlawan Islam, Salahuddin Al Ayyubi kembali membebaskan Al Quds pada tahun 1187 Masehi dan mengembalikan kemuliaannya.

Tanah Palestina adalah tanah Kharajiyah saat dikuasai oleh Khalifah Umar. Tanah memiliki posisi yang sama dengan jenis harta yang lain, yang bisa menjadi Ghanimah. Jadi ketika khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah untuk mengepung Romawi selama 40 hari dan berlangsung pertempuran, maka kekalahan Romawi menjadikan tanah Palestina (Kanaan) telah menjadi ghanimah bagi kaum muslimin. 

Allah SWT juga telah menetapkan bumi Palestina bagi Bani Israil pada zaman Nabi Musa ‘alaihi salam. Ketetapan tersebut memang sebuah fakta yang tak terbantahkan. Bahkan dalam Al-Qur’an sendiri, Allah mengingatkan kisah Musa ketika berkata kepada kaumnya:Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 21).

Tanda lainnya yang cukup nyata adalah Allah Ta’ala menjadikan Masjid Al Aqsha sebagai kiblat pertama di dalam Islam. Tercatat hampir tujuh belas bulan lamanya kaum muslimin shalat menghadap ke arah masjid tersebut.Masjid Al aqsha juga menjadi tempat singgahnya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Sebagaimana Allah ta’ala mengabadikannya dalam Al-Quran Surah Al-Isra’ ayat 1.Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Masjid Al-Aqsa juga merupakan masjid kedua yang mula-mula dibangun di muka bumi ini setelah Masjid Al-Haram. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAWmengenai masjid yang mula-mula dibangun di atas bumi ini. Beliau menjawab, ‘Masjid Al-Haram,’ Saya bertanya, ‘Kemudian masjid mana?’ Beliau menjawa, ‘Masjid Al-Aqsa,’ Saya bertanya, ‘Berapa jarak waktu antara keduanya?’ Beliau menjawa, ‘Empat puluh tahun. Kemudian seluruh bumi Allah adalah tempat sujud bagimu. Maka dimanapun kamu mendapati waktu shalat, maka shalatlah’.” (HR. Muslim).

Karena itu wajarlah jika kaum muslimin mati-matian mempertahankan tanah ini. Pada masa Turki Usmani, Khalifah Sultan Abdul Hamid II mengatakan: “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik umatku. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Karena itu, silakan Yahudi menyimpan saja harta mereka. Jika KhilafahUtsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Namun, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah.

Melihat penjelasan di atas, maka Israel tidak memiliki hak apapun atas tanah Palestina. Peperangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Israel sudah jelas adalah bentuk tindakan terorisme yang sebenarnya. Seharusnya umat Islam bahu membahu untuk membasakan tanah Palestina dari cengkeraman Israel dan sekutunya. Membiarkan Palestina terjajah merupakan kedzaliman. Wallahua’alamBishawwab.