Rekonsiliasi: Wujud Buruk Demokrasi, Kemana Umat Islam akan Berharap?

Opini455 views

Oleh: Hamsina Halisi Alfatih

Demokrasi : “Tidak Ada Lawan Kawan Sejati”

Heboh pertemuan ketua umum Gerindra, Prabowo Subianto dengan Presiden Joko Widodo hari ini di stasiun MRT, Lebak Bulus (Sabtu, 13/7). CNNindonesia.com memberitakan pertemuan Jokowi dan Prabowo ini juga menjadi sebuah penantian panjang bagi banyak orang. Pertemuan ini menjadi momen penting sebagai rekonsiliasi untuk menyatukan kembali elemen masyarakat yang sempat terpecah karena Pilpres 2019. Namun pertemuan kedua elit politik ini tersebut menuai kontroversi bagi pendukung Prabowo sendiri. Pasalnya kekecewaan justru terpancar dari pendukungnya yang selama ini setia berjuang memenangkan dirinya saat pilpres. Seharusnya Prabowo memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang sudah memeras “keringatnya” apalagi sejumlah keluarga yang ditinggal oleh anggota KPPS pasca hasil perhitungan suara. Belum lagi ulama-ulama yang berada dibelakangnya.

Tidak bisa dipungkiri, inilah sejatinya wajah demokrasi, dimana demokrasi merupakan sebuah sistem yang meneguhkan kesetiaan individu untuk tetap mempertahankan apa yang diperjuangkannya. Demokrasi  bersandar atas kepentingan individu maupun kelompok maka dalam demokrasi tak mengenal siapa lawan maupun kawan. Karena tak ada kawan maupun lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi. Maka dari pertemuan itu bisa dipastikan antara Prabowo dan Jokowi akan membahas rencana terkait bagaimana membangun Indonesia agar lebih maju baik di ranah nasional maupun internasional. Meskipun jika keduanya membahas kemajuan Indonesia di mata negara-negara adidaya dalam perbaikan perekonomian maupun politik, namun tidak menutup kemungkinan pula dibalik kepentingan kedua elit politik ini akan kembali menyeret para Kapitalis China. Maka hal ini semakin membuka wajah buruk demokrasi. Karenanya jika berharap bahwa rekonsiliasi keduanya mampu membawa perubahan terhadap nasib bangsa maka dipastikan itu hanyalah sebuah utopis belaka. Kembali lagi bahwa demokrasi itu identik dengan kepentingan bukan untuk mentukan arah perubahan untuk perbaikan bangsa dan masyarakat.

Rekonsiliasi di Zaman Rasulullah Saat Perjanjian Hudaibiyah

Rekonsiliasi sebenarnya mampu membawa perubaha jika saja rekonsiliasi itu dilakukan oleh Prabowo sendiri untuk kepentingan umat secara keseluruhan dan bisa saja hal itu akan disambut baik oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sebagaima ketika Rasulullah SAW melakukan rekonsiliasi dengan orang-orang Quraish pada saat perjanjian Hudaibiyah. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak jarang melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan berbagai pihak dalam menyikapi konflik dan perang bersenjata, di antaranya dengan kaum kafir Quraisy di Kota Makkah. Upaya mencegah dan memulihkan konflik atau rekonsiliasi dilakukan Nabi semata untuk kepentingan kaum Muslimin secara luas dan jangka panjang meskipun dipandang merugikan menurut sebagian sahabat.

Salah satu upaya rekonsiliasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ialah ketika melakukan Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 hijriah atau sekitar tahun 628 masehi. Hudaibiyah merupakan sebuah sumur yang berjarak sekitar 22 kilometer dari arah barat daya Kota Makkah. Pada perjanjian ini sebenarnya tidak disetujui oleh salah satu sahabat yaitu Umar Bin Khattab, karena menurutnya hal itu menyalahi qaidah islam, dan keputusan yang dilakukan Rasulullah dipandang tidak populis oleh para sahabatnya. Bahkan Umar bin Khattab tidak mau menuliskan perjanjian itu, karena bukan hanya tidak adil, tetapi juga dianggap melecehkan simbol-simbol akidah Islam waktu itu. Karena bagi Umar sendiri, akidah Islam harus terus diperkuat di tengah kekejaman orang-orang kafir Quraisy pada fase dakwah Islam di Makkah. Namun diluar dugaan Umar bin Khattab justru dari diplomasi Hudaibiyah, Nabi menuai kesuksesan luar biasa di kemudian hari. Semua lahir dari kemampuan menahan diri dari meraih keuntungan untuk kepentingan diri sendiri diatas kepentingan umat. Dengan kata lain, dalam menghadapi situasi yang sulit sekali pun hendaknya kita mencontoh sikap dan perilaku Rasulullah yang tidak mudah terbawa emosi, seraya meletakkan pandangan jauh ke depan untuk kepentingan umat secara luas. 

Menjadikan Islam sebagai Pandangan Hidup Serta Peran Negara untuk Menerapkannya

Islam merupakan agama serta ideologi, dimana pemerintahan dan negara merupakan bagian yang tak terpisahkan. Negara merupakan thoriqoh (metode) Satu-satunya yang secara syar’i ditetapkan oleh islam untuk menerapkan serta memberlakukan hukum-hukumnya dalam kehidupan  masyarakat secara menyeluruh.

Inilah yang menjadi pilar hidup dan matinya islam dalam kehidupan. Tanpa adanya negara eksistensi islam sebagai sebuah ideologi dan sistem kehidupan akan hilang. Yang ada hanyalah islam sekedar dipandang sebagai seremonial ritual belaka serta karakteristik moral semata. Adanya negara sebagai pemegang kekuasaan dari sinilah islam bisa diterapkan secara kaffah, sehingga tak akan lagi adanya kepntingan diantara individu maupun kelompok dari para elit-elit politik yang memanfaatkan segala hak milik umat demi kepentingan penguasa.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maidah : 48).

 Wallahu A’alam Bishshowab

Komentar