Seni Era Demokrasi: Melanggengkan Kebebasan

oleh -142 views

Oleh: Nurhidayat Syamsir (Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

Belakangan ini hiruk pikuk dunia perfilman menggemparkan masyarakat. Pemicunya adalah film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ karya sutradara Garin Nugroho, yang mulai diputar di sejumlah bioskop Indonesia (Kompas.com, 18/4/2019). Gambaran tentang sinopsis film ini menuai pro-kontra dari berbagai kalangan, lantaran diduga memuat konten penyimpangan sosial.

Pasalnya, selama ini pengalamatan istilah ‘Jeruk makan jeruk’ biasanya tidak lazim menampakkan identitas, kini mereka telah tampil dengan percaya diri di atas panggung hiburan sebagai sandiwara berseni.

Dengan ditayangkannya film ini jelas akan memanen pelaku penyimpangan sosial berikutnya. Berdalih atas dasar seni, namun sesungguhnya adalah jalan untuk melegalkan perilaku anomali di tengah-tengah masyarakat. Jika saja pelaku memperlihatkan tingkah lakunya secara terang-terangan tentu tidak akan mudah diterima oleh publik. Maka ditempuhlah jalur lain agar nampak halus, yaitu dengan melihat potensi penerimaan (materi) dan kecenderungan masyarakat yang terbuka dengan industri hiburan.

Inilah dampak penerapan dari paham Sekularisme (akidah ideologi Demokrasi), yakni pemahaman yang tidak rela jika hidupnya diatur oleh Islam, lalu kemudian melahirkan ide kebebasan (Liberalisme). Seseorang yang meluhurkan anggapan keleluasaan sebagai standar meraih kebahagiaan ini, akan senantiasa mengupayakan segala cara untuk menyebarkan sudut pandangnya agar bisa diterima sebagai bentuk keberagaman, yang meminta dibiarkan dan dimaklumi. Aberasi seksual yang dibungkus seni, nyatanya hanya sebuah alasan bagi pecandu Liberalisme.

Liberalisme nyata jelas akan mencabut akal sehat sebab telah membuka ruang yang sangat luas untuk bebas melakukan apapun, meski itu menjadi momok bagi masyarakat. Padahal, kebebasan berperilaku yang diagungkan sejatinya ibarat sebuah penyakit yang harus dimusnahkan, bukan dilindungi.

Selain itu, paham ini juga mengkerdilkan keberadaan syariat Islam yang mampu mengatur segala aspek kehidupan, termasuk menata perihal apa yang diperbolehkan ataupun yang tidak. Seseorang yang liberal telah kehilangan ketakwaan individu dalam dirinya sehingga mempengaruhi rusaknya tatanan kehidupan sebab telah rela melangkahi kodrat.

Dikarenakan fakta tersebut, maka menjadi sebuah keanehan ketika pemerintah sekarang masih mempertahankan sistem dengan landasan Sekularisme, yakni Demokrasi. Sebab sesungguhnya hanya menimbulkan kerusakan semata.

Maka, pilihan terbaik hanyalah kembali pada sistem Islam yang mampu menuntaskan problematika umat. Islam telah mengajarkan bagaimana memenuhi kebutuhan naluri berupa kebutuhan seksual dengan cara yang benar. Islam menjamin ketakwaan individu, sehingga perilaku menyimpang ini tidak akan terjadi. Ditambah dengan bersepakatnya lingkungan masyarakat dalam meyakini syariat Islam adalah satu-satnya aturan yang sempurna, serta peran Negara yang memastikan tindakan demikian bisa diatasi. Wallahua’lam bi ash-shawab.