Smelter Feronikel Kapasitas 230.000 Ton Dibangun di Kolaka

oleh -130 views

Groundbreaking Smelter Feronikel PT Ceria di Kolaka. Foto: Dekri/Koransultra

Kolaka – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, hari ini, Sabtu (15/6/2019) bersama Menteri PANRB Syafruddin melakukan groundbreaking fasilitas pemurnian (smelter) feronikel PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Turut hadir dalam acara tersebut Gubernur Sultra Ali Mazi, Bupati Kolaka Ahmad Syafei, Sekretaris Jenderal KESDM Ego Syahrial, Inspektur Jenderal KESDM Akhmad Syakhroza, dan jajaran aparat Pemerintah Daerah.

Beras Merah Tani Butuni

Baca juga: Wamen ESDM Resmikan Groundbreaking Smelter PT CNI di Kolaka

Smelter PT CNI ini nantinya dapat mengolah nikel dengan kapasitas input bijih (ore) 5 juta ton dan output dalam bentuk feronikel sebanyak 230.000 ton dengan kadar nikel 22%-24% per tahunnya. Smelter yang dibangun mengadopsi teknologi RKEF. Kebutuhan listrik untuk operasional smelter diperkirakan mencapai 350 MW.

Dalam sambutannya Arcandra menyebut bahwa, sumber daya alam memegang peran penting dalam mendorong pembangunan nasional. Meski begitu, prinsip pemanfaatannya tetap berpedoman pada Pasal 33 UUD 1945, yakni dikuasai oleh negara dan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Baca juga: Bangun Konstruksi Smelter, PT. CNI Percayakan BUMN 

Interpretasi dari dikuasai oleh negara, lanjut Arcandra, ialah bahwa kekayaan alam dikelola oleh putra-puteri terbaik Indonesia, menggunakan teknologi yang dikembangkan bangsa Indonesia, pendanaan bersumber dari kemampuan dalam negeri, dan hasil pengelolaan dioptimalkan untuk kebutuhan di dalam negeri.

“Sesuai dengan amanat undang-undang, kita ingin agar nikel ini dapat kita olah (di dalam negeri) dan memperpanjang rantai pengolahannya sehingga bisa menghasilkan nilai tambah,” kata Arcandra.

Pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter ini merupakan implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Groundbreaking smelter ini juga menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendorong pelaku usaha pertambangan dalam mendukung upaya percepatan hilirisasi di sektor pertambangan.

“Inilah yang kita inginkan (pembangunan smelter) agar bisa menghasilkan efek nilai tambah yang lebih besar dari sekadar menjual raw material,” tutur Arcandra.

“Yang kita usahakan ini untuk menutup gap dari cita-cita ideal dengan realitas yang ada. Sehingga kebermanfaatan dari sumber daya alam kita bisa lebih kita tingkatkan,” sambung Arcandra.

Sementara itu, Gubernur Sultra Ali Mazi memberikan apresiasi dengan pemancangan tiang pertama pembangunan smelter PT. CNI.

“Sebagai pemerintah menyambut baik atas pembangunan pabrik peleburan feronikel sebagai wujud implementasi amanat UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara,” kata Ali Mazi.

Pemancangan tiang pertama pembangunan smelter PT. CNI di Desa Samaenre, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka. Foto: Dekri/Koransultra.

Dengan adanya pembangunan smelter ini, kata Ali Mazi, diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal khususnya bagi warga yang berada di wilayah sekitar daerah pertambangan.

“Pembangunan pabrik ini juga memberikan dampak positif bagi perkembangan perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Smelter ini ditargetkan akan mulai beroperasi pada akhir 2021. “Pembangunan infrastruktur utama dan pendukung smelter feronikel ini ditargetkan selesai pada Desember tahun 2021 dengan total nilai investasi sebesar Rp14,4 triliun,” ujar Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata dalam keterangan tertulis.

Pembangunan smelter ini nantinya akan terus diawasi oleh Kementerian ESDM dengan melakukan pengawasan kemajuan pembangunan secara berkala setiap 6 bulan dan juga ketersediaan cadangan bijih nikel untuk operasional fasilitas pemurnian.

bni/bni