Tambang, Posisimu Sangat Mengambang

oleh -33 views

Oleh: Zulfikar Halim Lumintang, SST. (Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka

Pertambangan merupakan sektor yang sangat eksklusif. Bagaimana tidak, pertambangan merupakan sektor yang sangat bergantung dengan hasil bumi. Setelah habis, maka tidak bisa lagi diperbaharui, contohnya batubara. Indonesia Investments merilis batubara merupakan bahan bakar fosil dan sumber energi terpenting untuk pembangkitan listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen. 

Namun demikian, batubara juga memiliki karakter negatif yaitu disebut sebagai sumber energi yang paling banyak menimbulkan polusi akibat tingginya kandungan karbon. Sumber energi penting lain, seperti gas alam, memiliki tingkat polusi yang lebih sedikit namun lebih rentan terhadap fluktuasi harga di pasar dunia. Dengan demikian, semakin banyak industri di dunia yang mulai mengalihkan fokus energi mereka ke batubara.

Dengan tingkat produksi saat ini (dan apabila cadangan baru tidak ditemukan), cadangan batubara global diperkirakan habis sekitar 112 tahun ke depan. Cadangan batubara terbesar ditemukan di Amerika Serikat, Russia, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan India. Pada tahun 2016, Indonesia tercatat sebagai negara kelima yang memiliki produksi batubara terbesar di dunia, dengan produksi setara dengan 255,7 juta ton minyak. 

Melihat begitu pentingnya catatan sektor pertambangan bagi kehidupan, maka sangat wajar jika kita perlu mengetahui kontribusi sektor pertambangan bagi cakupan wilayah yang lebih kecil, kita ambil provinsi sendiri saja, Sulawesi Tenggara. Tercatat pada periode 2014 hingga 2018 kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Sulawesi Tenggara selalu menempati posisi kedua terbesar setelah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, dengan tren yang cenderung meningkat. Hal tersebut menunjukkan bahwa provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai potensi yang cukup di sektor pertambangan dan penggalian.

Pada tahun 2014 kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Sulawesi Tenggara mencapai 19,95% kemudian meningkat 0,94 poin menjadi 20,89% pada tahun berikutnya, namun sempat mengalami penurunan 1,51 poin pada tahun 2016 menjadi 19,38%. Penurunan yang terjadi pada tahun 2016 ini berkaitan dengan produksi hasil pertambangan nikel di Sulawesi Tenggara, khususnya Kolaka yang menurun juga. Selanjutnya pada tahun 2017 sektor pertambangan kembali memiliki kontribusi melebihi 20% terhadap PDRB Sulawesi Tenggara yakni 20,68%. Kenaikan kontribusi terus berlanjut hingga tahun 2018 menjadi 20,90% terhadap PDRB Sulawesi Tenggara.

Pada umumnya sub sektor pertambangan bijih logam dan subsektor pertambangan dan penggalian lainnya yang saling bergantian berkontribusi terbesar terhadap sektor pertambangan dan penggalian di Sulawesi Tenggara. Tercatat pada tahun 2014, 2017, dan 2018 subsektor pertambangan bijih logam melebihi 50% kontribusinya terhadap sektor pertambangan dan penggalian di Sulawesi Tenggara. Dengan rincian 50,64% pada tahun 2014, 52,18% pada tahun 2017, dan 53,14% pada tahun 2018. Sedangkan kontribusi subsektor pertambangan dan penggalian lainnya memiliki kontribusi melebihi 50% pada tahun 2015 dan 2016, yaitu 50,16% pada tahun 2015 dan 53,80% pada 2016.

Pertambangan bijih logam di Sulawesi Tenggara berpusat di kabupaten Kolaka. Di Kolaka, terdapat area tambang nikel yang sangat potensial, dengan produksi yang bisa mencapai ber metrik-metrik ton nikel tiap bulannya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menangani pertambangan nikel di Kolaka yaitu PT. Aneka Tambang, Tbk. Atau lebih dikenal dengan ANTAM. Dengan produksi yang sangat banyak, diharapkan perusahaan mampu menemukan area tambang nikel yang lain di wilayah Sulawesi Tenggara. Mengingat jika nikel sudah habis di suatu area, maka berhenti juga proses penambangan. Efeknya kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB provinsi akan mengalami penurunan.

Di sisi lain, mengingat tidak ditemukannya area tambang minyak, gas, dan panas bumi, kemudian juga tidak ditemukannya area tambang batubara di  Provinsi Sulawesi Tenggara, sehingga kedua subsektor tersebut tidak memiliki kontribusi terhadap sektor pertambangan dan penggalian di Sulawesi Tenggara. Jadi, sebagai masyarakat lokal, sebaiknya kita membantu pemerintah dalam meningkatkan kontribusi PDRB sektor pertambangan dan penggalian dengan tidak membuat penambangan yang ilegal. Selain akan mengganggu pemerintah, penambangan ilegal hanya akan merusak lingkungan disebabkan pengetahuan perawatan area tambang yang terbatas.