Tari Samba, Catenaccio & ‘Kabarakatina Tanah Wolio’

oleh -52 views
Oleh: La Ode Mu’jizat / Foto: Ilustrasi

PORTALSULTRA.COM – “Orang Inggris yang menemukannya, tapi kamilah yang membuatnya jadi indah.” Demikian kata orang Brazil tentang sepak bola. Betapa tidak, mereka membawa tari samba-nya ke lapangan hijau, mengolah si kulit bundar dengan gaya meliuk-liuk indah melewati lawan. Hingga beribu pasang mata yang menyaksikannya dibuat terpesona, ibarat menonton pentas seni di teater pertunjukan.

Juara Piala Dunia 5 (lima) kali itu memang mempesona. Selalu bermain menyerang dalam setiap penampilannya. Mungkin mereka terinspirasi oleh nasehat Sun Tzu: “Pertahanan terbaik adalah menyerang.”

Oh iya, berbicara tentang pertahanan, Tim Samba memang kadang bermasalah dengan yang satu ini. Keasyikan menyerang, tapi kadang lupa dengan pertahanan. Hal yang menjadi kritik terhadap tim yang berasal dari Amerika Latin itu.

Beras Merah Tani Butuni

Pele, sang legenda sepak bola yang pernah dilahirkan oleh Brazil dan dunia, juga menyadarinya. Tapi beliau berkata: “Silahkan membobol gawang kami, tapi kami akan balas membobol gawan kalian dengan lebih banyak”.

Di benua biru ada istilah Catenaccio. Itu ciri khas sepak bola Italy. Strategi pertahanan grendel yang sulit ditembus lawan. Inilah pula yang menyebabkan penampilan negeri spageti itu kurang menarik untuk ditonton. Walau begitu, mereka telah menjuarai Piala Dunia sebanyak 4 (empat) kali. Kok bisa? Sebab tim yang ber-ibu kota di Roma ini punya kecerdikan dalam melakukan serangan balik.

Bagaimana dengan orang Buton? Secara umum mereka expansif, sekaligus defensif. Maaf, ini bukan soal sepakbola. Tapi tentang hal yang melekat pada orang-orang yang mendiami gugusan pulau di bagian tenggara Sulawesi.

Orang Buton dikenal sebagai bangsa perantau. Salah satu alasan umum orang merantau adalah sebab merasa tak memiliki sumber daya di kampung halamannya. Maka mereka harus pergi. Menimba ilmu akademik, belajar bisnis, enterpreneur, memanfaatkan sumber daya negeri seberang agar bisa melompat tinggi. Lalu sukses di sana.

Tapi bangsa yang memiliki benteng terluas di dunia ini juga memiliki sifat defensif. Benteng adalah simbolnya. Kemanapun orang-orangnya melangkahkan kaki, mereka tak pernah lupa dengan jati dirinya sebagai orang Buton. Selalu ingat dengan adat istiadat dan ajaran kehidupan yang diwariskan oleh leluhurnya. “Kabarakatina tanah wolio.” []