Terjebak Gurita Kapitalis, Rakyat Kian Terpuruk

oleh -159 views

Oleh: Indryani Putri (Mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan UHO)

Film dokumenter “Sexy Killers” yang rilis 5 April 2019, secara resmi sudah diunggah dikanal Youtube Watchdoc Image. Film yang menceritakan tentang industri batubara dari hulu ke hilir, pengerukan tambang, distribusi sampai penggunaan batubara buat PLTU yang menimbulkan banyak masalah lingkungan, sosial, ekonomi sampai kesehatan bagi masyarakat. Berbagai kepentingan bisnis juga tumpang tindih dengan kepentingan politik oleh orang-orang yang juga punya kedudukan penting di pemerintahan. (mongabay.co.id. situs berita lingkungan).

Indonesia memiliki sumber daya alam yang berllimpah termasuk batu bara, kekayaan ini merupakan  suatu hal yang patut disyukuri. Akan tetapi para pengusaha bertindak sewenang-wenang, dengan merampas serta mengambil keuntungan yang demikian dilegalkan oleh penguasa. Saling berkolaborasi untuk berlaku sewenang-wenang pada rakyat. Inilah alam Demokrasi dengan segala asas kebebasan didalamnya tanpa mengindahkan aturan Sang Pencipta.

Saling menutupi kebobrokan yang terjadi agar tidak terkuak, dapat dilihat Pada debat calon presiden kedua, 17 Februari 2019, baik calon presiden nomor urut satu Joko Widodo, maupun nomor urut dua Prabowo Subianto,  tak membahas secara substansial mengenai nasib korban lubang tambang. Hasil riset tim dokumenter ini menemukan, baik tim Jokowi maupun Prabowo, punya kepentingan sama dalam industri batu bara. Video tersebut menunjukkan betapa penguasa sejati negeri ini adalah bukan orang per orang, bukan kubu per kubu melainkan ‘gurita Kapitalis yang melibatkan semua kubu, yang dipermukaan nampak bersebrangan.

Pengelolaan sumber daya alam di sistem Kapitalisme saat ini hanya akan berpihak kepada penguasa. Dengan demikian para pengusaha yang memiliki modal mampu membeli suara penguasa untuk melegalkan keinginan-Nya. Wajar bila sumber daya alam saat ini digunakan untuk meraup keuntungan yang dapat dinikmati oleh para pemilik modal (pengusaha). Kerusakan lingkungan yang terjadi serta penderitaan yang dialami oleh warga disekitar akibat aktivitas tambang tersebut tak mendapatkan penanganan serius seolah bukan masalah yang besar.

Berbeda dengan pandangan dalam Islam, barang tambang yang jumlah  kandungannya sangat melimpah merupakan milik umum atau milik rakyat. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu.

Negara harus mengelolanya agar hasilnya nanti digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abyadh bin Hamal, diceritakan suatu saat Abyad meminta kepada Rasulallah SAW. untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul mulia yang memang pemurah meluluskan permintaan itu. Tapi segera diingatkan oleh sahabat yang lain. “Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang telah engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan (bagaikan) air mengalir (ma’u al-‘idda)” Berkata (perawi), “Beliau menarik kembali tambang tersebut darinya” (HR at-Tirmidzi).

Tentu fokus dari redaksi diatas bukan ‘garam’ melainkan tambangnya. Keputusan Rasul, yang di lain kesempatan mengingatkan kita untuk jangan menarik lagi pemberian kepada orang lain, akan tetapi kali itu justru dengan tegas menarik kembali pemberian kepada Abyad, menunjukkan bahwa tidak semestinya barang tambang yang kandungannya sangat banyak itu dikelola oleh individu atau kumpulan individu (perusahaan) karena hasilnya pasti hanya akan dinikmati oleh segelintir orang. Ini jelas bertentangan dengan prinsip kepemilikan yang diemban dalam kungkungan sistem saat ini.

Dengan demikian, untuk mengakhiri kisruh yang tengah terjadi tidak ada jalan lain melainkan kembali kepada ketentuan syariah Islam. Selama sumber daya dikelolah dalam lingkaran aturan sekuler Kapitalisme, semua itu tidak memiliki manfaat bagi rakyat dan pasti akan kehilangan berkahnya. Terbukti sudah, di tengah berlimpahnya sumber daya alam bumi pertiwi ini, mayoritas penduduk negeri ini miskin. Sebab sebagian kekayaan alam hanya dinikmati oleh segelintir orang. Wallahu a’lam bi ash-shawab.