Tetaplah Sabar Dan Siap Siagalah

oleh -0 views
Foto : Ustadz Dr. Amirudin Rahim, M.Hum

Sabar itu tanpa batas dan tanpa ujung. Demikian pula kesabaran umat Islam itu tanpa batas dan tanpa ujung. Umat ini selalu diuji, ditekan, didesak, diprovokasi, bahkan ada yg dibunuh. Akan tetapi, alhamdulillah, kita tetap sabar dan selalu sabar. Sabar sesabar-sabarnya. Titik.

Karena umat ini sangat sabar, rupanya ada sebagian orang yang memanfaatkan kesabaran umat ini untuk terus melanjutkan tekanan, desakan, dan provokasi. Mereka terus-menerus mengekspresikan kebenciannya: cacian, makian, hinaan, tuduhan. Mereka, musuh-musuh umat, tidak khawatir akan kehabisan kesabaran umat. Akan tetapi, mereka lupa bahwa umat Islam adalah penghuni mayoritas di negeri ini.

Umat yang sering dipojokkan ini, terus dibombardir dengan berbagai retorika yang menyesatkan, misalnya:
– Umat dihina, mereka bilang, “jangan terpancing!”
– Umat ditindas, mereka berkata, “jangan terprovokasi!”
– Umat disakiti, mereka berucap, “jangan bertindak reaktif!”

Alhamdulillah, sekali lagi, kesabaran umat selalu ada dan tak akan pernah habis, sehingga tidak mudah terpancing, tidak gampang terprovokasi, dan tak bersifat reaktif.

Selaku umat Islam, apakah boleh diperlakukan sesuka hati oleh musuh-musuhnya hanya karena umat ini sabar? Tidak! Sama sekali, tidak! Meskipun sabar, tidak ada hak bagi siapa pun untuk terus memojokkan, menghina, menindas, dan menyakiti umat Islam. Umat Islam punya hak untuk membela diri. Kita masih punya izzah ‘harga diri’. Lebih dari itu, asas keadilan di alam semesta tidak ada yang boleh merusaknya. Dan…ketika umat sudah bangkit menuntut agar keadilan ditegakkan dan kebenaran ditinggikan, maka tak satu pun kekuatan yang sanggup menghadangnya. Itulah sebabnya, pada zaman penjajahan dulu, kita bersemboyan, “Merdeka ataoe Mati!”. Hari ini pun semboyan itu masih berlaku. Titik.

Semakin berat tekanan yang menimpa umat, maka platform kesabarannya juga harus semakin tinggi. Semakin banyak dan bervariasi ujian dan fitnah terhadap umat, maka langit kesabaran umat jga harus semakin kokoh. Dengan begitu, maka tekad yang ada di hati umat akan semakin kuat. Semakin kuat tekad umat, niscaya akan semakin sanggup melampaui segala hambatan, rintangan, tantangan, dan ancaman.

Kesabaran yang tinggi dan kokoh menjadi bukti keimanan. Semakin tinggi kesabaran, maka semakin kuat keimanan. Sebaliknya, semakin kuat keimanan, maka semakin tinggi pula kesabaran. Rasulullah SAW berdabda, “Ash-shabru sab’un minal iymaan”, sabar itu adalah sebagian dari iman’. Kesabaran itu sendiri adalah bentuk pertolongan Allah. “Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah ….” (q.s. An-Nahl, 16: 127).

Dalam hal kesabaran, umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk meneladani kesabaran para RASUL ULUL AZMI, yaitu kesabaran Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad SAW. “Fashbir kamaa shabara ulul azmi minarusul….”, maka bersabarlah kamu seperti sabarnya rasul-rasul ulul azmi (q.s. Al-Ahqaf, 46: 35).

Lima Rasul yang menjadi prototipe kesabaran itu, paling berat cobaan yang mereka alami. Dalam kesabarannya, mereka tidak diam. Mereka selalu siap-siaga menghadapi segala kemungkinan sampai pada batas kemampuan yang paling tinggi dan kesanggupan yang paling akhir. Selebihnya, diserahkan dan dikembalikan kepada Allah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapanmu itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya….” (q.s. Al-Anfal, 8: 60). Jadi, JANGAN LENGAH dan SIAP-SIAGALAH selalu!

Oleh : Ustadz Dr. Amirudin Rahim, M.Hum
Editor : Albar Aryfhin

Sebar Ke >>>