Ketika Rasulullah SAW Hilang Sekejap Diantara Para Sahabat Tercintanya

oleh -0 views
Foto : Ilustrasi

Abu Hurairah berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk dalam sebuah majelis, kemudian kami mencari-cari Rasulullah saw., namun kami tidak menemukannya.”

Abu Hurairah dan para shahabat biasanya selalu bersama Rasulullah setiap sore. Namun, sore itu beliau tidak ada bersama mereka sehingga mereka mencari beliau, namun tidak menemukan beliau. Lantas, mereka berpencar mencari beliau.

Mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah, engkau mencari di kebun si fulan, Abu Bakar mencari di daerah sini, dan Umar mencari di daerah sana. Setiap orang mencari di tempat yang berbeda.”

Namun, Abu Hurairah-lah yang beruntung dalam pencarian. Dialah yang menemukan Rasulullah saw. di dalam sebuah kebun milik seorang Anshar. Dia mendatangi kebun tersebut, lalu bertanya akan keberadaan Rasululullah. Orang Anshar itu pun memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. berada di tengah kebun.

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika engkau dikejutkan dengan keberadaan Rasulullah saw. di sebuah tempat. Ini adalah peristiwa istimewa karena beliau bukanlah sekadar seorang pemimpin, melainkan penghulu para pemimpin; bukan pula seorang ulama, melainkan penghulu para ulama.

Kemudian Abu Hurairah masuk ke dalam kebun.

Abu Hurairah ialah seorang yang humoris, ramah, berasal dari Bani Zuhrah, yang tinggal di daerah pegunungan.

Abu Hurairah berkata, “Maka, aku pun bersiap-siap. Aku rapikan pakaianku, lalu aku masuk ke dalam kebun.”

Dalam riwayat lain dikatakan, “Aku berdandan bagaikan seekor serigala yang sedang bersiap-siap.”

Ketika Abu Hurairah memasuki kebun, tiba-tiba Rasulullah saw. melihatnya, lantas bertanya, “Dari mana sajakah engkau, wahai Abu Hirr (kucing)?”

Ketika Rasulullah SAW Hilang Sekejap Diantara Para Sahabat Tercintanya

Abu Hurairah berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk dalam sebuah majelis, kemudian kami mencari-cari Rasulullah saw., namun kami tidak menemukannya.”

Abu Hurairah dan para shahabat biasanya selalu bersama Rasulullah setiap sore. Namun, sore itu beliau tidak ada bersama mereka sehingga mereka mencari beliau, namun tidak menemukan beliau. Lantas, mereka berpencar mencari beliau.

Mereka berkata, “Wahai Abu Hurairah, engkau mencari di kebun si fulan, Abu Bakar mencari di daerah sini, dan Umar mencari di daerah sana. Setiap orang mencari di tempat yang berbeda.”

Namun, Abu Hurairah-lah yang beruntung dalam pencarian. Dialah yang menemukan Rasulullah saw. di dalam sebuah kebun milik seorang Anshar. Dia mendatangi kebun tersebut, lalu bertanya akan keberadaan Rasululullah. Orang Anshar itu pun memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. berada di tengah kebun.

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika engkau dikejutkan dengan keberadaan Rasulullah saw. di sebuah tempat. Ini adalah peristiwa istimewa karena beliau bukanlah sekadar seorang pemimpin, melainkan penghulu para pemimpin; bukan pula seorang ulama, melainkan penghulu para ulama.

Kemudian Abu Hurairah masuk ke dalam kebun.

Abu Hurairah ialah seorang yang humoris, ramah, berasal dari Bani Zuhrah, yang tinggal di daerah pegunungan.

Abu Hurairah berkata, “Maka, aku pun bersiap-siap. Aku rapikan pakaianku, lalu aku masuk ke dalam kebun.”


Dalam riwayat lain dikatakan, “Aku berdandan bagaikan seekor serigala yang sedang bersiap-siap.”

Ketika Abu Hurairah memasuki kebun, tiba-tiba Rasulullah saw. melihatnya, lantas bertanya, “Dari mana sajakah engkau, wahai Abu Hirr (kucing)?”

Keluarlah Abu Hurairah dengan kegembiraan yang meluap-luap dan membawa kabar gembira, karena pasti dialah yang akan menyampaikannya kepada seluruh manusia. Dia pun bersiap-siap, kemudian keluar dari kebun tersebut. Tiba-tiba di jalan dia bertemu dengan Umar.

“Allâhu Akbar,” Umar berdiri di hadapannya.

Umar bertanya, “Dari manakah engkau, wahai Abu Hurairah?”

Abu Hurairah menjawab, “Aku telah menemukan Rasulullah saw. di kebun ini. Beliau berkata kepadaku, ‘Kabarkanlah kepada orang yang engkau temui bahwa barang siapa yang bersaksi tiada tuhan (yang hak untuk disembah) selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah dengan ikhlas dari dalam hatinya, niscaya dia akan masuk surga,’ dan ini adalah sepatu beliau sebagai bukti akan kebenaran ucapanku.”

Lantas Umar mengambil sepatu tersebut dan memukulkannya ke dada Abu Hurairah.

Abu Hurairah berkata, “Karena pukulannya, sampai-sampai aku tersungkur ke belakang.”

Lalu Umar berkata, “Kembalilah kepada Rasulullah, karena aku takut dengan mendengar ucapan beliau, manusia akan ber-ittikâl (hanya bergantung pada kabar gembira tanpa mau beramal).”

Abu Hurairah pun masuk kembali ke dalam kebun dengan membawa sepatu dan langsung menemui Rasulullah, sementara Umar mengikutinya di belakang.

Seandainya bukan karena Umar, maka Abu Hurairah tidak akan kembali kepada Rasulullah. Akan tetapi, Umarlah yang telah mengeluarkan jin-jin ‘ifrit dan setan-setan dari dalam kepala sebagian manusia.

Aku tidak suka berjalan kecuali di atas jalan yang mendaki

Tidak juga kilat kecuali berasal dari arah Yaman

Abu Hurairah pun kembali sambil menangis di hadapan Rasulullah saw. Lalu beliau bertanya, “Mengapa engkau menangis?”

Abu Hurairah menjawab, “Umar telah memukulku, wahai Rasulullah.”

“Mengapakah demikian?” tanya beliau lagi.

“Dia melarangku menyampaikan sabda engkau kepada orang-orang,” jawabnya.

Tidak berapa lama, Umar pun datang dan berdiri di hadapan Rasulullah saw., lantas beliau bertanya kepadanya, “Mengapa engkau memukulnya?”

Dengan lantang Umar menjawab, “Wahai, Rasulullah. Aku takut jika dia mengabarkannya kepada manusia, mereka akan ber-ittikâl. Biarkanlah mereka beramal, wahai Rasulullah.”

Mendengar jawaban Umar, Rasulullah pun tersenyum, lalu berkata, “Biarkanlah mereka beramal.”

Rasulullah saw. menetapkan sikap Umar, karena dia seorang yang cerdas. Jika hal ini bukan termasuk dari kegeniusan, maka hal ini tidak akan terjadi.

Ada pelajaran berharga dari peristiwa tersebut. Pertama, kedudukan Rasulullah saw. di dalam hati para shahabat. Kedua, kesungguhan Abu Hurairah dalam menyampaikan hadits nabi. Ketiga, sikap Umar yang keras sehingga mendorongnya untuk mengonsultasikan masalah secara langsung kepada Rasulullah saw.

[1]. Hadits ini ditakhrij oleh Muslim dalam Kitâbul Imân, Bab Man Laqiyallâha wa Huwa Ghairu Syâkkin Fîhi, Dakhalal Jannah wa Hurima ‘Alan Nâr, No. 31, 52.

Penulis : Dhani El_Ashim
Diambil dari  Mashâri’ul ‘Usysyâq  karya  Dr. A’idh bin Abdullah Al-Qarni

Sumber : Dakwah Islam