Satgas Yonif 725/Wrg Bersama Masyarakat Senggi Populerkan Tari Tradisional Suling Tambur

oleh -5 views

Keerom – Satgas Yonif 725/Woroagi Pos Senggi yang dipimpin langsung oleh Dansatgas Yonif 725/Wrg Letkol Inf Hendry Ginting S, bersama masyarakat Kecamatan Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, mengadakan tari suling tambur.

Tari suling tambur yang diadakan Anggota Satgas Yonif 725/Wrg bersama dengan masyarakat Senggi dilaksanakan selama 3 hari, yang dimulai pada Selasa-Kamis, diantaranya melewati Kampung Warlef, Kotis Senggi Yonif 725/Wrg, Koramil Senggi, dan Kipan C Yonif 756/Wms.

Foto: Yonif 725/Wrg

“Terlihat jelas Keceriaan di wajah mereka saat melaksanakan tari suling tambur sambil mengelilingi Kec. Senggi secara bersama-sama, disamping itu juga ada dari anggota Satgas Yonif 725/Wrg mencoba untuk memainkan suling/seruling maupun tambur/beduk. Mereka seakan larut akan kebahagian dalam menyambut Tahun Baru 2019,” ujar Letkol Inf Hendry Ginting S., dalam keterangan tertulis kepada portalsultra.com, Kamis (3/1) dan ditulis Jumat (4/1/2019).

“Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya tari suling tambur keliling tersebut, merupakan salah satu cara Satgas Yonif 725/Wrg bersama-sama dengan masyarakat untuk tetap menjalin hubungan silahturahmi serta menciptakan hubungan yang harmonis antar warga. Selain itu, juga diharapkan dapat meningkatkan sinergitas dan kemanunggalan TNI dengan rakyat khususnya yang berada di wilayah perbatasan,” lanjutnya.


Foto: Yonif 725/Wrg

Tari suling tambur merupakan salah satu tari tradisional dari sekian banyak aneka ragam budaya dan tradisi yang berada di daerah Papua. Dimana tari tersebut para penarinya menggunakan Suling atau biasa juga disebut seruling dan tambur atau bisa juga disebut beduk/tifa. Hasil perpaduan kedua alat ini akan menghasilkan irama musik lagu-lagu khas yang dimainkan melalui suling.

“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memperkenalkan dan menumbuhkan kecintaan generasi penerus terhadap suling tambur dan industri kerajinan tradisional yang merupakan warisan para leluhur di tanah Papua,” pungkasnya.

Penulis: Benny Laponangi