Save Your Self, Say No To Drug

oleh -725 views

Oleh: Rosmiati

“Karena kalau milenial yang menggunakan, maka rentan penggunaan akan panjang sehingga market mereka terjaga dan mereka nggak pusing lagi,” ujar Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Heru Winarko (m.detik.com, 26/06/2019).

Ungkapan di atas adalah gambaran bahaya narkoba tatkala menjangkiti generasi muda. Di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sendiri, mengawali tahun 2020 ini, deretan angka memprihatinkan disampaikan oleh aparat kepolisian (baca: Polda Sultra). Satu diantaranya terkait jumlah kasus narkoba di sepanjang tahun 2019 yang jumlahnya mencapai 231 kasus dengan 293 tersangkah. Ironisnya, kaula muda dengan rentan usia 21-29 mendominasi (detiksultra.com, 02/01/2020). Data ini tidak jauh berbeda dengan fenomena nasional. BNPT merilis data bahwa jumlah pengguna obat terlarang di tanah air jumlahnya mencapai 3,6 juta jiwa (katadata.co.id, 05/12/2019). Dan lagi-lagi didominasi oleh kaula muda. 

Fenomena ini tentu sangat disayangkan. Mengingat mereka (baca: generasi muda) adalah ujung tombak bangsa, dan penentu baiknya peradaban dunia. Apalah jadinya, bila mereka telah rusak sejak dini, akibat mengkonsumsi barang haram ini. Tentu ini akan menjadi ancaman nyata dan serius bagi kelangsungan bangsa ke depan.  Kita akan kehabisan generasi penerus. Mengingat pengguna narkoba, tidak sedikit nasibnya berakhir tragis. Astagfirullahaladzim

Meski begitu, narkoba sejatinya buah dari penerapan sekularisme dan liberalisme yang telah lama ada di negeri ini. Di dalam sistem sekuler/kapitalis, tolak ukur perbuatan tidak berdasar pada standar halal dan haram. Karena hal yang berbau agama terlarang dibawa dalam urusan kehidupan terkecuali dalam hal ibadah semata. 

Ditambah, dengan pola pergaulan yang kian liberal (bebas) membuat interaksi dengan barang haram kian tak berpenghalang. Inilah kemudian yang menjadi pupuk bagi narkoba berkembang pesat di tanah air. Diperparah dengan kondisi hari-hari ini yang kian sulit, lapangan kerja yang minim. Mahal dan tingginya tuntutan kehidupan, membuat orang akhirnya rela berbuat curang. Bahkan tak ragu mengambil resiko besar, asal dapat memperoleh materi (baca: uang). Berbisnis narkoba (barang haram) pun jadi. Demi memenuhi perut yang lapar. Sungguh memilukan!

Maka wajar kiranya, jaringan narkoba sulit untuk diputuskan. Kondisi ini pada akhirnya bak kanker yang menggerogoti tubuh bangsa. Sewaktu-waktu akan membinasakan apa yang ada di atasnya. Termaksud, memporak-porandakan tatanan kehidupan sosial umat manusia. Mengingat narkoba amat berpotensi merusak akal. Kita pun tentu tahu,  betapa pentingnya kondisi akal yang sehat bagi setiap individu. 

Mengamati kompleksitas ini, maka kasus narkoba sejatinya persoalan sistemis. Yang mana penyelesaiannya pun berbasis sistem. Selama gaung kebebasan, sulitnya kehidupan, serta minimnya pemahaman agama di dalam diri setiap individu masih menari-nari.  Aktivitas haram ini masih akan terus diminati. 

Negara selaku pemangku kebijakan, tentu harus dan selalu hadir dalam mengupayakan pemutusan rantai obat terlarang ini. Begitu pula dengan keluarga dan masyarakat, harus turut mengambil peranananya masing-masing. Mengingat bagaimana pun jua, tanpa sinergi ketiganya, yakni individu (keluarga), masyarakat dan negara. Narkoba akan sulit dientaskan. 

Terlebih bagi para generasi. Save your self, say no to drug. Ayo perkuat keimanan sejak dini. Tanamkan dalam hati, bahwa dirimu calon pemimpin masa depan. Berinteraksi dengan barang haram (narkoba) hanya akan menghinakanmu di dunia juga di akhirat. Jadilah generasi penyongsong masa depan bangsa yang hakiki. 

Wallahu’alam bi showab