Gerakan Pemuda sebagai Garda Depan Melawan Penjajahan Mental di Era Digital 4.0

oleh -440 views

Oleh: Inda Dwi S. (Konsultan Relawan SLI, Kab. Konawe Selatan)

Pemuda memiliki peran yang penting dan strategis dalam kemajuan suatu negara. Pemuda dengan segala gagasan dan inovasinya diharapkan mampu membawa Indonesia menjadi lebih kuat dan tangguh. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya melalui pendidikan. Karena pendidikan merupakan kunci utama dalam membentuk generasi Indonesia yang cemerlang.

Pemerintah sudah mengupayakan tekait pendidikan yang merata di seluruh belahan Indonesia. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa realita yang terjadi di lapangan adalah banyaknya bangunan sekolah yang tidak layak, kekurangan guru dalam mengajar khususnya di daerah terpencil, serta kualitas pendidikan yang belum merata. Melihat realita tersebut maka harus ada langkah solutif dari berbagai pihak, sehingga tidak hanya menuntut pemerintah yang harus mengatasinya.

Sebagai pemuda memang sudah seharusnya untuk kritis dalam melihat suatu permasalahan. Hal yang menjadi koreksi tersebut sebaiknya juga dapat dilakukan oleh pemuda sebagai langkah untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia. Sehingga lebih baik bersikap proaktif daripada reaktif. Tidak baik juga apabila kita hanya mengutuk kinerja pemerintah yang belum mampu meratakan akses pendidikan di Indonesia tanpa adanya langkah kecil yang dapat meminimalisir permasalahan tersebut.

Gerakan pendidikan yang dilakukan oleh pemuda bisa menjadi alternatif solusi untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Dari yang kecil saja, buat gerakan pendidikan di lingkungan sekitar. Misalnya, gerakan literasi melalui perpustakaan desa, gerakan mengajar desa, belajar sekaligus bermain yang diadakan pemuda untuk anak-anak di desa dll. Dari hal-hal kecil tersebut ketika dilakukan secara kontinu dan menyeluruh maka akan memberikan dampak yang luar biasa bagi Indonesia. Selain pengetahuan, gerakan tersebut juga harus memberikan peneladanan karakter yang baik. Dari yang sederhana yaitu budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) juga harus dibiasakan sejak dini. Pengajaran tentang toleransi dengan sesama juga sangatlah penting. Mengingat Indonesia merupakan negara yang majemuk maka sangat banyak perbedaan yang kita temui yang terkadang bisa menyebabkan suatu perselisihan. Pendidikan seperti itulah yang perlu dibangun agar generasi muda memiliki mental yang tangguh dalam menghadapi tantangan di era saat ini.

Mencintai Indonesia juga dapat diwujudkan dengan menjaga serta merawat kekayaan yang ada di negara ini. Dari yang sederhana saja, kita harus menjaga kebersihan lingkungan. Gerakan zerowaste atau nol sampah juga dapat ditawarkan sebagai solusi alternatif untuk menjaga kebersihan lingkungan. Nol sampah artinya dengan tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang dibungkus dengan plastik. Hal tersebut karena sampah plastik tidak dapat diuraikan sehingga sampah plastik yang terkumpul bertahun-tahun tentunya dapat merusak lingkungan. Tidak hanya itu, sampah plastik yang tertelan oleh hewan baik di darat maupun air dapat menyebabkan kematian dan merusak populasi hewan tersebut. Perlu diketahui bahwa Indonesia menduduki urutan kedua yang menyumbang sampah plastik di lautan terbanyak di dunia. Hal tersebut tentunya harus mendapatkan perhatian yang serius dari semua kalangan. Harus ada gerakan sadar sampah yang dilakukan secara menyeluruh di Indonesia. Peran pemuda di sektor pendidikan bukanlah masalah pengetahuan saja, namun lebih ke perubahan mental agar generasi muda memiliki kesadaran untuk mengubah pendidikan di Indonesia. Pemuda harus memiliki kontribusi yang nyata untuk perbaikan Indonesia. Dengan gerakan-gerakan kecil dan bekelanjutan maka Indonesia akan menjadi negara yang maju dan kuat. Revolusi digital dapat dimanfaatkan secara optimal apabila generasi muda siap secara fisik maupun secara mental. Untuk itu mental dan pikiran yang perlu dibangun sejak dini. Karena tidak baik kita hanya mengutuk kekurangan, tanpa adanya tindakan konkrit untuk memperbaiki permasalahan tersebut.